Mutiara

Al-Afghani, Sang Pembangkit Kesadaran Politik Umat

Written by A.Suryana Sudrajat

Prinsip-prinsip agama yang benar dan terbebas dari berbagai bidah akan menumbuhkan kekuatan, persatuan, keserasian, dan kekompakan pada umat. Ini kata Afghani. Mengapa penganjur kebangkitan Islam ini dianggap kontroversial?

“Herankah Anda pada pendapat kami bahwa prinsip-prinsip agama yang benar dan terbebas dari berbagai bid’ah akan menumbuhkan kekuatan, persatuan, keserasian, dan kekompakan pada umat? Prinsip agama seperti ini akan juga menumbuhkan sikap lebih mementingkan kehormatan di atas kenikmatan hidup, membangkitkannya untuk memiliki keluhuran budi, meluaskan ruang lingkup pengetahuan dan mengantarkan ke puncak peradaban,” kata Jamaluddin Al-Afghani.

“Kalau Anda heran, kami lebih heran lagi atas keheranan Anda itu,” lanjtunya

Benar, ungkapan bergelora itu memang berasal dari Al-Afghani sendiri, yang sering disebut pemikir dan pejuang muslim modernis pertama dalam sejarah. Atau, pemberi aba-aba pada kebangkitan Islam pada abad ke-19. Setelah membandingkan dengan Barat, Al-Afghani melihat kaum  Muslimin dalam kegelapan, terantai kepengecutan, dan terbelenggu keputusasaan. Otak mereka sudah butek (keruh). “penyakit umat ini sudah mencapai stadium gawat, yang mendekatkannya kepada kehancuran dan mencampakkannya ke ranjang kematian. Ia akan menjadi mangsa musuh dan makanan orang yang rakus.”

Al-Afghani suka berkeliling tidak hanya di negeri-negeri Muslim. Selain Hijaz, Yaman, Mesir, Persia, Turki, Al-Afghani juga melanglang ke Perancis, Inggris, Rusia, dan Jerman. Kata Iqbal, pengembaraannya untuk memengaruhi orang-orang penting. “Beberapa ahli agama terbesar kita, seperti Muhammad Abduh dari Mesir, adalah muridnya.”

Syekh Muhammad Abduh (1845-1905) memang murid Jamaluddin yang paling terkenal, yang kemudian sangat berpengaruh di dunia Islam. Di tanah air, misalnya, gagasan pembaruannya telah menginspirasi H.A. Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Ketika di Perancis Al-Afghani dan Abduh menerbitkan Al-Urwatul Wutsqa (Tali yang Kukuh), majalah berbahasa Arab ini merupakan media untuk reformasi dan modernisasi umat (motto ini juga diadopsi oleh Buya Hamka ketika menerbitkan Panji Masyarakat). Di Perancis Jamaluddin sempat berhubungan dengan Ernest Renan, filosof yang pendapatnya suka dikutip oleh Bung Karno dan Gus Dur.

Seperti diungkapkan Iqbal, Al-Afghani tidak banyak menulis tapi rajin berbicara. Dengan cara seperti itulah ia mengubah orang-orang yang kontak dengannya menjadi seperti dirinya. Kebesaran Al-Afghani memang bukan sebagai pemikir, tetapi terutama selaku pembangkit kesadaran politik umat dalam menghadapi Barat dan bagaimana mereka harus bersikap.

Al-Afghani yang tetap membujang itu lahir [ada 1838 di Asadabad, di Afghanistan—karena itu melekatkan Al-Afghani di belakang Namanya. Namun menurut penelitian, kota itu ternyata di Iran. Karena itu, banyak orang, terutama di Iran, yang lebih suka menyebutnya Al-Asadabadi. Bersama keluarganya, Jamaluddin pindah ke kota kelahirannya dan pernah menetap di Teheran. Di sini ia belajar pada ulama Syiah kenamaan, Aqashid Shadiq. Setelah itu, ia berangkat ke Najaf di Irak, pusat perguruan Syiah yang juga pernah jadi tempat pembuangan Imam Khomeini. Di sana ia menjadi murid Murtadha Al-Anshari.

Seruannya tentang kebebasan berpikir dan sikapnya yang radikal terhadap Barat, juga telah menjadikan hidupnya berpindah-pindah. Syah Nasiruddin, penguasa Persia dari Dinasti Qajar, yang terkesan dengan Jamaluddin setelah dua kali pertemuan di Rusia dan Jerman, menawarinya jabatan perdana Menteri. Konon setelah didesak, Jamaluddin terpaksa menerimanya. Popularitasnya di kalangan intelektual Persia membuat cemas penguasa. Al-Afghani mencium gelagat itu, tetapi keburu dicegah bepergian. Kepalang basah, ia kemudian mengkritik Syah dan mengecam kekuasaannya yang represif. Jamaluddin ditangkap dan diusir dari Persia. Tetapi api kebencian yang disulutnya semakin berkobar. Api itu mencapai puncaknya pada 1895 ketika Syah terbunuh.

Bersama tiga orang lainnya yang dituduh makar, penguasa Qajar meminta pemerintah Turki Usmani menyerahkan Al-Afghani. Yang lain diserahkan, sedangkan Al-Afghani dilindungi. Hanya setelah itu Jamaluddin tidak berumur lama. Penganjur pan Islamisme ini wafat pada 9 Maret 1897 akibat kanker rahang.

Nurcholish Madjid dalam bukunya Khazanah Intelektual Islam menyebut Hamid Algar salah satu yang kritis kepada pemikir-pemikir Islam modernis seperti Al-Afghani dan Abduh. Algar adalah muslim pindahan (convert) dari Barat. Pada tahun 1980-an, Algar memimpin departemen kajian Timur Tengah di Universitas California di Berkeley. Ia dikenal sebagai seorang muslim yang saleh dan pengikut tarekat Naqsyabandiah. Menurut dia, Al-Afghani, seperti banyak kaum modernis, hakikatnya seorang penganut paham utilitirianisme. Ia melihat agama terutama sebagai institusi sosial-politik yang berfaedah untuk tujuan-tujuan sosial-politik pula, tanpa secara pribadi memercayai ajaran-ajaran dasarnya.

Menurut Algar, Al-Afghani mengidentikkan masyarakat Islam dengan agama Islam. Seperti Malkum Khan dari Iran, kawannya sewaktu tinggal di London, Al-Afghani, kata Algar, menunjukkan perhatian kepada agama dan ulama secara sama sekali palsu. Lebih jauh, Hamid Algar juga membenarkan tuduhan sementara kalangan bahwa ketika tinggal di London, Al-Afghani punya gundik Inggris, teman pergaulannya di sana.

Kecaman Algar terhadap tokoh reformasi Islam itu memang begitu menohok. Tapi, menurut Nurcholish Madjid, toh ada yang harus diperhitungkan untuk memahami Algar sehubungan dengan kecaman-kecamannya itu. Di antaranya, wawasan keagamaan pribadi Algar sendiri dan kedudukannya sebagai sarjana keislaman yang tentu saja menggunakan tinjauan keilmuan ketika melontarkan kecaman-kecamannya.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda