Tasawuf

Wirid Hidayat Jati : Adonan Tasawuf, Martabat Tujuh dan Kejawen

Written by B.Wiwoho

Keluhuran peradaban Jawa yang bernafaskan Islam tentu tidak terwujud dalam sekejap, tidak terjadi seketika dan langsung sempurna. Perlu waktu dan ada juga kekurangan-kekurangan yang harus disempurnakan sambil jalan, yang disebabkan antara lain oleh dua hal.

Pertama, sikap kehati-hatian sehingga proses dakwah berlangsung menyusup halus, menggeser setapak demi setapak dan membungkus selapis demi selapis. Kedua, budaya dan media tulis apalagi cetak belum berkembang seperti sekarang, sehingga materi dakwah banyak yang dibawa serta diungkapkan secara lisan dan dikenal sebagai budaya tutur.  Materi dakwah pada umumnya disampaikan dari mulut ke mulut secara berantai dan turun-temurun, dengan akibat bisa berkurang atau bertambah dari aslinya.

Kedua hal itu membuka peluang timbulnya multitafsir terutama pada masalah-masalah yang dianggap masih kurang lengkap oleh masyarakat Jawa yang sudah berperadaban cukup tinggi, yang pada saat itu sudah memiliki pengetahuan tentang kepercayaan dan agama lain khususnya Syiwa-Buddha. Materi ajaran yang banyak mengundang munculnya aneka penafsiran antara lain adalah yang bersinggungan dengan kehidupan spiritual dan meditasi, masalah ruh, ketuhanan dan hakikat hidup, kebetulan semua itu ada di dalam Serat Wirid Hidayat Jati karya R.Ng.Ronggowarsito, terutama mulai dari Wejangan Kedua sampai dengan Kedelapan.

Aneka tafsir, metode gothak-gathik-gathuk ala Jawa dan spekulasi yang bersifat kebatinan, mistik, spiritual bahkan klenik juga menimpa sejumlah ajaran yang penulis sebut dengan serat dan suluk. Uniknya, tafsir mistis dan klenik sesuai syahwat politik partisan, berkembang pula di zaman milenia sekarang ini, yang tidak jarang pengutipannya menyimpang dari teks asli.

Di dalam Wirid Hidayat Jati, uraian dan anatomi tentang ruh dan Tuhan serta hubungan rahasia antara Tuhan dan hamba-Nya, berbalut dengan ajaran Martabat Tujuh dan Wahdatul Wujud atau Manunggaling Kawulo-Gusti. Akan tetapi, dalam dunia tasawuf, pemahaman mengenai Manunggaling Kawulo-Gusti itu pun bisa berbeda satu sama lain.  Bahkan sejumlah ulama menganggap Wahdatul Wujud sebagai ajaran sesat dan kafir.

Oleh karena itu supaya kita tidak tersesat dalam menafsirkan suluk dan serat-serat dakwah, penulis senantiasa mengingatkan agar berpegang teguh pada Al Qur’an dan hadis. Anatomi dan rincian tentang ruh dan Tuhan misalkan, Al Qur’an dan hadis telah menjelaskan serta memberikan batasan-batasan, mengapa kita harus memerincinya keluar dari batasan-batasan tersebut? Dan apa gunanya setelah memerinci? Berdebat dan merasa paling tahu?

Di dalam  Wirid Hidayat Jati, Wejangan Kedua sudah mulai menggambarkan rincian ciptaan manusia yang mengikuti ajaran Martabat Tujuh Ibnu Arabi yang dimulai dari Pohon Keyakinan Sajaratulyakin, Nur Muhammad sampai Dinding Kijab. Ajaran Martabat Tujuh diulang kembali dalam Wejangan Keenam, dengan menggambarkan alam akadiat (ahadiyat) alam wahdat, alam wakidiyat, alam arwah, alam mitsal, alam ajsam dan insan kamil.

Faham Manunggaling Kawulo-Gusti yang menyatakan segala wujud pada dasarnya adalah dari satu, yaitu Allah Ta’ala, bersumber dari Abu Abdullah Husain bin Mansur yang kemudian lebih dikenal sebagai Al Hallaj, lahir tahun 858, tapi ada versi 866, dan wafat tahun 922 M. 

Menurut Al Hallaj, Allah adalah hakikat alam, termasuk makhluk. Alam beserta manusia merupakan aspek lahir dari suatu hakikat batin yang tunggal, yaitu Tuhan Seru Sekalian Alam. Karena itu Tuhan bersabda, mendengar, melihat dan berbuat  dengan meminjam tubuh dan anggota badan manusia. Tuhan terhisap dan immanent dalam diri manusia. Lahir batin Allah telah berada pada manusia (Dr.Simuh dalam Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita, UI-Press 1988, halaman 293).

Al Hallaj yang di Jawa digambarkan sebagai Syeh Siti Jenar, mengilhami Ibu Arabi yang lahir di Spanyol tahun 1165 dan wafat 1240, yang mengembangkan ajaran Wahdatul Wujud menjadi Martabat Tujuh. Dalam Fusus al-Hikam yang ditulis pada tahun1229 M, Ibnu Arabi mengajarkan Pantheisme, yakni seluruh kosmos adalah Tuhan,  terjadinya alam semesta dan keinsankamilan

Faham Wahdatul Wujud dan Martabat Tujuh itu selanjutnya menyebar ke Gujarat – India yang oleh Muhammad Ibnu Fadhillah (hidup  di awal abad ke 17), dituangkan ke dalam kitab Al-Tuhfah al Mursalah ila Ruhin-Nabi, sebagai sarana  penelaahan  tentang hubungan manusia dengan Tuhannya. Pada hematnya, Allah yang bersifat gaib bisa dikenal sesudah bertajjali, menampakkan dalam wajah batin, melalui tujuh martabat atau tingkatan, sehingga tercipta alam semesta dengan segenap isinya.

Pada hemat penulis, konsep ajaran martabat tujuh mengenai penciptaan alam semesta melalui tajjali Tuhan sebanyak tujuh tingkatan tidak  secara langsung bersumber dari Al Qur’an dan hadis, melainkan sebagai ikhtiar dan buah pikir manusia. Bisa saja orang berpendapat apakah bukan tidak mungkin itu bersumber dari ayat-ayat mutasyabihat yaitu ayat yang samar-samar? Atau mungkin juga ayat-ayat kauniyah, yaitu ayat atau petunjuk Gusti Allah melalui tanda-tanda alam dan kehidupan di sekitar kita? Ya silahkan saja yang berpendapat seperti itu. Namun Islam sebagaimana juga Wejangan Pertama Wirid Hidayat Jati telah mengajarkan proses dan hubungan Tuhan dengan makhluknya secara tegas sebagai Allah Yang Mahahidup  Dengan Sendiri-Nya, lagi Mahasuci.

Dari anak benua India, faham Martabat Tujuh dari Al-Tuhfah tadi masuk ke Samudera Pasai dan selanjutnya ke Jawa, sehingga menjelang akhir abad ke 17 di Tegal sudah ada gubahan Serat Tuhfah dalam bahasa Jawa, yang dinamakan Kitab Topah (versi bahasa Jawa latin, diterbitkan oleh Penerbit “Soemodidjojo Mahadewa”, Yogyakarta 1957. Subhanallah walhamdulillah. (Wirid Hidayat Jati : 2 dari 14, dalam Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • 23-april-19972-1024x566
  • tabloid-panjimasyarakat
  • hamka