Tafsir

Jalan yang Penuh Anugerah (Bagian 1)

Written by Panji Masyarakat

Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim, ghairil magdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliin

Siapakah yang dimaksudkan dengan “mereka yang Kauberi anugerah”, dalam ayat di atas? Menurut Ar-Rabi’ ibn Annas r.a., mereka itu para nabi. Menurut Mujahid, juga Ibn ‘Abbas  r.a. seperti dituturkan Ibn Juraij, mereka orang-orang mukmin. Menurut Waki’, mereka orang-orang muslim. Menurut Abdurrahman ibn Zaid ibn Aslam, mereka adalah Nabi s.a.w. dan orang-orang yang bersama beliau.

Alquran sendiri menyebutkan dalam surah An-Nisa,  “Barangsiapa yang patuh kepada Allah dan Rasul maka mereka itu bersama orang-orang yang beroleh anugerah Allah: para nabi, para shiddiqin (orang-orang yang benar dan jujur), para syuhada, dan para salihin (orang-orang salih)” (Q.4:69). Tetapi Ibn Katsir, mufasir kita, memandang pengertian dari Ibn ‘Abbas seperti diriwayatkan Ad-Dhahhak berikut ini  “lebih umum dan lebih meliputi”. Yakni, menurut sepupu Nabi itu, “jalan mereka yang Kauberi anugerah” adalah “jalan mereka yang Kauberi kurnia ketaatan kepada-Mu dan penyembahan kepada-Mu: para malaikat-Mu, para nabi-Mu, para shiddiqin, para syuhada, dan para salihin.

Ada masalah qiraat (cara baca) dalam bagian ayat ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladhdhallin di atas. Jumhur ulama membaca kata pertama itu seperti umumnya kita membaca, dengan jarr (kasrah, bunyi   ) menjadi ghairil maghdhubi. Itu berdasarkan  kedudukan kata-kata itu (“bukan mereka yang kena murka”) sebagai na’t (sifat) dari “jalan” (shirath) yang terse but terdahulu. Tapi menurut Zamakhsyari  dalam tafsirnya, Al-Kasysyaf, kata itu juga bisa dibaca dengan nashab (fathah, bunyi  a), menjadi ghairal maghdhubi, dalam kedudukannya sebagai hal, keadaan dan itulah bacaan Al-Khaththab r.a. (Ibn Katsir, Tafsirul Quranil ‘Azhim,  I:28).

Akan hal ‘alaihim, dalam ghairil maghdhubi ‘alaihim, kata ini punya sepuluh bentuk ucapan. Yang enam kita warisi dari imam Ilmu Qiraat: ‘alaihum, ‘alaihim, ‘alaihimii, ‘alaihimuu, ‘alaihumuu, dan ‘alaihumu. Sedangkan yang empat lagi dipindahkan dari logat Arab tanpa penuturan dari para qari’, yakni: ‘alaihumii, alaihumi, ‘alaihimu, dan ‘alaihimi. (Abu ‘Abdillah al-Qurthubi, Al-Jami’ li-Ahkamil Quran, I:148).

Sementara itu ‘Umar ibn Al-Khaththab r.a., dalam riwayat Waki’ dan lain-lain, membaca: Shiraatha man an’amta ‘alaihim, ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa ghairadh dhaalliin. Abu ‘Ubaid dan ‘Abd ibn Humaid juga meriwayatkan bahwa ‘Abdullah ibn Zubair melakukan hal yang sama. Juga ‘Ikrimah dan Al-Aswad, menurut Ibn Abi Dawud. (Muhammad as-Syaukani, Fathul Qadir, Al-Jami’ baina Fannair Riwayah wad-Dirayah min ‘Ilmit Tafsir, I:24:25).

Pengertian keseluruhan kalimat itu kemudian menurut Ibn Katsir:  “Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan mereka yang Kauberi anugerah, yang gambaran dan sifat-sifatnya telah tersebut terdahulu, yakni para pemegang hidayah, istiqamah (konsistensi) dan ketaatan… bukannya jalan mereka yang kena murka, yakni mereka yang rusak kemauannya, yang tahu kebenaran tetapi menyimpang, bahkan pula jalan mereka yang sesat, yakni orang-orang yang kehilangan ilmu, lalu kebingungan di dalam kesesatan, tidak mendapat petunjuk ke arah kebenaran”  Bersambung…….

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat;Sumber: Panjimas, 26 Desember 2002- 08 Januari 2003

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda