Ramadan

Buya Hamka tentang Puasa (11): Pintu Langit Pun Terbuka

Written by Panji Masyarakat

Coba engkau pikirkan kembali, berapa kali kesusahanmu yang telah dilepaskan-Nya? Baru begini perasaan yang menimpa dirimu, engkau telah merengek. Bagaimana hubunganmu sebenarnya dengan Tuhan? Apakah hubungan  cintamu kepada Tuhan hanya sekadar untuk kesenangan?

Sebagai telah  dikatakan, kerap kali setelah menerima kenikmatan kebendaan dan kuduniawan, kita masih saja merasakan ada sesuatu yang kosong. Sebaliknya ada pula saat-saat kita ditimpa murung dan muram. Tertumbuk jalan, tertutup segala pintu. Tak tampak jalan ke luar. Gelap

Pernah kita terasa hanyut. Rumput kalau ada tempat berpegang, kita pegang. Pernah kita  rasanya jatuh ke lubang yang dalam dan gelap. Akar terjumbai kalau ada, walaupun rumput mau rasanya kita pergantungi.

Pintu terbuka tak ada, rumput sarut tak ada, akar berjumbai pun tak ada. Tapi akan teruskah begitu? Di waktu gelap gulita malam, tidaklah agak sebuah bintang pun bercahaya? Ada, saat gelap, sepi lingau dan muram, itu tidak akan lama. Waktu sembahyang telah tiba. Kita berwudu dan kita berdiri, takbir, rukuk, dan sujud. Sehabis sembahyang kita dapat tafakur sejenak. Kita dapat bercakap, bersahut-sahutan dengan diri sendiri. Apa yang engkau renungkan? Hai diri! Lupakah engkau bahwa engkau bertuhan? Dia selalu ada di dekatmu? Dari kandungan sampai engkau lahir, siapa yang memelihara engkau? Siapa yang menimbulkan air susu pada ibumu? Siapa yang membuatmu menangis saat saat keluar dari rahim, bersama tangis itu pula tumbuh kasih sayang ibumu padamu, siapa yang menumbuhkan kasih sayang itu?

Coba engkau pikirkan kembali, berapa kali kesusahanmu yang telah dilepaskan-Nya? Baru begini perasaan yang menimpa dirimu, engkau telah merengek. Bagaimana hubunganmu sebenarnya dengan Tuhan? Apakah hubungan  cintamu kepada Tuhan hanya sekadar untuk kesenangan?

Air mata pun menitik! Kata Nabi s.a.w., air mata seseorang bila telah menitik mengenang Tuhannya, itulah tali penghubung antara bumi dan langit.

Setelah selesai menanyai diri, memang ada rasanya yag terbuka. Dada jadi lapang, nur memenuhi kalbu, pintu langit terbuka rasanya; bukit dan kayu-kayuan di hutan turut rasanya bersujud. Dibawa tidur, tidur pun nyenyak. Tentram telah memenuhi jiwa. Saatnya itu pendek, tapi nilainya lebih dari seribu bulan.

Terasalah di waktu itu, Allah dekat sekali; Allah ada bersama kita. Kita tidak berdiri sendiri, kita tidak hanyut, kita tidak jatuh ke dalam lubang yang dalam. Dia melihat kita, Dia tersenyum penuh kasih memandangi kita, sehingga terasa bahwa kasih di antara kita dan Dia bukan lagi bagai parang yang tajam sebelah.

Mendenging-denging lagi ucapan Engku Lebay yang kita dengar waktu kecil di surau dahulu itu: “Kayu-kayuan, rumah-rumah, gunung-gunung sama sujud, air pun berhenti mengalir. Seluruh dunia diliputi oleh cahaya, lain dari cahaya pelita, lain dari cahaya bulan, lain dari cahaya matahari. Pintu langit terbuka! Ketika pintu langit itu terbuka dan orang yang dikehendaki Allah akan makbul doanya. Melihatlah dia dan tahulah dia saat itu telah datang. Para malaikat turun dari langit dikepalai malaikat Jibril.”

Dahulu kita terima sebagai sebuah dongeng yang indah. Setelah itu kita sangsi. Akhirnya percaya dengan segala kerendahan hati. Sekarang datang waktunya, Ramadan datang! Kita puasa, kita tarawih kita baca Alquran. Dan kita mengintai suasana lailatul qadr yang lebih tinggi nilainya dari seribu bulan.  Bersambung
Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 19 Januari 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda