Ramadan

Buya Hamka tentang Puasa (10): Rohani yang Dahaga

Written by Panji Masyarakat

Sekali-kali dicoba-Nya iman kita, ditimpakan-Nya kepada kita kesusahan. Tetapi apabila kita hitung-hitung dan bandingkan nikmat-Nya lebih banyak dari kesulitan dan penderitaan yang dilimpahkan-Nya.

Hadis-hadis tentang lailatul qadr seperti dalam buku Fathul Bari karangan Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani  dan di dalam kitab Nailul Authar karya Imam Syaukani, diterangkan tidak kurang dari 45 ulama meriwayatkan tentang lailatul qadr. Sejak dari malam 1 Ramadan sampai akhir Ramadan ada saja keterangan-keterangan ulama tentang waktu lailatul qadr. Tidak ada malam yang kosong. Dan Alquran sendiri mengistimewakan sepuluh malam yang akhir, malam likuran kata orang Jawa. Imam Sayuti, dikuatkan oleh Syekh Ahmad Khudari mengatakan malam itu adalah malam 17 Ramadan. Tetapai Imam Syafi’i mengatakan 27 Ramadan.

Letakanlah kitab hadis, lalu tinjau kembali hidup ini.

“Dapatkah kiranya kita menikmati lailatul qadr?”

Renungkan hidup yang dilalui alangkah banyaknya nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada hamba-Nya. Kerap kali kita menginginkan sesuatu, keinginan itu dikabulkan oleh Tuhan. Sekali-kali dicoba-Nya iman kita, ditimpakan-Nya kepada kita kesusahan. Tetapi apabila kita hitung-hitung dan bandingkan nikmat-Nya lebih banyak dari kesulitan dan penderitaan yang dilimpahkan-Nya.

Bandingkan lagi apabila nikmat datang dan sepintas lalu kita merasa puas, bila dikenang-kenangkan lagi masih ada kekosongan terasa dalam jiwa. Sesuatu dingini sebelum ada, tetapi setelah ada kita mengingini lagi yang belum ada. Dimana batasnya?

Bertambha pengalaman hidup ini bertambah pula yang dikehendaki jiwa ini. Jiwa terasa kosong bila hal itu tidak didapat. Ada pula rupanya kehausan dalam rohani. Pelepas haus itu bukanlah benda. Bukan saja diri kita, malah banyak orang di sekeliling kita merasa belum juga lepas dari dahaga rohaninya, padahal dalam hal benda banyak keinginannya telah tercapai.

Pada suatu ketika, kita bertekun memikirkan diri dan memikirkan Maha Pencipta diri. Kita menujat memanggil Dia. Tuhanku tarik tanganku, naikkan aku! Pada waktu itu kita lepaskan pengaruh yang lain, dari harta benda dari yang dicintai, lalu bulatkan ingatan kepada Yang Satu.

Apa yang terkesan? Dia tidak tampak tetapi dahaga rohani itu hilang. Kita merasa bahwa kita ada! Waktu itu saja yang kita rasakan, bahwa hakikat hidup ini lain. Hidup hakiki bukanlah semata-mata benda. Kepuasan yang mendalam adalah kepuasan roh. Itulah yang satu kali dinamai thuma’ninah dan di kali yang lain dinamai sakinah.

Setiap waktu kita anjurkan mencarinya, mencobanya. Syukur kalau kita sering mendapatkannya. Sembahyang lima waktu, ditambah dengan sembahyag nawafil (sunnah) pun adalah pintu untuk memasuki saat itu. Puasa Ramadan lebih-lebih lagi adalah pintu untuk memasuki suasana itu. Moga-moga entah di malam yang mana, memang terbukalah pintu langit bagi rohani kita.

Memutar Knop

Ibarat kita memutar kenop radio, mencari-cari satu stasiun gelombang pemancar, padahal banyak gangguan, akhirnya bertemu juga, tidak kita lepas-lepaskan lagi. Sekali bertemu, jadilah nilainya sama dengan seribu bulan. Maka untuk mendapat anugerah suasana pendek lailatul qadr, yang nilainya lebih dari seribu bulan, adalah hati yang ikhlas dihadapkan semata-mata kepaa Allah. Mulailah dahulu dengan kesadaran adanya diri sendiri, kemudian lihatlah dan renungkanlah alam sekeliling.

Di  sini ada harapan susana itu akan datang suasana yang disebut oleh ahli tasawuf: “Tidaklah aku melihat kepada sesuatu, melainkan aku lihatlah Allah sertanya.”

Bukan widhatul wujud, melainkan widhatusy syuhud. Bersambung

Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 19 Januari 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda