Adab Rasul

Adab Makan dan Minum

Adab, mengatur kehidupan. Keteraturan ini, habluminallah (hubungan vertikal manusia kepada Allah) dan habluminannas. Adab makan dan minum dalam Islam, bukan hanya untuk menilai segi hubungan antarmanusia saja, namun pula berkaitan dengan kesehatan. Rasulullah mengajarkan adab-adab itu, dan kita muslimin mengadopsi contoh-contoh itu. Sedikitnya ada sembilan poin adab bagi muslimin:

Pertama, mengonsumsi yang halal. Larangan Allah bagi umat Islam mengonsumsi sesuatu yang haram, karena itu membawa kemudharatan. Tetapi bukan hanya karena mudharat. Benar bahwa mengonsumsi daging babi dan meminum minuman beralkohol diharamkan dan membawa kemudharatan. Namun bukan (sekadar) karena mudharat. Itu soal sampingan. Yang utama, Allah melarangnya. Lebih pada tuntutan kepatuhan.

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (QS. Al-Maidah: 88)

Kedua, mencuci kedua tangan. Menjadi adab bagi setiap Muslimin membiasakan mencuci kedua tangan, sebelum dan sesudah makan. Ini sederhana, namun wajib. Jauh sebelum anjuran medis bagi setiap orang untuk mencuci tangan, Islam lebih 14 abad silam sudah mewajibkannya, apalagi pada musim pandemi Covid-19 saat ini. Hadits Nabi Muhammad SAW seperti disampaikan Aisyah radhiallahu ‘anha:

Rasulullah SAW jika beliau ingin tidur dalam keadaan junub, beliau wudhu dahulu. Dan ketika beliau ingin makan atau minum beliau mencuci kedua tangannya, baru setelah itu beliau makan atau minum. (H.R. Abu Daud)

Ketiga, berdoa sebelum makan. Muslimin wajib berdoa sebelum makan atau minum. Setelah membersihkan tangan, Allah mewajibkan berdoa sebagai wujud rasa syukur atas berkah dan nikmat berupa makanan yang diberikan Allah SWT.

Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia membaca ‘Bismillah’ (dengan menyebut nama Allah). Jika ia lupa membacanya sebelum makan maka ucapkanlah ‘Bismillaahi fii awwalihi wa aakhirihirihi. (HR. AT-Tirmidzi).

Redaksi selengkapnya doa makan:

Allahumma baariklana fiimaa razaqtanaa wa qinaa ‘adzaabannaar (Ya Allah, semoga Engkau berkenan memberi berkah (kemanfaatan) kepada kami atas apa yang Engkau anugerahkan kepada kami dan semoga Engkau berkenan menjaga kami dari siksa api neraka yang menyakitkan).

Keempat, gunakan tangan kanan.   Muhammad SAW juga menganjurkan untuk makan menggunakan tangan kanan (bagi yang mampu). HaI ini untuk tidak meniru adab setan yang kerap menggunakan tangan kiri.

Jika seseorang dari kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya. Maka setan makan dan minum dengan tangan kirinya. (HR. Muslim)

Kelima, tidak mencela makanan. Selain bersyukur atas rezeki yang Allah berikan, Rasulullah SWT menganjurkan menjaga silaturahim atas rezeki dari Allah yang terhidang di hadapan kita. Nabi SAW mencontohkan untuk tidak mencela.

Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan sama sekali. Apabila belau menyukainya, maka beliau memakannya.  Dan apabila beliau tidak suka terhadapnya, maka beliau meninggalkannya. (HR. Muslim)

Keenam, tidak mubazir. Islam melarang umatnya melakukan perbuatan sia-sia atau mubazir. Termasuk atas makanan dan minuman. Bahkan Allah melaknat orang-orang yang berlebihan dalam menggunakan sesuatu.

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang terindah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf: 31)

Ketujuh, makan dan minum sepertiga bagian. Perut bukanlah wadah yang siap diisi apa saja sesuai kemauan atau nafsu belaka. Jangan sampai kelewat batas terlebih sampai membuat diri sendiri kesakitan.

Keturunan Adam tidak dianggap menjadikan perutnya sebagai wadah yang buruk jika memenuhinya dengan beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Karena itu, apa yang harus dia lakukan adalah sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk nafas. (HR. Ahmad)

Kedelapan, segera makan hidangan yang disiapkan. Saat adzan berkumandang, dibolehkan menyantap hidangan dulu. Sebab, apabila shalat dilakukan sementara makanan telah terhidang, dikhawatirkan membuat kekhusyukan terganggu lantaran memikirkan makanan.

Jika makan malam sudah disajikan dan Iqamah shalat dikumandangkan, maka dahulukan makan malam. (HR. Bukhari)

Kesembilan, akhiri makan dan minum dengan berdoa. Kalau membuka aktivitas makan dan minum dengan berdoa, saat mengakhirinya juga dengan berdoa.

Alhamdu lillahil ladzii ath’amanaa wa saqoona wa ja’alnaa muslimin. (Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah memberikan makanan dan minuman ini serta jadikan kami sebagai orang-orang islam).

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda