Mutiara

Dari Pesantren untuk Keraton

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kiai Ageng Besari,  pendiri Pesantren Tegalsari di Ponorogo, Jawa Timur, menyelamatkan Paku Buwono II yang kehilangan tahta, menyusul Perang Cina. Sang Kiai pun mampu mengubah wajah Ponorogo yang kelam.

Kiai Ageng Muhammad Besari adalah pendiri Pesantren Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur pada abad ke-18. Ia lahir sekitar tahun 1700-an dari pasangan Kiai Anom Besari dan Nyai Anom Caruban (Cirebon). Bersama adiknya, Nur Sodiq, ia nyantri di Pesantren Setono, di sebuah desa perdikan selatan Ponorogo, di bawah asuhan Kiai Donopuro, yang berasal dari keluarga Sunan Tembayat, penyebar Islam pertama di daerah Klaten, Jawa Tengah. Empat tahun kemudian dia nyantri dan diambil menantu oleh Kiai Nur Salim di Mantub, Ngasinan, Ponorogo.

Atas perintah gurunya yaitu Kiai Donopuro, Muhammad Besari membuka hutan untuk tempat bermukim di sebuah daerah yang kemudian dikenal dengan nama Tegalsari, sebelah timur Setono. Berdirinya pesantren kemudian memunculkan sebuah permukiman baru, lalu menjadi sebuah desa. Pesantren baru ini awalnya memakai nama Pesantren Gebang Tinatar, namun masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Pesantren Tegalsari.

Setelah Kiai Donopuro wafat, Pesantren Tegalsari menjadi terkenal dan lebih diminati anak-anak santri dari berbagai daerah. Bahkan para santri Pondok Setono pun ikut boyong ke Pesantren Tegalsari. Anak-anak bangsawan pun (terutama dari kalangan Keraton Surakarta) tidak ketinggalan ikut nyantri di pesantren ini yang jaraknya sekitar tujuh kilometer dari ibukota Kabupaten Ponorogo.Pesantren Tegalsari memang punya sejarah emas dalam kehidupan Keraton Surakarta.

Syahdan, pada tahun 1742 terjadi Perang Cina. Setelah merebut markas VOC di Semarang, para prajurit gabungan orang-orang Cina dan orang-orang Jawa berhasil menguasai Keraton Kartasura (sebelum pindah ke Surakarta) yang waktu itu dianggap pro Kompeni. Sang raja, Sunan Paku Buwono II (bertahta 1726-1749), pun terusir. Dalam pelarian ke arah timur di daerah Magetan hingga Ponorogo, sang raja bersua dengan pesantren yang terletak di kaki Gunung Wilis ini. Ketika tidak ada satu pihak pun yang mau membantu, Paku Buwono II lalu minta tolong kepada Kiai Muhammad Besari untuk mengembalikan tahtanya ke Kartasura. Setelah permohonannya itu terkabulkan, ia kemudian mewakafkan tanah miliknya di Tegalsari kepada Muhammad Besari. Tanah wakaf ini dikenal di Jawa dengan sebutan tanah perdikan. Artinya, tanah itu dibebaskan dari beban pajak dan kerja bakti untuk raja secara turun-temurun. Dan segenap penghasilan yang diperoleh dari tanah ini menjadi hak orang-orang yang menempati dan menggarap tanah tersebut. Ini kemudian memungkinkan pesantren berkembang luas dan berpengaruh hingga seratus tahun lebih.

Di pesantrennya Kiai Muhammad Besari mengajar Alquran, ilmu tajwid dan berbagai kitab yang lazim kita temukan dalam pesantren di Indonesia. Di antaranya Al-Muharrar, Fathul-Wahhab dan Fathul-Mu’in (kitab fikih), serta Al-Jauhar ats-Tsamin li Umm al-Barahin dan Jauharatut-Tauhid (kitabb tauhid). .

Pada 1760 Kiai Muhammad Besari mendirikan masjid yang kemudian dikenal dengan Masjid Tegalsari dalam kompleks pesantren. Masjid ini dibangunn dalam model Jawa lama beratap tajug tumpang tiga. Di sisi barat masjid terdapat makam keluarga besar Kiai Ageng Besari. Pada setiap bulan puasa sampai sekarang, terutama pada sepuluh hari terakhir, masjid ini selalu ramai oleh para jamaah yang beribadah, i’tikaf dan ziarah. Keadaan ini kontras dengan suasana sebuah pesantren besar, yang kini tinggal berupa madrasah tsanawiyah dan aliyah dengan bangunan sederhana.

Konon, Kiai Ageng Muhammad Besari terkenal pula sebagai ulama yang sakti. Dengan pendekatan dakwah bilhal, dengan empati dan manusiawi, dia mampu mengubah wajah Ponorogo yang hitam menjadi daerah yang taat beragama. Para warok “Reog Ponorogo” mudah ditaklukkan untuk mengikuti jalan kiai. Bahkan seorang santri favoritnya, Bagus Harun, diajarkan ilmu-ilmu bela diri dan kanuragan. Sehingga bisa ikut terjun berperang membantu Pakubuwono II memperoleh tahtanya kembali di Kartasura dari tangan pasukan Cina-Jawa.

Pada tahun 1773 Kiai Muhammad Besari wafat dan dimakamkan di samping Masjid Tegalsari. Dari pernikahannya dengan putri Kyai Noer Salim, dia dikaruniai putra-putri: Nyai Abdurrahman, Kyai Yakub, Kyai Ismangil, Nyai Buchari, Kyai Iskak Coper, Kyai Cholifah, Kyai Ilyas, Nyai Banjarsari, dan Kyai Zainal Abidin. Yang terakhir ini menjadi menantu Raja Selangor Malaysia, lalu menjadi Sultan Selangor. Dan keturunannya masih bertahta hingga kini. Putra dia, Kyai Ilyas (wafat 1800), kemudian dipercaya melanjutkan kepemimpinan pesantren. Di masa kepemimpinan Kyai Ilyas, status tanah perdikan Desa Tegalsari diperkuat dan bahkan diperluas oleh Raja Surakarta. Setelah itu kepemimpinan dilanjutkan oleh cucu dia, Kiai Haji Hasan Besari di abad ke-19, yang membawa Pesantren Tegalsari di era keemasan.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda