Adab Rasul

Teladan Bertetangga

Ditulis oleh Ahmad Lukman A.

Dalam kehidupan sosial, kita pasti memiliki tetangga. Baik itu tetangga yang muslim maupun yang bukan,  yang ahli ibadah maupun fasik, orang asing maupun penduduk asli, kerabat atau bukan, selalu melingkupi kehidupan kita. Cara terbaik menurut Rasulullah dalam bertetangga adalah dengan berbuat baik kepada mereka sesuai kemampuan. Seperti bermuka manis saat berjumpa, menanyakan keadaan, membantu ketika membutuhkan bantuan, memberi salam, atau bahkan sekadar memberi hadiah.

Bahkan Rasulullah SAW mencontohkan untuk membagi makanan yang kita punya meskipun sekadar kuahnya kepada tetangga. “Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah airnya lalu perhatikanlah (berilah) para tetanggamu,” (HR. Muslim). Di samping itu, Rasulullah juga memerintahkan kita agar tidak menyakiti tetangga. Beliau bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah tidak menyakiti tetangganya.” (H.R. Bukhari). Tentu, kata menyakiti ini bukan hanya fisik tetapi juga dalam bentuk psikologis. Di dalam hadis lain Rasulullah SAW juga menjadikan perbuatan baik terhadap tetangga sebagai standar kebaikan manusia. Seperti hadis berikut, “Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah yang paling baik terhadap temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling baik terhadap tetangganya”. (H.R. At-Tirmidzi).

Kisah menarik dicontohkan Imam Abu Hanifah, peletak dasar fikih mazhab Hanafi. Setiap bangun malam untuk shalat, ia  sering mendengar untaian bait yang berulang kali diucapkan oleh tetangganya. Lalu Abu Hanifah merasa kehilangan semalam atau dua malam, kemudian beliau menanyakan hal itu, dan ada yang menjawab, “Orang itu ditangkap oleh Sultan dan dipenjara.” Imam Hanafi pun datang untuk mengeluarkannya. Ia berkata kepada Sultan, “Dia tetanggaku. la mempunyai hak tetangga dan ia sering dirundung harapan.” Sultan bertanya, “Siapa namanya?” Abu Hanifah menjawab, “Aku tidak tahu, tapi ia seorang tukang sol sepatu.” Sultan berkata, “Bebaskan orang itu untuk Abu Hanifah, setiap orang yang terjaga pada malam hari.” Setelah mereka melepaskannya, tukang sol sepatu itu menemui Abu Hanifah dan berterima kasih kepadanya. Imam berkata, “Wahai pemuda, kami tidak mengabaikanmu.”

Kisah-kisah itu  menggambarkan bagaimana teladan Rasulullah dalam kehidupan sosial khususnya bertetangga. Seperti pepatah lama kita, saudara terdekat kita adalah tetangga kita. Sehingga sewajarnya kita harus berbuat baik kepada mereka.

Tentang Penulis

Ahmad Lukman A.

Berpengalaman menjadi wartawan sejak tahun 2000 dimulai dengan bergabung di Majalah Panji Masyarakat. Lalu, melanjutkan karir di media berbasis teknologi mobile. Lulus dari S2 Ilmu Komunikasi UI dan memiliki antusiasme pada bidang teknologi dan komunikasi.

Tinggalkan Komentar Anda