Aktualita

Saladin Camp, Upaya SUMU Membebaskan Palestina

Usaha untuk menumbuhkan kepedulian bagi pembebasan Baitul Maqdis diadakan dengan melakukan Saladin Camp. Acara yang mengambil nama pahlawan pembebas Palestina yaitu Salahudin al-Ayyubi ini diadakan oleh Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) 30 April-4 Mei 2024 lalu di Yogyakarta.

Saladin Camp diikuti 40 peserta dari berbagai daerah dan profesi, juga peserta dari Malaysia dan Palestina.Serta menghadirkan pembicara utama Prof. Dr. Abdullah Al-Fattah El-Awaisi, ulama terkemuka asal Palestina.

Menurut Sekjen SUMU Ghufron Mustaqim, acara ini digelar untuk mengkaji ilmu, strategi dan peran umat Islam dalam upaya pembebasan Baitul Maqdis berdasarkan referensi Al-Qur’an, Hadits dan Sejarah Islam.

“ Umat Islam sebagai khalifah fil ardh seharusnya menyiapkan diri dengan ilmu untuk membangun peradaban dunia. Karena peradaban dunia berpusat di Baitul Maqdis, maka ilmu tentang Baitul Maqdis juga harus dikuasai oleh umat Islam, termasuk oleh para aktivis, akademisi dan pengusaha,” ujarnya.

Menurut Ghufron, para pengusaha jika tidak memiliki keterkaitan dengan pembebasaan Baitul Maqdis, ia hanya akan menjadi pengusaha kelas tiga. “ Yaitu hanya memikirkan usahanya, masa depan keluarganya, dan dunianya, tanpa mengaitkannya dengan pembebasan Baitul Maqdis,” lanjutnya.

Ghufron melanjutkan, yang membedakan pengusaha SUMU dengan yang lain adalah komitmen untuk memajukan usaha dalam rangka mengumpulkan harta yang dapat digunakan sebaik-baiknya untuk berjuang di jalan Allah.

“Kisah tragis genosida oleh Zionist  yang terjadi di Gaza dan Rafah hari ini memberikan peluang emas semua umat Islam untuk berbuat sesuatu demi pembebasan Baitu Maqdis di masa depan,” terangnya.

Dalam pandangan Ghufron, untuk membebaskan Baitul Maqdis tidak cukup hanya dilakukan satu elemen, tapi harus antar elemen, baik aktivis, akademisi, pemerintah, dan pengusaha harus bersama-sama bersinergi untuk melakukan hal ini.

“ Bagi teman-teman yang coba membesarkan usahanya, menambah karyawan, ekspansi bisnis, dan kemudian meniatkannya untuk berjuang di jalan Allah , seperti diteladankan KHA Dahlan dalam merintis Muhammadiyah, saya yakin seribu persen In Syaa Allah usahanya akan penuh berkah,” ucap Ghufron.

Ulama Palestiba, Prof. Abdullah Al-Fattah dan Sekjen SUMU Ghufron Mustaqim

Sementara itu Prof. Dr. Abdullah Al-Fattah El-Awaisi menyebutkan, perlunya penyusunan dan pemberlakuan kurikulum di lembaga-lembaga pendidikan  tentang Baitul Maqdis. “ Kurikulum pembelajaran tentang Baitul Maqdis bagi generasi penerus hingga perguruan tinggi sangat penting karena pembebasannya menjadi tanggung jawab bersama,” sebutnya.

Menurut Abdullah Al-Fattah, umat Islam sekarang sedang mengalami penjajahan oleh pola pikir Barat yang menjurus pada individualisme, cinta dunia berlebihan, fanatisme golongan  dan terpecah belah, sehingga tidak terpikirkan bagaimana secara keilmuan membebaskan Baitul Maqdis dari penjajahan zionis,” ujarnya.

Abdullah Al-Fattah melihat, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, punya potensi untuk pembebasan Baitul Maqdis. “ Namun, dari ratusan juta penduduk Indonesia, apakah ada kurikulum Al-Quds di lembaga –lembaga pendidikan Indonesia,” tanyanya, seraya menambahkan, padahal lembaga pendidikan merupakan media yang sangat strategis membebaskan akal muslim dari penjajahan intelektual.

Ia menambahkan, ketika umat Islam sepakat membebaskan Baitul Maqdis, saat ditanya tentang Baitul Maqdis banyak yang tidak tahu. “ Ini pentingnya kurikulum tentang Baitul Maqdis disosialisasikan dengan gencar di semua lapisan masyarakat. Sebab, zionis secara terus menerus menyebarkan paham informasi yang menyesatkan tentang Baitul Maqdis,” tegasnya.

Ditegaskannya, saat ini Baitul Maqdis dalam keadaan terjajah. Prioritas umat Islam saat ini tidak hanya berhenti dengan rasa emosi dan peduli, tetapi energi dan perhatian umat harus mulai diarahkan untuk memperkuat pondasi keilmuan tentang Baitul Maqdis, karena itulah yang mengantarkan kepada pembebasan Baitul Maqdis yang hakiki. 

Abdullah Al-Fatah El- Awaisi adalah doktor lulusan Universitas Exeter Inggrish. Ia telah membuka jurusan Studi Baitul Maqdis di perguruan tinggi di Turki, Malaysia, Inggris dan Afrika. Ia dikenal  sebagai Pakar Pembebasan Baitul Maqdis. Ia juga guru besar Hubungan Internasional dan merupakan Fellow dari Royal Historical Society, Inggris Raya dan Pendiri dari Study Master dan Doktoral tentang Islam Jerusalem Bayt Al-Maqdis di universitas-universitas terkemuka di Inggris, Turkye dan Malaysia. 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button