Ramadan

Ramadan sebagai Kritik Kehidupan

Di tengah wabah Covid 19 masyarakat kita tidak henti dirundung masalah. Alih-alih kita konsentrasi penuh  menghadapi problem yang menyebabkan terpuruknya perekonomian, beberapa kasus menjadi beban tambahan yang seakan kita tak menyadari dengan persoalan berat yang sudah membebani.

Ada hal yang layak  kita cermati bahwa masyarakat Indonesia yang religius  dan agamis tahun ini sedang menanti datangnya Ramadan. Sebuah bulan yang diyakini sangat agung dan membawa banyak keberkahan dan karunia Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Namun, di tengah jelang kedatangan tamu agung tersebut kita menghadapi berbagai peristiwa yang memprihatinkan, yang di antaranya sebagai berikut Kita melihat bagaimana para politisi dalam Partai Demokrat, terutama para penggagas KLB di Sumatera Utara membuat suasana menjadi gaduh untuk memperebutkan partai. Kehadiran KLB yang menyeret Ketua KSP Moeldoko  seakan tidak peduli bahwa negara dan bangsa sedang prihatin dengan masalah serius ini. Jika saja para politisi  punya sedikit kepekaan dan kepedulian alangkah baiknya masalah ini ditunda dulu menunggu kehidupan normal dan aman. Namun, rupanya godaan kekuasaan  begitu kuat  sehingga tidak mampu menahan rasa sabar menanti waktu yang tepat.

Kita memang agak sulit mengerti, dalam situasi yang semua orang dituntut sense of crisis, masih bisa terjadi peristiwa bom di Gereja Katedral Makassar, Minggu 28 Maret 2021 ini. Aksi yang diduga bom bunuh diri dan melukai 20 orang, makin meyakinkan bahwa seakan kita  tidak perduli dan abai dengan problem kongkrit yang kita hadapi, selain virus corona juga bencana alam beruntun belum lama ini terjadi. Dengan meledaknya bom di depan Gereja Katedral Makassar, dipersepsikan bahwa masalah virus corona bukanlah masalah penting. Mungkin itu dianggap sebagai soal rutinitas yang harus dihadapi negara, sedangkan apa yang tersirat dibalik ledakan bom itulah yang diisyaratkan penting untuk diperhatikan. Krisis Covid 19 yang  kita hadapi menuntut  semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat bersikap bijak dan arif. Apa yang seharusnya bakal menjadi kontroversi dan mengganggu  konsentrasi menghadapi wabah virus ini semaksimal mungkin harus dihindari.


Puasa dan Kritik Kehidupan

Ramadan saat ini memang datang dalam suasana kehidupan kita yang sedang tidak nyaman. Selain persoalan pandemi Covid 19 yang kita hadapi masalah politik, persoalan hukum, keterpurukan ekonomi adalah soal yang membuat rakyat atau publik dan juga pemerintah  terganggu konsentrasi dan  pikirannya menghadapi masalah inti, yaitu Covid 19 yang telah menelan biaya besar.

Jika Ramadan hadir dalam situasi yang kita semua tidak care dan peduli pada persoalan yang menimbulkan penderitaan, lalu masih memperturutkan ambisi dan syahwat keduniawiaan,  maka disinilah Ramadan datang sebagai sebuah kritik terhadap perilaku hidup kita.

Puasa datang dengan konsep menyadarkan manusia agar punya kemampuan mengendalikan diri. Menahan diri untuk tidak memperturutkan keinginan yang tidak baik. Tarikan dan godaan dalam hidup manusia ini sangat kuat, terutama dalam hal memenuhi hidup materiil dan kebendaan. Untuk mencapai syahwat tersebut manusia bisa melakukan dengan cara-cara yang bertentangan dengan nurani dan akhlak atau melawan hukum. Disinilah terletak vitalnya pendidikan Ramadan, mendidik manusia untuk kuat mengendalikan nafsu diri. Manusia punya self control untuk tidak larut dan lepas kendali menurutkan nafsu egonya yang bisa menimbulkan konflik dalam masyarakat.

Bangsa kita yang sedang menghadapi masalah virus corona menuntut kesadaran yang sama, persepsi yang satu menghilangkan musibah ini. Karena itu semua pihak diminta kemampuan menahan diri untuk tidak melakukan tindakan yang mengganggu konsentrasi dan fokus pemerintah menanggulangi virus menyusahkan ini.

Kedua, Ramadan menanamkan dan menumbuhkan sikap empati, kesetiakawanan sosial dan kebersamaan dalam hidup. Melalui ibadah menahan lapar dan haus serta kehidupan seksual manusia dididik untuk merasakan penderitaan orang miskin, kalangan tidak berpunya dan kaum dhuafa. Melalui  pelatihan puasa manusia akan merasakan bahwa hidup dalam berkekurangan sangat tidak menyenangkan dan kepahitan. Dari pengalaman melalui puasa menahan rasa lapar dan haus ini diharapkan lahir perilaku santun, perilaku murah hati dan dermawan untuk menolong kaum fakir miskin dan mereka yang hidup dalam kekurangan.

Virus corona telah membatasi aktifitas manusia, pekerjaan terganggu, bahkan ada perusahaan yang tutup sehingga terjadi pengangguran. Pendapatan berkurang dan bahkan tidak ada sama sekali. Demikian juga telah banyak korban berjatuhan yang meninggal karena virus corona. Melalui puasa manusia dididik untuk saling tolong menolong, meringankan beban orang yang menderita. Mereka yang susah dan terpinggirkan hidupnya. Puasa merupakan sebuah konsep yang mengkritik mereka yang tak.perduli  pada penderitaan orang lain,

Ketiga, puasa mengajarkan pentingnya silaturahim, mempererat  kasih  sayang, dari semua umur, yang tua terhadap yang muda dan sebaliknya, serta sesama umur  Masyarakat yang saling mengasihi dan menyayangi mengurangi tindak kejahatan dalam masyarakat. Sekarang ini berbagai kejahatan yang  terjadi, kriminalitas dan kekerasan dan mudahnya nyawa manusia melayang karena di antara manusia rasa cinta dan saling  menyayangi sudah hilang. Manusia mudah tersinggung, mudah melakukan penghinaan, merisak (bully),  melecehkan ,memperkusi dan lainnya. Rasa dendam mudah menyemai dalam hati manusia sehingga bagai bensin mudah terbakar. Puasa yang kita lakukan menanamkan kasih sayang itu untuk bisa hidup dengan aman dan damai serta saling mencintai dan melindungi.

Keempat, dalam Ramadan diyakini banyak keberkahan dan kerahiman-Nya. Allah hadir dan dekat dalam hidup manusia. Doa-doa dikabulkan, kesalahan diampuni, taubat manusia diterima, ganjaran dan pahala  ibadah dan amal shaleh dilipatgandakan. Ramadan adalah atmosfer dimana keyakinan manusia ditumbuhkan pada Tauhid, bahwa Allah menjadi  penolong hidup manusia. Manusia memiliki pegangan hidup dan kepastian mencapai hidup yang bahagia, kekal dan abadi, yaitu kehidupan akhirat kelak,

Ramadan menyanggah anggapan Karl Marx bahwa kehidupan manusia hanya untuk materi, memenuhi hajat perut. Demikian juga menolak pikiran Sigmund Freud bahwa hidup ini ditentukan oleh syahwat atau libido. Bagi Islam hidup itu adalah mulia untuk beribadah, beramal shaleh untuk meraih jannatul naim atau surganya Allah. Allahu ‘alam.


About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda