Ismail itu bagi kita adalah harta atau jabatan yang akan kita korbankan kalau diperintahkan Allah.
Terasing Setelah Berdosa
Kita pergi ke Arafah itu mengenang suatu peristiwa sejarah umat manusia. Hanya sejenak, untuk merenungkan peristiwa itu. Apa artinya? Arafah itu pertemuan antara Adam dan Hawa’ — di tempat itulah mereka saling mengenal, bertemu, dan akhirnya mereka menyadari bahwa mereka itu suami-istri, sebagai nenek moyang manusia.
Di mana peristiwa itu terjadi, sebenarnya bagi Tuhan di mana pun sama saja, baik ruang maupun waktu sama saja artinya. Apa perbedaannya tempat di sini dan tempat di sana (Arafah) itu? Barat atau Timur, atau Utara dan Selatan, sama bagi Allah. Tapi kenapa Arafah ini tempat yang sangat penting dan istimewa? Bagi orang Indonesia, tanggal 17 Agustus adalah momen yang mempunyai nilai sejarah, yang di negara lain tidak pernah diperingati dan tidak ada maknanya. Oleh karena itu, Arafah punya nilai sejarah: di sana Adam dan Hawa bertemu dan diperkenalkan oleh Allah SWT tepat pada tanggal 9 Dzulhijah. Itulah sebabnya kita ingin menyaksikan tempat yang bersejarah itu. Selain tanggal 9 Dzulhijah itu tidak disebut Arafah — tapi tempat yang tandus dan tidak mempunyai arti sama sekali.
Apa sesungguhnya peristiwa bertemunya Adam dan Hawa itu? Kalau waktu kita melakukan tawaf kita mengenang jasa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, ketika mereka membangun Ka’bah, dan peristiwa kurban yang dijalani Nabi Ismail ketika beliau disembelih oleh ayahnya sendiri, Ibrahim, karena itu adalah perintah Tuhan yang tidak bisa ditinggalkan dan dikhianati oleh siapa pun, kemudian melakukan sa’i dari bukit Safa menuju bukit Marwa, mengenang jasa Siti Hajar yang mencari air untuk anaknya, Ismail, maka muncullah yang disebut air Zamzam itu, kenapa Adam dan Hawa bisa terlempar di Padang Arafah, yang pada awalnya Adam dan Hawa bersenang-senang di surga?
Kita tidak akan memperdebatkan surga Nabi Adam itu di mana, apakah di dunia lain atau di alam dunia ini. Di surga itu Allah memerintahkan Adam dan Hawa makan dan minum, dan Allah memberikan apa-apa yang disenangi. Oleh karena itu, surga Nabi Adam itu merupakan simbol dari kesenangan, dari kedamaian, dari kecukupan dan segalanya. Tetapi kemudian ada yang tidak senang, sehingga dicoba, digoda Adam itu. Adam tidak bisa digoda. Akhirnya dengan pendekatan istrinya (Hawa), rupanya Adam dan Hawa tergoda — oleh setan atau Iblis, yang kemudian diikuti.
Setelah keduanya ini berbuat salah, akhirnya mereka terusir dari surga. Bukan saja terusir, malah Adam dan Hawa terpisah. Apa makna dari semua ini? Setelah manusia itu melakukan dosa, sesungguhnya kita terasing dari diri kita sendiri. Coba kita lakukan, kita akan terasing. Akan terasing dari suami atau istri. Jangankan kita, manusia biasa, Adam dan Hawa sebagai nenek moyang manusia masih juga bisa berbuat dosa. Maka harus ada penyesalan yang sangat dalam pada diri kita.
Penyesalan itu dapat kita lakukan dengan doa kepada Allah, dengan berkata, “Ya Allah, sesungguhnya kami telah berbuat zalim atas diri kami sendiri. Jika sekiranya Engkau tidak mengampuni diri kami, sesungguhnya kami akan menjadi orang yang merugi”. Doa ini pulalah yang diucapkan Adam ketika mereka berbuat dosa (karena makan buah khuldi). Penyesalan seperti ini akan mengenali diri kita sendiri, kepada fitrah kita, kalau kita sudah lupa pada diri kita sendiri, apalagi lupa kepada Allah. Itu sebabnya, dalam ajaran sufi dikenal pepatah yang mengatakan, “Barangsiapa yang kenal kepada dirinya sendiri, maka dia akan kenal kepada Tuhannya.” Artinya, “Arafah itu (dari kata ‘arafa-ya’rifu, artinya “tahu, kenal”) adalah “kenal kepada diri sendiri”.
Padang Penyesalan dan Pertobatan
Akhirnya, setelah Adam dan Hawa menyadari dosanya itu dan menyesali apa yang mereka perbuat, mereka bertemu kembali di Arafah, dan di sanalah tempat yang disebut Jabal Rahmah. Di tempat itu Adam dan Hawa diberi kasih sayang untuk tidak berbuat kesalahan yang kedua kalinya, sehingga mereka bertobat. Oleh karena itu, Arafah adalah padang untuk menyatakan penyesalan atau pertobatan atas kesalahan yang kita lakukan, dan kenal kembali kepada Allah SWT secara hakiki untuk membina kehidupan. Di Arafah itulah kesempatan kita untuk hidup layak menurut ajaran Allah SWT (Islam), untuk bertobat, dan intinya mengenang sejarah manusia dan mengagungkan asma Allah, sebagai ajaran tauhid. Tauhid adalah mengesakan Allah dan meniadakan segala sesuatu selain Allah.
Baru setelah berada di Padang Arafah, kita berangkat menuju Mina untuk melontar Jumrah, kita menuju Mina malam harinya melewati Muzdalifah. Di Muzdalifah ini semua jamaah haji mengumpulkan batu kecil (kerikil) yang jumlahnya untuk hari pertama 7 butir, di hari kedua 21, di hari ketiga 21, dan di hari keempat 21, sehingga jumlah keseluruhan 70 butir. Kalau dia berada 3 hari di Mina dia mengumpulkan batu 47 butir atau paling kurang 7 buah ntuk melempar hari pertama. Kalau wukuf di Arafah tanggal 9 Dzulhijah, maka melempar jumrah dilakukan tanggal 10 Dzulhijah. Kemudian, setelah terbit matahari (bakda subuh), kita semua harus melempar jumrah. Yang dilempar itu hanya satu jumrah, kita lempar sebanyak 7 kali, namanya Jumrah Aqabah.
Lalu setelah itu memotong rambut (tahallul) dan setelah itu tukar pakaian menjadi pakaian seperti biasanya. Kemudian datang hari kedua, kita melempar lagi 3 jumrah. Hari ketiganya kita melempar 7 (tiga kali) dan kita kembali ke Makkah. Apa maknanya ini? Tadi sudah dijelaskan, kita meninggalkan Ka’bah, kemudian pergi ke Arafah — dan disana kita berhenti dan tidak berbuat apa-apa. Tetapi setelah tenggelam matahari, semua jiwa manusia itu bergelora, mencari senjata, tak ubahnya pasukan yang akan menuju medan perang, dan kita akan melawan benteng yang terbesar (Jumrah Aqabah) atau Jumrah al-Kubra, yang terbesar. Semua tenaga manusia berupaya untuk menghancurkan benteng yang pertama itu.
Sesungguhnya, melempar itu juga adalah simbol bahwa kita tidak suka dan tidak senang kalau perbuatan dan tingkah laku kita seperti setan dan Iblis yang terkutuk. Betapa besar perjuangan Ibrahim untuk mengorbankan putranya itu, disebabkan godaan setan itu. Karena perintah Allah dalam mimpinya itu, Ibrahim berkata kepada Ismail bahwa ia diperintahkan untuk mematuhi ajaran Allah. Tapi itu hanyalah ujian belaka. Akhirnya Allah menggantikan Ismail dengan seekor kambing (gibas), sebagai tanda pengorbanan dan perjuangan Ibrahim yang sampai-sampai mengorbankan anaknya sendiri.
Begitu pula dengan kita: pergi haji itu harus berani mengorbankan harta, jabatan, dan kekayaan, yang karena itu akan terasa kecil dibandingkan dengan anugerah Tuhan. Isma’il itu bagi kita adalah jabatan, harta dan kekayaan yang tidak dapat kita sombongkan lagi, apalagi kita hanya berpakaian putih saja.
Dengan demikian, betapapun jabatan, harta, dan kekayaan itu melimpah ruah, kita tidak akan bahagia jika berlaku sombong di hadapan Allah. Maka oleh karena itu, dengan jumrah itu sesungguhnya kita melempar dan membuang jauh-jauh kesombongan yang kita miliki di dunia, menuju keikhlasan yang didasari keimanan yang kuat. Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis: H. Zanun Kamal, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sumber: Majalah Panjimas, 6-19 Maret 2003
