Cakrawala

Hikmah Di Balik Pageblug Corona: Membangun Rumah Allah Dalam Kalbu

Written by B.Wiwoho

Demi mengatasi wabah corona, Pemerintah Arab Saudi pada 5 Maret 2020 mengumumkan larangan ibadah umroh.  Sejalan dengan meluasnya penyebaran wabah tersebut, beberapa negara termasuk Indonesia juga menyusul melarang penyelenggaraan ibadah berjamaah di rumah-rumah peribadatan, tak terkecuali shalat wajib lima waktu, shalat Jumat dan shalat tarawih di masjid dan mushola.

Tatkala mendengar itu, ada tiga kenangan yang segera muncul diingatan saya. Pertama, Suluk Linglung karya pujangga wanita Iman Anom yang merupakan cucu R.Ng.Ranggawarsita, yang mengisahkan perjalanan batin Sunan Kalijaga dalam menempuh jalan Allah, mencari hakikat menuju makrifat. Kedua, riwayat ulama sufi Abu Yazid al-Busthami yang dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji, singgah mengunjungi seorang sufi lainnya di Bashrah. Ketiga, lagu Sajadah Panjang  yang dinyanyikan oleh grup musik Bimbo, dengan syair karya sastrawan kawakan Taufiq Ismail.

Dalam Suluk Linglung ada satu dialog antara Sunan Kalijaga dengan Nabi Khidir, yang dituangkan dalam bentuk tembang Dandanggula sebagai berikut:

Lamun sira munggah kaji, maring Mekah thuke ana apa,  hya Mekah pan tilas bae,    Nabi Ibrahim kruhun, ingkang yasa kang ponang masjid,  miwah tilase Kakbah, kang arupa watu,      gumantung tanpa canthelan, apa iku kang sedya sira bekteni, dadi mangan brahala.

Artinya:

Jika engkau hendak pergi haji,  ke Mekah apa hasilnya, bukankah Mekah itu hanya sebuah peninggalan sejarah, dari Yang Mulia Nabi Ibrahim, yang membangun masjid, bangunan yang disebut Kakbah,  yang berupa batu, tergantung tanpa gantungan, apa itu yang hendak engkau sembah,               menjadi makan berhala.

Tembang tentang ilmu hakikat ini mengajarkan jika kita pergi haji dan umroh hanya untuk secara lahiriah berkhidmat terhadap bangunan batu yang kita kenal sebagai Kakbah, maka itu tak ubahnya bagai menyembah berhala. Jika kita pergi ke Mekah tanpa menyelami makna dan hakikatnya, justru tak lebih dari sekedar berpesiar mengunjungi tempat bersejarah. Oleh sebab itu mengunjungi rumah Allah harus dengan tujuan utama membangun hubungan yang kuat antara seorang hamba dengan Tuannya, antara makhluk dengan Sang Penciptanya.

Sementara itu dialog antara Abu Yazid Al-Bustami, sufi kelahiran Iran (804 M/ 188H), sering diriwayatkan oleh para mursyid kepada salik-saliknya, guna mengajarkan bagaimana membangun istana Allah dalam hati setiap muslim.

Suatu hari, dalam perjalanan menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji, Abu Yazid al-Busthami singgah mengunjungi seorang sufi di Bashrah. Tanpa basa-basi, sufi itu menyambut kedatangannya dengan sebuah pertanyaan:
“Apa yang anda inginkan hai Abu Yazid?”.
Abu Yazid menjawab: “Aku hanya mampir sejenak, dalam perjalanan menunaikan ibadah haji ke Makah”.
“Cukupkah bekalmu untuk perjalanan ini?” tanya sang sufi.
“Cukup” jawab Abu Yazid.
“Ada berapa?” sang sufi bertanya lagi.
“200 dirham” kata Abu Yazid.

Sang sufi kemudian dengan serius menyarankan kepada  Abu Yazid: “Berikan saja uang itu kepadaku, dan bertawaflah di sekeliling hatiku sebanyak tujuh kali”.

Abu Yazid dengan patuh menyerahkan seluruh bekalnya kepada sang sufi, yang disambut dengan ucapan: “Wahai Abu Yazid, hatiku adalah rumah Allah, dan Kabah juga rumah Allah. Hanya saja perbedaan antara Kabah dan hatiku adalah, bahwasanya Allah tidak pernah memasuki Kabah semenjak didirikannya,
sedangkan Ia tidak pernah keluar dari hatiku sejak dibangun oleh-Nya”. Selanjutnya sang sufi mengembalikan uang tadi seraya berkata: “Silakan lanjutkan perjalanan muliamu menuju Kabah.”

Dua kisah di atas oleh para ulama tasawuf di Jawa tempo dulu,  dipakai untuk menanamkan pemahaman dan hakikat dari sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud sebagai berikut:

“Qalbul mukmin Baitullah (qalbu orang yang beriman itu adalah rumah Allah); tidak dapat memuat dzat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali hati hamba-Ku yang mukmin, lunak dan tenang“.

Kalbu atau hati, banyak disebut di dalam Alqur’an, dan sudah menjadi rahasia umum bahwa sifat hati manusia senantiasa bolak-balik, tiada tetap. Kadang bersih, kuat iman, bercahaya, lemah lembut, tetapi suatu saat bisa berubah menjadi kotor, lemah iman, ujub riya, buta akan kebenaran dan senang membujuk berbuat dosa – keji – berbohong serta berbagai perbuatan jahat lainnya.  Hal itu terjadi karena pengaruh malaikat dan setan.

Setan senang menggoda manusia, mereka masuk ke dalam hati yang kasar dan ada penyakit hatinya. (Muhammad: 24 – 25 dan Al Hajj : 52 – 53). Sebaliknya setan tidak mampu menggoda hati orang yang mukhlis dan mukmin, yang ikhlas hati dan kuat iman.(Shaad : 82 – 83, Al A’Araaf : 201 dan An Nahl : 99).

Maka beruntunglah orang yang senantiasa membersihkan hatinya dengan petunjuk Allah dan mengerjakan amal saleh, perbuatan yang ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ujub riya, bukan untuk menyombongkan diri dan pamer atau pencitraan kepada sesama manusia. Orang seperti itu hatinya akan suci dan senantiasa  ingat Allah, sehingga Allah pun selalu menganugerahkan taufiq dan petunjukNya. (Asy Syams : 9 dan Al A’laa : 8, 10, 14 -15). Di dalam hati orang-orang mukmin, yang senantiasa mengingat Allah dengan firmanNya itulah Allah bersemayam, bersinggasana, membangun rumahNya di hati sang hamba, sebagaimana hadis qudsi di atas.

Orang mukmin yang senantiasa ingat, berdzikir dan taat kepada Allah, menghayati apa yang disebut dalam nyanyian Bimbo sebagai sajadah panjang:

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kain yang ….
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati…… dan seterusnya.

Rasulullah Saw bersabda, “Bumi ini seluruhnya adalah masjid kecuali kuburan dan kamar mandi.” Menurut Abu Isa, dalam bab ini ada juga hadits dari Ali, Abdullah bin ‘Amru, Abu Hurairah, Jabir, Ibnu Abbas, Hudzaifah, Anas, Abu Umamah dan Abu Dzar. Mereka mengemukakan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan bersuci.”

Jabir bin Abdullah meriwayatkan,  Kanjeng Nabi juga bersabda: “Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada orang sebelumku; aku ditolong melawan musuhku dengan ketakutan mereka sejauh satu bulan perjalanan, dijadikan bumi untukku sebagai tempat sujud dan suci. Maka di mana saja salah seorang dari umatku mendapati waktu shalat hendaklah ia shalat; dihalalkan untukku harta rampasan perang yang tidak pernah dihalalkan untuk orang sebelumku, aku diberikan (hak) syafa’at, dan para Nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.” (HR. Bukhari).

Demikianlah, setiap jengkal bumi adalah masjid. Setiap jengkal tanah adalah sajadah yang tergelar untuk tempat kita bersujud. Sajadah ini ada di mana-mana, tergelar panjang dan lebar tak terhingga. Tergelar di bangunan tempat ibadah berjamaah yang kita kenal sebagai masjid, yang secara bahasa berarti tempat bersujud; tergelar di kantor kita, di sekolahan, di mall, di stasion, di kebun dan tentu saja juga di rumah kita dan lain-lain.

Sahabatku, dari pageblug Corona ini, marilah kita petik hikmahnya dengan membangun istana, singgasana dan rumah Allah di hati kita. Seraya itu pula marilah kita ajak seluruh anggota keluarga kita, untuk senantiasa  “shalat daim” atau mengingat Allah secara terus-menerus tiada putus, mengingatnya dalam situasi dan selagi apapun, tentu juga shalat berjamaah, bersujud bersama, berdoa dan memohon agar rumah kita dijadikan baiti jannati, rumahku sorgaku. Allahumma amin.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda