Inilah kisah dari Negeri Seribu Satu Malam. Tersebut lah seorang tukang perahu di bantaran sungai Efrat, Ia biasa menyeberangkan orang, binatang, tumbuhan, ataupun benda lain dari tepi yang satu ke tepi yang lain. Sungai ini ramai dikunjungi orang dari berbagai tingkat sosial, profesi, golongan, atau kepentingan. Dari subuh hingga isya, sungai merupakan bau keringat maupun semarak parfum. Yang di sini minta dikirimi korma, yang di sana minta dikirimi onta. Semua tukang perahu laris manis. Koceknya gendut oleh gemerincing dinar maupun real.
Dari sekian tukang perahu, ada seorang yang agak lain. Orangnya tua dan pemabuk. Menenggak arak seperti minum air. Ia membuat peraturan yang semua penumpangnya harus mematuhi, yakni minum arak. Jika ada penumpang yang menolak, niscaya diceburkannya ke dalam sungai.
Melihat kelakuan tukang perahu ini, orang-orang menasihatinya supaya ia memegang, teguh hukum agama, minuman yang memabukkan jelas haram hukumnya. Namun, tak satu pun nasihat yang mempan menusuk jantungnya. Bahkan, ia mengayun-ayunkan botol araknya sambil terkekeh, “Kalian orang-orang bodoh yang tak tahu nikmatnya arak.”
Begitulah. Cerita dan berita bergulir ke seantero kerajaan sampai masuk ke telinga Baginda. Raja jadi penasaran dan ingin membuktikannya.
Dengan ditemani perdana menteri, namun tanpa pengawal, Baginda langsung nongkrong di perahu pemabuk yang tersohor itu. Dengan sikap tak acuh terhadap para penumpangnya, tukang perahu ini mulai mendayung perahu menuju ke seberang, Sesampai di tengah sungai, orang tua ini mulai beraksi, mengeluarkan botol araknya. Satu per satu para penumpangnya menenggak sloki demi sloki arak yang disodorkannya. Siapa pun yang menolak, ia persilakan untuk terjun ke sungai yang lebar, dalam, dan dingin. Sesampainya di seberang, para penumpang turun sambil membayar ongkos.
“Tahukah kamu. Aku adalah raja dan orang ini adalah perdana menteriku,” ujar Raja kepada tukang perahu itu. “Kalian baru naik perahuku sekali saja sudah mengaku-aku sebagai raja dan perdana menteri,” jawab tukang perahu. “Jika nanti kalian naik yang kedua kalinya, pasti kalian mengaku sebagai Tuhan dan nabi-Nya.”
Pelajaran politik yang bisa kita ambil dari humor sufi yang masyhur itu—barangkali kita melihatnya dari sudut ini ketika politik begitu digemari dewasa ini—adalah bahwa kita setiap saat bisa dipojokkan. Kita menjadi tidak bisa berkutik meski kita—katakanlah—punya kekuasaan yang besar untuk melawan pemojokan tersebut. Ketika kita mengatakan kebenaran, kita malah ditertawakan. Pada suatu saat, kita benar-benar berada di daerah tak bertuan, ketika kita kalah total, kecuali kita mengorbankan cita-cita.
Pertanyaannya, mampukah kita mengorbankan diri kita karena todongan hal-hal yang sepele itu meski prinsip tergolek di sana?
Jangan-jangan si tukang perahu adalah lambang sejarah. Lika-liku jalan sejarah tidak linier. Seorang yang sangat berkuasa dan kejam yang memerintah selama puluhan tahun, bisa runtuh hanya dalam beberapa detik tanpa pertumpahan darah. Sejarah punya cara sendiri untuk melakukan perubahan. Sejarah sepertinya wakil Tuhan di bumi. Ia menuliskan apa-apa yang di maui Tuhan. Jadi, maka jadilah. Manusia itu dungu, kata Tuhan. Tapi di sinilah barang tentu daya tariknya. Memonopoli dan merasa paling juara dalam pembangunan, – yang mengira bisa menguasai manusia lain, ternyata di situlah sumber bencana. Apa yang sedang kita selidiki dengan cermat, ternyata berbalik: kita menjadi bulan-bulanan objek kita sendiri.
Pada suatu waktu, tempat, dan kepentingan, hukum dengan mudah dimainkan. Kita juga menyerah tak bisa melakukan pembelaan. Situasinya sebenarnya sangat gampang, tetapi sangat sulit. Bagi si tukang perahu tidak penting amat apakah para penumpangnya mabuk beneran atau cuma main-main, ketika di antaranya berkata bahwa dirinya adalah raja atau perdana menteri. Kita, sebagai penumpang perahunya, juga penuh kepura-puraan. Dengan alasan perahu yang lain penuh, kita menumpang perahu si pemabuk karena setan telah menyelinap dalam benak kita untuk mencoba merasakan nikmatnya barang haram.

Penulis: Danarto (1941-2018), sastrawan, kolumnis dan perupa
Sumber: Panji Masyarakat, No. 14 Tahun II, 22 Juli 1998.

