Mutiara

Di antara Para Pendosa

Written by A.Suryana Sudrajat

Untuk kita para pendusta, pemakan riba, dan yang suka mencampuri amal salih dengan amal buruk. Tentang mimpi Rasulullah s.a.w.

“Adakah di antara kalian yang bermimpi?”

Demikian Rasulullah s.a.w. sering bertanya kepada para Sahabat. Lalu, mereka, demikian Samurah Ibn Jundab, mnceritakannya kepada Nabi. Seperti sore itu, ketika Nabi bercerita kepada Samurah dkk. Tentang dua orang utusan yang menemuinya tadi malam.

“Mereka berkata kepadaku,” kata Nabi. “Teruskan!”

Rasulullah pun pergi bersama kedua orang tersebut. Mereka melewati seorang laki-laki yang tertidur miring. Tiba-tiba ada orang lain berdiri di dekatnya, membawa batu besar, lalu menimpakannya kepada laki-laki itu. Baik kepala maupun batu itu pecah berantakan. Orang itu lalu mengumpulkan pecahan batu, sementara kepala yang dihantamnya tadi sudah kembali utuh. Dihajar lagi, begitu seterusnya.

“Subhanallah!, siapa kedua orang itu tuan-tuan?” tanya Nabi.

“Lanjutkan-lanjutkan!”

Mereka pun meninggalkan tempat itu. Dalam perjalanan, mereka menjumpai seorang laki-laki yang tidur telentang, dan di sebelahnya  ada seorang membawa batang besi yang ujungnya bengkok. Lelaki itu kemudian menghantamkan besinya ke bagian sebelah mukanya, mencabik-cabik mulut, mata, dan hidungnya hidungnya hingga ke tengkuk. Ia kmudian beralih ke bagian wajah lainnya dan melakukan hal serupa. Belum selesai dengan sisi wajah satunya, sisi lain sudah membaik. Diulang lagi seperti semula…

“Siapa kedua orang itu?” Kembali Rasulullah bertanya.

“Lanjutkan! Lanjutkan!”

Mereka pun meneruskan perjalanan, sampai melewati sesuatu yang mirip tungku. Terdengar orang-orang menjerit. Dan ketika ditengok ternyata para lelaki dan perempuan sama telanjang. Ketika bagian bawah mereka dijilat api, suasana pun gaduh.

“Siapa mereka?”

“Lanjutkan! Lanjutkan!”, jawab kedua orang itu.

Pergi lagi. Mereka melewati sebatang sungai berwarna darah. Seorang laki-laki tampak sedang berenang,  sedangkan di pinggir sudah menunggu seorang yang membawa bebatuan. Ketika menepi, orang itu membukakan mulutnya seraya memasukkan batu-batu itu. Begitu selanjutnya.

Ketika Nabi bertanya siapa mereka, lagi-lagi jawabannya: “Teruskan! Teruskan!”

Sampai mereka melewati seorang lelaki yang rupanya sangat menjijikan. “Ya, seperti orang yang paling menjijikan yang pernah kamu lihat,” kata Rasulullah. Orang itu terus mengobar-obarkan api.

Tidak juga diperoleh keterangan siapa orang itu, karena lag-lagi jawabannya itu melulu. “Maka kami pun pergi lagi. Dan tiba di sebuah kebun yang terang benderang. Cahaya musim semi menyinari kebun itu. Di sana ada seorang laki-laki yang bukan main tingginya. Saking tingginya, nyaris aku tidak bisa melihat kepalanya. Di sekitarnya banyak sekali anak-anak bermain, yang jumlahnya belum prnah aku lihat.”

Kembali Rasulullah bertanya, dan kembali pula orang jawabannya: “Teruskan! Teruskan!” Rupanya belum sampai pada akhir perjalanan, sementara waktu mungkin sangat terbatas untuk wawancara. Sampai di sebuah bangunan raksasa, Rasul pun diminta menaikinya. Mereka akhirnya tiba di sebuah kota yang bangunanya terbuat dari bata emas dan perak. Pintu gerbang kota dibuka. Fantastis. “Kami melewati beberapa orang yang separo tubuhnya elok, seelok yang pernah kauihat, dan separonya lagi buruk, seburuk yang pernah kaullihat.”

Kedua pemandu yang pelit itu kemudian menyuruh mereka nyebur ke sungai, yang airnya bukan main jernih. Byuur! Dan ketika mereka mentas: rupa mereka sudah tidak seperti kata orang di awal Reformasi dua dasawarsa lalu  “golkar hitam dan golkar putih”, melainkan menjadi seelok-eloknya.

Tanpa ditanya kedua orang menjelaskan, “Inilah taman Aden, dan inilah tempat tinggalmu.” Dan ketika Rasul menerawang ke atas, ternyata ada sebuah istana seperti awan putih.

“Itu juga tempat tinggalmu,” kata mereka.

“Semoga Allah meemberkahimu. Biarkan aku memasukinya,” ujar Nabi.

“Husy! Belum sekarang. Toh nanti kamu akan memasuklinya juga”

“Sejak malam ini aku mengalami berbagi keajaiban. Lalu apa makna semuanya itu?”

“Baiklah, sekarang kami akan memberi keterangan. Orang pertama yang kaulewati, yang kepalanya dijatuhi batu besar itu, adalah orang yang membaca Quran dan menolak isinya, serta tidur dan ketinggalan meninggalkan salat wajib. Orang yang mulutnya dicabik-cabik, hidungnya hingga tengkuknya, matanya hingga tengkuknya, adalah orang yang keluar dari rumahnya pada sore hai, lalu berbuat dusta hingga dustanya menyebar sampai angkasa.”

Selanjutnya, kedua orang itu mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan bugil yang berteriak di tungku api adalah pezina. Orang yang berenang dan mulutnya di-jejelin batu adalah pemakan riba. Sedangkan si buruk rupa, tak lain adalah penjaga neraka jahannam.

Orang yang sangaat tinggi di taman itu?  “Dia adalah Ibrahim, dan anak-anak di sekitarnya adalah anak kecil yang meninggal berdasarkan fitrah.”

“Rasulullah, bagaimana dengan anak orang-orang musyrik?” tanya sebagian hadirin

“Begitu pula anak orang-orang musyrik.”

“Bagaimana dengan yang separo-paro itu, Rasulullah?”

“Nah, orang yang separo tubuhnya elok dan separonya lagi buruk itu adalah orang-orang yang mencampuri amal salh dengan amal buruk, namun Allah mengampuni dosa-dosa mereka.”

Di manakah kita, di antara orang-orang yang pernah dilihat rasulullah dalam mimpinya itu?   

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • Hamka
  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768