Cakrawala

Konsep Kemitraan Kekayaan Rohaniah dan Jasmaniah

man in white thobe holding black pen and white paper
Written by Arfendi Arif

Secara sederhana bisa didefinisikan bahwa hidup kerohanian adalah hasrat untuk memperkaya rohani, batin dan hati. Suatu orientasi hidup yang tidak hanya memuaskan kehidupan jasmani yang bersifat materi dan kebendaan.

Sejarah memang tidak bisa dipisahkan dari dua orientasi kehidupan ini. Manusia bergulat, mencari dan berjuang memperkaya   materi untuk memudahkan kehidupannya. Namun, orientasi materi dalam perjalanan hidup  perlu mitra untuk mendampinginya, yaitu orientasi  rohaniah yang membangun dan memperkaya batin setiap insani.

Suatu orientasi hidup yang hanya berorientasi materi hanya akan melahirkan perilaku yang pincang. Manusia tidak memikirkan kehidupan di luar dirinya. Yang dijadikan sentral, pusat atau fokus kehidupan  hanya diri pribadinya. Manusia dan lingkungan lain tidak diperdulikan dan diabaikan.

Manusia yang berorientasi pada  kehidupan materi akan melahirkan karakter egois, serakah dan tamak. Sumber-sumber kekayaan alam berusaha dikuasainya, tanpa memberi peluang untuk orang lain.

Corak kehidupan yang berorientasi pada materi ini bersinergi pula dengan kekuasaan, karena kekuasaan bisa menjadi alat untuk  menghimpun, menumpuk dan mendongkrak kekayaan materi. Karena itu kekuasaan, kekayaan dan kemewahan kehidupan di dunia ini tak bisa pula dibantah karena besarnya kontribusi dan dukungan power atau kekuasaan yang dimiliki. Karena itu dalam orientasi kehidupan yang tertuju pada materi biasanya berusaha pula untuk mendapatkan kekuasaan, yang wujudnya bisa pula berbentuk jabatan dan pangkat.

Refleksi dari orientasi kehidupan materi saat ini bisa dilihat pada figur-figur baik pada pejabat, pengusaha, atau pejabat yang jadi pengusaha yang kekayaannya berlimpah dan besar berbentuk ke pemilikan perusahaan, asset yang dimiliki, tanah, rumah, properti dan banyak jenis lainnya. Bahkan,saat ini muncul polemik dan kontroversi adanya dugaan oknum pejabat berbisnis alat kesehatan di tengah pandemi covid 19 yang membuat rakyat menderita.

Orientasi  hidup materi tidak akan bisa membawa kebahagiaan. Bisa dipastikan ia akan mengundang ketidaktenangan hidup. Ia akan mengundang terjadinya konflik, permusuhan, kekerasan, kejahatan sebagai akibat munculnya ketimpangan sosial dan jurang yang lebar antara yang kaya dan yang miskin.

Orientasi hidup kebendaan jika bermitra dengan orientasi hidup kerohanian maka kekayaan itu akan memiliki makna  spritual dan kemanusiaan. Kebahagiaan bukan terletak pada kapitalisasi atau penumpukan harta kekayaan, tetapi pada pemanfaatan harta itu dalam rangka berbuat kebajikan dan kemaslahatan.

Seorang yang memiliki kelebihan harta ia merasa puas dan batinnya merasa bahagia jika dengan harta itu ia bisa membantu orang lain yang sedang kesulitan. Atau dengan harta itu ia berbuat dan membangun suatu kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat atau untuk kehidupan orang banyak, baik berupa atau berbentuk ekonomi, pendidikan, sosial, keagamaan dan lainnya.

Orientasi kerohanian dalam hidup ini mendasarkan perbuatannya bukan untuk pencitraan, tetapi mencari ridha Allah, suatu keyakinan bahwa hidup manusia bukan hanya di dunia ini, tetapi ada kehidupan lain sesudah manusia mengalami kematian. Kebahagiaan hidup di akhirat terkait dengan kehidupan di dunia ini, yang jika dilakoni dengan banyak berbuat kebajikan dan beribadah kepada Allah, maka hidup yang penuh kenikmatan akan diperoleh di akhirat.

Seperti terlihat sekarang ini di kalangan elit dan lapisan masyarakat kelas atas orientasi kehidupan rohaniah sepertinya tidak populer.  Mereka yang secara ekonomi bisa disebut golongan menengah atas atau kaum the haves seperti lupa atau melupakan pentingnya orientasi kehidupan rohaniah. Mereka lebih banyak sibuk dengan jabatan nya, dan yang lain sibuk memperbesar usaha atau bisnisnya. Seolah jabatan dan kekayaan  tersebut adalah anugerah kebahagiaan yang harus dibela dan  dipertahankan untuk selamanya.  Siapa yang mengusik dan mengkritik meski untuk menunjukkan kelemahan, pasti dianggap sebagai musuh yang mengancam.

Kekuasaan, jabatan dan harta yang dimiliki jika “dimanage secara rohaniah “maka manusia akan terbebas dari perbudakan dan cinta  harta yang berlebihan. Ada ungkapan jangan menganggap harta sebagai berhala, yang maknanya adalah manusia dikuasai oleh harta dan materi. Dalam konsep ini manusia selalu menumpuk harta dan minim dengan harta itu digunakan sebagai jalan untuk berbuat kemaslahatan, amal shaleh dan kemanusiaan.

Sudah saatnya konsep manusia tentang harta dan kekayaan yang terlalu sekular, dalam arti hanya ditujukan untuk kehidupan di dunia dilengkapi dengan konsep kemitraan dengan pandangan spritual-kerohanian. Dengan konsep kombinasi dan kemitraan  ini harta memiliki makna inklusif dan tidak ekslusif. Artinya, harta  yang dimiliki mempunyai makna kemanusiaan, pemiliknya merasa berbahagia dan puas ketika ia menggunakan harta itu untuk beramal, berbuat dan membantu orang yang miskin dan butuh pertolongan.

Konsep inilah yang dalam Al-Quran bahwa orang yang beramal shaleh dinilai sangat tinggi derajatnya. Beberapa kutipan ayat Al-Quran disebutkan di bawah ini.

” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk” (al-Bayyinah ayat 8).

” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh kelak Allah Yang Maha Pemurah akan memanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang”. (Maryam ayat 96).

” Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berkorban dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah , mereka itulah orang-orang yang benar (al-Hujurat ayat 15).

“Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu untuk kebahagiaan akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagian untuk kehidupan di dunia, dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi ini. Sesungguhnya Allah tidak nenyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (al-Qhasash ayat 77).

“Sebaik-baiknya orang ialah yang lebih memberi manfaat kepada orang lain (al-hadist).

Dengan kutipan ayat dan hadist di atas cukup jelas bahwa dalam Islam setiap orang dirangsang berkarya untuk kepentingan orang banyak. Rangsangan ini dimotivasi oleh keyakinan kepada Allah yang menilai keimanan hambanya dari semangat pengorbanan atau kebaikan yang diperbuatnya.

Jadi muslim yang sempurna berdasarkan konsep Islam adalah memiliki Iman yang kuat kepada Allah serta harus dibuktikan pula dengan semangat berkorban membantu orang-orang yang membutuhkan.

Inilah mungkin konsep kemitraan kekayaan rohaniah dan jasmaniah yang penting dikombinasikan. Allahu’alam.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda