Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) H. Try Sutrisno, wafat pada hari Senin, 2 Maret 2026 bertepatan dengan 12 Ramadan 1447 H, pukul 06.58 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, dalam usia 90 tahun. Prosesi pemakaman dilaksanakan secara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto selaku inspektur upacara, sebelumnya dishalatkan di Masjid Agung Sunda Kelapa.
Try Sutrisno mengisi tempat terhormat dalam sejarah Indonesia pasca-reformasi sebagai sesepuh TNI penerima tongkat estafet regenerasi dari Angkatan ‘45, tokoh nasional dan pemimpin bangsa yang dihormati. Perjalanan karier dan pengabdiannya mengikuti garis takdir Allah Yang Maha Kuasa dari prajurit menjadi pemimpin bangsa. Ia prajurit pertama yang bukan berasal dari kesatuan infantri, melainkan dari kesatuan zeni, yang meraih karier cemerlang menjadi Panglima Daerah Militer, KSAD, Panglima ABRI (kini Panglima TNI) dan bahkan menjadi Wakil Presiden.
Pengabdiannya yang lurus dan tulus demi kepentingan bangsa dan negara berada di atas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan. Try Sutrisno mempunyai prinsip yang ditanamkan kepada putra-putrinya yang mengikuti jejak sebagai tentara bahwa pangkat itu datang pada waktunya, bukan karena dikejar. Ia tidak suka sikap ambisius dan mencari jalan pintas dalam meraih sesuatu.
Mengutip penuturan putra-putrinya dalam buku Spesial 90 Tahun Try Sutrisno: Filosofi Parenting: Rahasia Pola Asuh Sang Jenderal Agar Anak dan Orang Tua Bahagia Bersama (Adyaksa Dault dkk, 2025) bahwa kamu bisa saja bertemu orang berpangkat jenderal, tapi hatinya kopral, atau sebaliknya, anak buahmu pangkatnya kopral, tapi hatinya jenderal.
Dalam buku G.P.H. Djatikusumo Prajurit-Pejuang Dari Kraton Surakarta (Solichin Salam, 1993), Try Sutrisno diminta menulis testimoni mengenang Djatikusumo. Testimoni yang dibuat sepertinya juga menjadi gambaran tempaan jatidiri yang dihayati Try Sutrisno sendiri sebagai yunior tentang prajurit pejuang Sapta Marga, yakni teguh dan konsisten pada cita-cita perjuangan, setia pada bangsa dan negara, menaruh perhatian yang besar kepada kehidupan rakyat, memiliki daya antisipasi dan responsi yang tinggi, cerdas dan kreatif tetapi rendah hati serta sederhana dalam sikap dan perilakunya.
Try Sutrisno lahir di Surabaya 15 November 1935 dari keluarga sederhana dengan profesi ayahnya sopir mobil ambulans pada Dinas Kesehatan Kotapraja Surabaya. Sejak lahir hingga remaja, ia mengalami zaman penjajahan Belanda dan penindasan tentara Jepang serta mengalami hebatnya Perang Kemerdekaan. “Saya benci penjajahan, baik Belanda maupun Jepang, keduanya membuat rakyat kita sengsara,” ungkapnya. Ia menjalani pengungsian semasa revolusi fisik di tahun-tahun awal kemerdekaan sebagai pesuruh di markas tentara di wilayah Jawa Timur.
Seusai revolusi fisik, setelah menamatkan sekolah menengah, ia mendaftar menjadi calon taruna melalui seleksi masuk Akademi Zeni Angkatan Darat di Bandung yang kemudian menjadi Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD). Try Sutrisno dinyatakan lulus susulan berkat apresiasi dari Jenderal TNI G.P.H. Djatikusumo, KSAD pertama, selaku Direktur Zeni AD, yang sekilas mengamati profil Try Sutrisno dan menilai pemuda ini memiliki potensi menjadi orang besar, meski sama sekali tidak kenal sebelumnya.
Sebuah cerita yang sarat nilai human interest sewaktuTry Sutrisno mendapat penugasan pertama sebagai taruna Akademi Zeni AD untuk “praktik lapangan” ilmu tempurnya ke wilayah Sumatera Barat di masa pergolakan PRRI tahun 1958 – 1959. Pada waktu masuk kota Solok, sempat ditanya dan dicurigai oleh penduduk setempat, apa tujuan kedatangannya? Try Sutrisno dengan tenang menjawab, “Saya mencari saudara-saudara saya yang hilang,” maksudnya tentara yang bergabung dengan PRRI. Jawaban itu ditimpali, “Kalau mau mencari saudara kenapa mesti bawa senjata?” Try Sutrisno menjawab lagi secara diplomatis, “Kami ini kan tentara, tentu saja ke mana-mana harus bawa senjata.” Bagi Try Sutrisno, meski dalam situasi operasi militer, pendekatan dialog dan kemanusiaan tetap bisa digunakan daripada tindakan kekerasan yang menimbulkan korban.
Try Sutrisno menyaksikan fase penting sejarah politik Indonesia, mulai dari masa Demokrasi Liberal, Demokrasi Terpimpin era Orde Lama, Demokrasi Pancasila masa Orde Baru, hingga gerakan Reformasi tahun 1998. Pada awal Orde Baru tahun 1966, ia belum memiliki peran yang menonjol. Tetapi dinamika politik masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru turut membentuk cara pandang dan sikap kenegarawanannya sebagai bagian dari generasi muda calon pimpinan TNI Angkatan Darat di masanya.
Dalam artikel Moerdiono pada buku 70 Tahun Try Sutrisno: Pengabdian Tiada Akhir (Carmelia Sukmawati, 2005) disebut Try Sutrisno mulai menjadi pusat perhatian media massa sewaktu memaparkan makalah pada Seminar TNI Angkatan Darat III tahun 1972 di Seskoad Bandung. Peristiwa itu merupakan awal dari tanda-tanda regenerasi kepemimpinan Angkatan Darat dari generasi pembebas ke generasi penerus. Ia saat itu berpangkat Mayor CZI ditugaskan menyampaikan pokok-pokok pikiran selaku generasi muda TNI-AD berjudul “Masalah Pewarisan Dalam TNI-AD dan Hubungannya dengan Integrasi ABRI – Rakyat”. Menurut cerita yang beredar, Presiden Soeharto hadir saat itu dan terkesan dengan pemaparan Try Sutrisno yang saat itu bertugas di Mabes AD.

Sepanjang kariernya di lingkungan militer, Try Sutrisno menjabat sebagai Komandan Peleton, Wadan dan Danyon di beberapa kota/kebupatan di Sumatera dan Jawa. Penugasan di SUAD (Staf Umum Angkatan Darat) Mabes AD di Jakarta, membawanya memperoleh kepercayaan sebagai ajudan Presiden Soeharto sejak tahun 1974. Ia kenal dengan Soeharto sejak tahun 1961 ketika Operasi Pembebasan Irian Barat.
Penugasan sebagai ADC atau ajudan presiden bukan sekadar tugas protokoler, tetapi menuntut kemampuan dalam koordinasi, administrasi kenegaraan, serta pendalaman sistem komunikasi presiden. Setiap ajudan presiden harus bisa berpikir dan bertindak cepat, serta menyiapkan segala sesuatu dengan tepat dan cermat.
Dalam buku Pak Harto: The Untold Stories (Siti Hardianti Rukmana, 2011) diungkapkan oleh Try Sutrisno, pelajaran yang didapat sebagai ajudan presiden bahwa Pak Harto sebagai pemimpin selalu memperhatikan keadaan bawahannya bahkan sampai pada hal-hal yang kecil. Pak Harto selalu dapat bersikap tenang namun penuh perhitungan. Semua keputusan Pak Harto, baik menyangkut masalah besar maupun kecil, selalu didasarkan pada pertimbangan rasional, akal sehat, hati nurani dan nilai-nilai keagamaan.
Setelah empat tahun bertugas sebagai ajudan presiden, Try Sutrisno dipromosikan menjadi Kepala Staf Daerah Militer (Kasdam) XVI/Udayana di Bali, Panglima Daerah Militer (Pangdam) IV/Sriwijaya di Palembang, dan Pangdam V/Jaya di Ibu Kota Jakarta. Pada tahun 1985 dilantik menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) mendampingi KSAD Jenderal TNI Rudini. Selanjutnya, menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) periode 1986–1988. Terhitung sejak April 1987, ia meraih kenaikan pangkat menjadi jenderal bintang empat.
Tahun 1988 Jenderal TNI Try Sutrisno dilantik menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, menjabat sampai 1993, menggantikan Jenderal TNI L.B. Moerdani. Dalam masa ketegangan politik Orde Baru dengan kelompok-kelompok kritis yang memperjuangkan demokrasi, di mana antara lain terjadi peristiwa Tanjung Priok, Try Sutrisno memainkan peran sebagai jembatan antara ABRI dan umat Islam, mirip Jenderal A.H. Nasution di masa Orde Lama, dalam konteks dan substansi yang berbeda.
Dalam Sidang Umum MPR-RI tahun 1993, Try Sutrisno yang diusung oleh Fraksi ABRI terpilih sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia periode tahun 1993 – 1998, menggantikan Soedharmono, S.H. Tetapi Menjelang pelaksanaan Sidang Umum MPR-RI tahun 1998, kendati ada aspirasi yang menghendaki Try Sutrisno bersedia dicalonkan lagi menjadi Wakil Presiden, namun dengan gamblang tokoh yang tidak haus jabatan itu menyatakan tidak bersedia dicalonkan kembali menjadi Wakil Presiden untuk periode 1998 – 2003. Kepada pers ia menyatakan ingin meneruskan tradisi positif dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Adam Malik, Umar Wirahadikusumah, sampai kepada Sudharmono, semua satu periode.
Setelah 5 tahun mengemban amanah sebagai Wakil Presiden mendampingi Presiden Soeharto, yang merupakan puncak pengabdiannya kepada bangsa dan negara, Try Sutrisno mengakhiri jabatannya dan digantikan oleh Prof. Dr. Iing B.J. Habibie. Kurang lebih dua bulan kemudian gerakan reformasi 1998 bergulir hingga jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto (Orde Baru) setelah 32 tahun memimpin Indonesia.
Menurut kesaksian kolega, sahabat, dan orang-orang yang mengenalnya, Try Sutrisno dikenal sebagai pribadi yang gemar bersilaturahmi, santun, ramah, dan penuh kasih sayang tanpa terpengaruh oleh perbedaan pandangan politik. Ia juga dikenal rajin menghadiri berbagai pertemuan dan menjaga hubungan baik dengan banyak kalangan. Try Sutrisno biasa menghadiri pemakaman rekan-rekannya yang wafat. Ia juga kerap memenuhi undangan seminar, termasuk berbagai acara peluncuran buku tokoh yang mengharapkan kehadirannya.
Sebagaimana diungkapkan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu dalam buku Pengabdian Tiada Akhir, sikap Try Sutrisno terhadap orang lain tidak pernah menjelek-jelekkan ataupun membicarakan kekurangan pihak lain. Ia selalu berusaha melihat sisi positif seseorang dan memperlakukan orang lain dengan baik. Nasihat yang selalu diingat oleh mantan KSAD dan menantunya itu adalah, “Kalau ada orang berbuat jahat kepada kita dan kita membalasnya dengan kejahatan, berarti kita sama jahatnya dengan orang tersebut. Padahal, Allah pasti membalas perbuatannya.”
Kehidupan keluarga dan pendidikan putra-putrinya berlandaskan nilai-nilai agama, kesederhanaan, disiplin, menghargai orang kecil, dan keseimbangan hidup serta menjauhi perilaku aji mumpung. Pesannya kepada putra-putrinya sebagaimana dirangkum dalam buku Filosofi Parenting berdasarkan penuturan tujuh anaknya kepada Adhyaksa Dault dan tim, antara lain, “Jangan mengambil yang bukan hakmu, karena yang bukan jatahmu tak akan pernah jadi milikmu.” dan “Jangan berpegang pada sesuatu yang tidak kekal. Pangkat dan jabatan akan hilang. Yang abadi hanyalah amal dan nama baik.”
Dalam wawancara podcast yang beredar di Youtube, Try Sutrisno menceritakan meski menjadi orang nomor satu di puncak kepemimpinan TNI, namun dia bukanlah pejabat yang memiliki banyak uang. Rumah kediamannya di Jalan Purwakarta No 6, Menteng, Jakarta Pusat, dimiliki dengan cara mencicil selama 15 tahun. Asal usulnya rumah dari Angkatan Darat, sesuai aturan bisa dimiliki oleh pejabat yang telah menempati dalam jangka waktu tertentu dengan cara membeli kepada negara agar bisa ditempati menjadi kediaman pribadi. Itulah rumah terakhir Try Sutrisno yang sejak mengawali karier sebagai tentara tahun 1959 hingga pensiun pada 1998 tercatat 17 kali pindah rumah dinas.
Prinsip-prinsip Sapta Marga sebagai prajurit TNI tidak pernah ia khianati sejengkal pun. Hingga akhir hayatnya, ia masih aktif sebagai Wakil Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Ia mengingatkan bahwa Pancasila yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 harus menjadi fondasi sekaligus benteng pertahanan dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan. Bangsa Indonesia perlu membangun Ketahanan Nasional dan Kewaspadaan Nasional yang kokoh dan terarah agar mampu menjawab serta menyaring berbagai pengaruh yang datang.
Sebagai purnawirawan, Try Sutrisno pernah menjadi Ketua Umum Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) dan Ketua Badan Pertimbangan Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD). Tokoh yang setia memegang prinsip-prinsip perjuangan itu sampai saat terakhir bersama kawan-kawannya yang secita-cita ingin tetap mempertahankan kemurnian Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena itu ia bergabung dengan Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya yang menyuarakan untuk mengembalikan Undang-Undang Dasar 1945 Asli untuk selanjutnya disempurnakan dengan cara adendum. Bersama kawan-kawan seperjuangannya juga peduli dengan masalah sosial antara lain membentuk tim gabungan dengan yayasan yang menangani bencana Tsunami Aceh.
Try Sutrisno merupakan salah satu pendiri Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Dewan Pembina Masjid Agung Sunda Kelapa dan Masjid Cut Meutia Jakarta. Sekitar akhir 2003 sampai 2007, Try Sutrisno bersama K.H. Ali Yafie, Surjadi Soedirdja, Ahmad Mubarok dan Bambang Wiwoho menggalang kegiatan yang dinamakan Badan Pesantren Kepemimpinan Amanah, tanpa organisasi resmi, tapi cukup bekerjasama dengan organisasi lain. Badan Pesantren Kepemimpinan Amanah menyelenggarakan berbagai kegiatan antara lain: pengajian yang dikaitkan dengan Hari-Hari Besar Islam, Siyahah Ruhiyyah termasuk di dalamnya muhasabah dan membuat seri penerbitan brosur Iqra.
Dalam konteks falsafah hidupnya, ia percaya dengan hukum kehidupan, “becik ketitik, ala ketara,” artinya perbuatan baik sekecil apa pun pasti akan kelihatan dan mendapat balasan, sebaliknya perbuatan buruk sekecil apa pun niscaya akan diketahui dan mendapat balasan pula. Ini sesuai dengan kalam Ilahi dalam Al-Quran surat Al-Zalzalah [99] ayat 7 dan 8.
Dengan kepulangan almarhum ke rahmatullah, Indonesia kehilangan negarawan kontemporer dan patriot berintegritas. Try Sutrisno akan tetap dikenang sebagai tokoh bangsa yang disegani dan pemimpin yang punya karisma. Kepeduliannya terhadap persatuan bangsa dan masa depan republik patut dicontoh. Dalam situasi kekinian bangsa kita membutuhkan tokoh panutan.

Pengalaman pribadi yang paling berkesan ketika Pak Try masih hidup, tanggal 25 Desember 2022 saya menjenguk beliau di Paviliun Kartika RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Jenderal Purnawirawan dan mantan Wakil Presiden yang rendah hati itu menerima saya dengan hangat dan sikap bersahabat.
Di masa pergolakan PRRI, Pak Try ditugaskan ke Sumatera Barat yang disebut oleh beliau merupakan penugasan pertamanya sebagai taruna TNI. Orang Sumpur mengenang Pak Try dahulu pernah singgah di kampung mereka. Sewaktu saya ajak mengobrol mengenai pengalaman di Sumatera Barat beliau masih ingat dari Solok ke Padang Panjang melalui jalan yang berliku dan medan berbukit-bukit.
Dalam momen langka tersebut Pak Try memberi saya nasihat yang tidak akan terlupakan, “Jangan menyia-nyiakan waktu. Perbanyak amal shaleh. Di mana pun berada, tetaplah menjadi simbol persatuan dan kesatuan bangsa.”
Semoga arwah almarhum diterima dengan layak di sisi Allah Swt, diampuni segala kesalahannya, diterima semua amal baiknya dan ditempatkan di surga Jannatun Naim.
____________

