Tafsir

Doa dan Tujuan-tujuan Keilahian (Bagian 2)

Written by Panji Masyarakat

Doa yang paling mulia adalah doa  petunjuk. Surga makrifat lebih baik dari surga kenikmatan: Allah mengunci Fatihah dengan “Tunjukilah kami shirtal mustaqim, bukan “Berilah kami jannatan na’im.

Ummul Quran itu nama kembaran untuk Ummul Kitab. Mengenai nama pertama itu, semua pendapat oke. Tetapi, tentang ummul kitab, meski yang dimaksudkan dengan ‘kitab’ di situ tak lain Quran (Q. 2:2, 89, 101, 151, 177, 231, 3:3, dan lain-lain), tidak semua ulama setuju. Mayoritas (jumhur) memang membolehkannya. Tapi Al-Hasan berkata, “Ummul kitab itu halal-haram.”  Ia membaca: “Dialah yang menurunkan kepadamu Al-Kitab, daripadanya ayat-ayat muhkamat, merekalah induk Al-Kitab (ummul kitab), sedangkan yang lain mutasyabihat”. (Q.3:7)

Berkata pula Anas dan Ibn Sirin, “Ummul Kitab itu nama  Lauh Mahfuzh.” Firman Allah, “Allah menghapus yang Dia hendaki dan menetapkan. Di sisi-Nya Ummul Kitab.” (Q.13:39) (Qurthubi, op. cit.:111). Padahal, sebenarnya ada sabda Nabi dalam Turmudzi, yang dia sahihkan, bersumber pada Abu Hurairah r.a.: “Al-hamdu lillahi rabbil’alamin itu induk Alquran (Ummul Quran), induk Al-Kitab (Ummul Kitab), Tujuh yang Diulang-ulang (As-Sab’ul Matsani) dan Quran yang Agung (Al-Quranul ‘Azhim).” (Ibn Katsir, op.cit:8). Tambahan lagi, tidak ada dalam penamaan Fatihah dengan Ummul Kitab itu sesuatu yang menghalangi penamaan yang sama untuk subjek yang berbeda (justru karena al-kitab punya lebih dari satu arti; pen.)

Seperti itu juga penamaaan Fatihah dengan Al-Matsani. Firman lain: “Allah menurunkan pembicaraan yang paling bagus berupa kitab yang serupa (mutasyaabihan) dan yang berulang-ulang (matsaania), gemetar karenanya kulit mereka yang gentar kepada Tuhan mereka…” (Q. 39:23). Di sini Al-Matsani adalah seluruh Quran — karena beritanya yang berulang-ulang. (Al-Qur’an dan Terjemahnya, hlm. 39: yang berulang-ulang  adalah “hukum-hukum, pelajaran dan kisah-kisah “ –nya, tetapi bagi sebagian musafir pembacaanya sendiri).

Juga, surah-surah yang masuk golongan As-Sab’uth Thual (Tujuh yang Panjang) disebut Al-Matsani, karena berbagai fardu dan kisah-kisah diulang-ulang di situ. Berkata Ibn ‘Abbas, “Rasulullah dikaruniai Tujuh Al-MatsaniAs-Sab’uth Thual (Tujuh yang Panjang)” (riwayat Nasa’i). Yang dimaksudkan adalah surah-surah Al-Baqarah, Alu’Imran, An-Nisa; Al-Maidah, Al-An’am, dan Al-A’raf. Itu baru enam. Surah ketujuh dipertengkarkan. Sebagian menyebut Yunus. Yang lain: Al-Anfal, dan At-Taubah — sebagai pendapat Mujahid dan Sa’id ibn Jubair r.a. Satu bait dari A’sya Hamdan:

Maka masukilah masjid dan serulah tuhan kalian

Pelajarilah Al-Matsani dan tujuh yang panjang

Matsaanii adalah, dalam satu arti, kata jamak dari matsnaa, yakni ”yang datang setelah yang pertama”.  Sedangkan thual jamak athwal (yang lebih panjang). Al-Anfal (75 ayat) disebut al-matsani karena ia mengiringi thual dalam volume. Pendapat lain: dialah yang jumlah ayatnya lebih banyak dari ayat al-mufashshal (suraH pendek, mis. di juz ke-30) dan terlalu sedikit disbanding mi’un, yakni surah yang jumlah ayatnya di atas 100. (Qurthubi, op. cit.: 114).

Nama ke-13: Su’al (Su-aal, Permintaan). Firman Allah dalam satu hadis qudsi disampaikan Rasulullah s.a.w.: “Barangsiapa yang zikirnya kepada-Ku begitu menyibukanya dari meminta kepda-Ku, Aku beri dia yang lebih utama dari yang Aku berikan kepada mereka yang meminta.” Ibrahim a.s., demikian Razi, sudah melaksanakan itu ketika beliau berkata :

Yang menciptakan aku, maka Dialah menunjuki aku

Yang memberiku makan, Dia, dan memberiku minum

Kalau aku sakit, Dia menyembuhkanku

Yang mematikan aku lalu menghidupkanku

Yang begitu aku dambakan untuk mengampuniku dari dosa-dosaku di hari pembalasan

Rabbi, berikan kepadaku hukum, dan gabungkan aku dengan mereka yang salih (Q.26: 78-83)

Ushul, Furu’ & Mukasyafah

Al-Fatihah ini pun, permulaannya berupa pujian kepada Dia Subhanahu Wata’ala. Yakni, dari Firman-Nya Alhamdu lillahi rabbil’aalamiin sampai ke Maaliki yaumid diin. Kemudian ‘ubudiyah, peribadatan, dalam firman Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin. Ditutup dengan permintaan hidayah: Ihdinash shiraathal mustaqiim. Yang ini menunjukkan bahwa permohonan yang paling sempurna adalah mengenai petunjuk dalam masalah agama. Juga menunjukkan bahwa surga makrifat lebih baik dari surga kenikmatan, karena Allah mengunci firman di sini dengan ihdina (tunjukilah kami) dan bukan urzuqnal jannah (berilah kami surga ; tentunya, untuk mencapai persamaan bunyi, bisa saja Urzuqnaa jannatan na’iim; pen)

Nama ke-14: surah Syukur. Karena ia merupakan penghargaan kepada Allah untuk segala keutamaan, kedermawanan dan kebajikan. Adapun nama kelima belas : Du’aa’ (Doa). Karena ia mengandung Ihdinash shiraathal mustaqiim. (Razi, op. cit.: 182,183 ). Atau, malahan, kata Maulvi Muhammad Ali, keseluruhan surah itu sebenarnya merupakan doa kepada Tuhan Mahaagung. Juga karena, sebagai sama-sama doa, Al-Fatihah tidak hanya termasuk lebih hebat dibanding doa yang termuat dalam kitab suci lain-lainnya. Tapi juga di antara segala doa dalam Al-Qur’an sendiri, doa yang dikandung Surah Fatihah terhitung yang paling unggul. (Djajasugita dan Mufti Sharif, Quran Suci Jarwa Jawi dalah Tafsiripun, 1:1-2)

Syahdan. Hudzaifah ibn Al-Yaman, r.a., menyampaikan sabda Rasulullah,  “Ada satu kaum,” kata beliau, “yang pasti di bangkitkan di sana oleh Allah suatu azab, tetapi seorang bocah mereka membaca, di maktab (tempat pengajaran), Alhamdu lillahi rabbil alamin (Surah Fatihah) dan membuat Allah mendengar. Oleh sebab itu Allah mengangkat azab dari mereka selama 40 tahun.” Itu di samping kelebihan Fatihah dari jenis yang “praktis”. Abu Sa’id Al-Khudri r.a., misalnya,  mengantarkan sabda Nabi s.a.w. mengenai bahwa “Fatihah adalah obat penawar racun”.

Adapun Al-Husain  (ibn ’Ali) r.a. berkata, “Allah Ta’ala menurunkan 104 kitab dari langit. Lalu menitipkan ilmu yang 100 itu dalam yang empat: Taurat, Injil, Zabur,  dan Furqan (Al-Qur’an). Kemudian menitipkan ilmu yang empat itu dalam Al-Furqan. Lalu menitipkan ilmu-ilmu Al-Furqan dalam Al-Mufashshal (surah-surah pendek). Selanjutnya menitipkan seluruh ilmu dalam Mufashshal ke dalam Fatihah. Maka barangsiapa tahu tafsir Fatihah, ia seperti tahu tafsir seluruh kitab Allah yang diturunkan. Dan siapa yang membacanya seperti membaca Taurat, Injil, Zabur dan Furqan.”

Itu juga bukan kata-kata Nabi s.a.w., melainkan cucu beliau. Adapun sebab penghargaan yang demikian tinggi kepada Fatihah ialah karena yang dimaksudkan oleh seluruh kitab ilahiat adalah ilmu-ilmu ushul (dasar), furu’ (cabang ranting) dan mukasyafah (“pembukaan tabir”). Sedangkan surah ini mengandung kata-kata  sempurna mengenai ilmu yang tiga ini. Maka, ketika tuntunan-tuntunan yang luhur dan agung tersebut terpenuhi di dalamnya, tak ayal lagi ia menjadi seperti mengantung seluruh tujuan keilaihan. (Razi, op.cit.:184). Wallahu a’lam.***    

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sumber: Panji Masyarakat, 22 Desember 1999

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda