Tafsir

Tafsir Tematik: Perempuan dan Keindahan (4)

Written by Panji Masyarakat

Para mukmin yang laki-laki dan para mukmin yang perempuan, sebagiannya pelindung yang sebagian. Memerintahkan yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, serta mematuhi Allah berikut Rasul-Nya. Mereka itulah yang dirahmati Allah. Allah Mahaperkasa dan Mahabijak.

Allah memberi janji kepada para mukmin yang laki-laki dan yang perempuan dengan taman-taman yang mengalir di bawahnya bengawan-bengawan, kekal mereka di sana, dan tempat-tempat kediaman yang elok di kebun-kebun Aden, sedangkan keridhaan Allah terlebih besar. Itulah dia keberuntungan agung. (Q. 9: 71-72).

Ada “erotisme” yang dimanfaatkan Al-Qur’an. Sebagai kalam Allah yang mengkomunikasikan dirinya dalam bahasa manusia, ia mengangkut, dengan sendirinya, berbagai lambang dari wilayah sastra Arab dan mewujudkan keindahannya juga dalam cita rasa puitik para pemakai bahasa itu. Seperti bila sastra Melayu Lama menyebut kecantikan wanita dengan “bibir yang bak delima merekah, betis bak batang padi, mata bak bintang seroja, dagu bak lebah bergayut, alis bak bulan perbani, pipi bak pauh dilayang”, yang semuanya penghalusan fantasi erotis kaum laki-laki tentang perempuan, demikian pun Qur’an mengangkut lambang-lambang sastra khas maskulin dalam, yang terkenal sekali, lukisan tentang surga dengan bidadari-bidarinya. Dan hanya sebatas itu.

Tetapi itu sisi perlambang. Ayat di atas sebaliknya bicara “realistis” – atau “serius”. Di sini, dalam kedudukan “yang sebenarnya”, perempuan bukan objek, dan bukan objek pelecehan seksual maupun pornografis. Bahkan para mukmin pria dan wanita “sebagiannya pelindung yang sebagian” tidak harus berarti ketaklukan perempuan kepada laki-laki. Pengarang Ruhul Bayan menafsirkan kata-kata itu dengan “sebagiannya menolong yang lain dalam perkara agama dan dunia mereka, dan sebagiannya mencapai derajat-derajat yang tinggi oleh pendidikan dan penyucian jiwa” (Al-Burusawi, III: 463). Tidak disebutkan laki-laki maupun wanita. Adapun Qurthubi mengartikannya hanya dengan satu kalimat: “Hati mereka menyatu dalam kelembutan, cinta dan simpati” (Al-Qurthubi, VIII: 2013).

Persamaan harkat dan tugas itu diiringi persamaan nasib ukhrawi dalam ayat kedua. Berbeda dengan gaya maskulin dalam hal pelukisan wanita seperti sudah disebut, di dalam ayat itu tidak ada pernyataan tentang bidadari. Sebaliknya pria maupun wanita berhak surga yang sama dan keridhaan Allah yang sama. Juga mengenai “kebun-kebun Aden (asli: ‘adn; Bibel: Taman Eden)”, yang adalah “tempat tertentu di surga, atau surga khusus untuk para nabi, para shiddiq, para syahid dan mereka yang salih” (Qasimi, VIII: 261). Ke surga VIP ini pun wanita maupun pria masuk.

Adapun yang terpenting sehubungan dengan topik ini adalah tugas perempuan dan laki-laki yang dinyatakan persis sama: mengajak kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar, antara lain.  Harap diketahui bahwa, seperti dinyatakan Q. 3: 104, 110, amar makruf dan nahi mungkar itu adalah istilah bagi boleh dikatakan seluruh tugas sosial seorang muslim. Di sinilah bisa ditanyakan: bila perempuan hanya boleh punya fungsi domestik, bagaimana ia bisa melaksanakan tugas mulia tersebut?

Sebaliknya bisa dipahami, karena wanita juga punya tugas amar makruf nahi mungkar, merekalah, tentunya, yang lebih layak menghadang – dan mencakar – segala bentuk pelecehan kaum mereka, seperti yang dijajakan para pedagang lendir dalam bentuk gambar-gambar dan berbagai penerbitan erotik dan pornografis, yang tidak urung hanya mengimbau laki-laki ke tempat-tempat pelesir dan menyeret ke kehancuran rumah tangga dan anak-anak mereka.

Kemerdekaan adalah pilihan.

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat.  Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Panji Masyarakat, 21 Juli  1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda