Tasawuf

Cinta

Orang sering kecelik ketika membahas tasawuf. Contoh kecil saja, untuk mempermudah bahasan mereka memilah tasawuf jadi dua aliran besar: tasawuf cinta dan tasawuf falsafi. Celakanya, Ibn ‘Arabi, tokoh yang dianggap sebagai embahnya tasawuf falsafi, justru menempatkan cinta di maqam tertinggi.

Dan, seperti ketika membahas tasawuf, orang juga tampaknya sering kecelik ketika membahas cinta. Ini seperti ketika menyangka bahwa daun berwarna hijau, padahal hijau adalah sekedar cerapan mata kita atas apa yang dipantulkan daun saat ditimpa cahaya; sementara mahluk lain bisa jadi mencerapnya secara berbeda.

Maka begitu jugalah awalnya ketika orang kaget mendengar para sufi dengan ringan menggunakan metafora Majnun dan Laila untuk menggambarkan hubungan cinta manusia dengan Allah. Pertama, karena hubungan Allah dengan manusia dianggap semata hubungan Tuan dengan hambaNya; sehingga dalam peradaban manapun akan dianggap tak tahu diri dan kurang ajarlah bila ada budak yang berani menyatakan cinta pada tuannya. Kedua, karena hubungan cinta lelaki-perempuan diandaikan selalu menyertakan semua hal yang bersifat rendah dan tak suci; sehingga tak layak rasanya mengaitkannya dengan Allah Yang Maha Suci.

Tapi oleh Allah, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam malah diperintah untuk mengatakan “Bila kau cinta Allah, ikutilah aku.” Jadi sumber semuanya haruslah selalu cinta. Ya’kub kehilangan penglihatan sejak Yusuf direnggut darinya; Rumi jadi pemurung sejak Syamsi Tabriz dijauhkan darinya. Ya’kub mencintai Yusuf, karena baginya Yusuf adalah penampakkan jamaliyyahNya. Rumi mencintai Syamsi Tabriz karena baginya Syamsi Tabriz adalah cermin untuk terbang kepadaNya.

Kepada seorang pemuda yang ingin mengikuti thariqahnya, seorang syaikh sufi besar bertanya: “Apakah engkau pernah jatuh cinta?” Ketika sang pemuda menjawab bahwa dia belum pernah jatuh cinta, maka sang syaikh berkata: “Pergilah! Kelak bila kau telah pernah merasakan jatuh cinta, barulah kau boleh datang kemari!”

Cinta selalu diibaratkan dengan anggur. Memabukkan. Dan pemabuk yang paling jago adalah mereka yang tetap ‘sadar’ seperti sediakala meski telah meminum berbotol-botol anggur. Mereka yang ngoceh tak karuan atau bertindak yang aneh-aneh setelah minum satu atau dua sloki anggur, selalu dianggap sebagai para pemula yang tak berpengalaman; pemabuk amatiran.

Dalam cinta ini, cemburu tak berhak ada, karena cemburu hanya boleh muncul dari pemilik, sementara pemilik semua yang ada hanya Dia dan Dia tak berhak dicemburui atas apapun. Jadi kalau kita mengikuti Rasulullah karena cinta, maka tak akan ada cemburu pada siapapun, termasuk pada mereka yang tak mengikutinya. Begitulah seharusnya.

Bagi cinta, tak ada kebahagiaan kecuali bersama yang dicinta; dan tak ada kesedihan kecuali jauh darinya. Semanis apa pun pemberian dalam penilaiannya, kalau ia tak disertai senyum keridhaan kekasih; akan terasa pahit dan hanya membuatnya tersiksa. Sebaliknya, sepahit apa pun pemberian dalam penilaiannya; bila diiringi senyum kekasih, akan terasa manis dan membuatnya bahagia.

Dan Allah, pernahkah Allah memberikan yang buruk dan mencelakakan pada hamba-hambaNya? Pasti tidak. Kita hamba-hambaNya yang terlalu mengandalkan subyektivitasnya sendirilah yang hampir selalu menyalah-pahaminya. Cinta kita bukan atau belumlah cinta, karena masih menyertakan tuntutan di dalamnya. Tuntutan yang lahir dari subyektivitas; yang diam-diam hampir selalu menganggap diri lebih tahu segalanya dibanding Dia.

Kita ukur semua dari apa yang diberikan. Suka ria saat pemberiannya menyenangkan nafsu, dan tak habis berkeluh kesah saat nafsu tersakiti. Bila cinta yang tumbuh, pemberian tak akan dipedulikan, karena hanya wajah pemberi saja yang dipandang.

Korona? Apakah kau memandangNya atau kau hanya memandang nafsu sendiri?

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda