Kisah dalam hadist diceritakan oleh Ibnu Abi Hatim yang dia dengar dari Ubaidah Salmani. Ibnu Abi Hatim berkata bahwa ketika itu (zaman Nabi Musa a.s.) ada seorang bapak dari Bani Israil yang tidak mempunai anak. Bapak ini memiliki harta yang banyak. Ia mempunyai seorang keponakan yang ingin mewarisi hartanya. Pada suatu malam keponakan itu membunuh pamannya dan jenazahnya diletakkan di depan rumah tetangganya.
Besok paginya terjadilah keributan dan kehebohan. Keluarga ponakan si paman tadi menuduh pembunuhnya adalah pemilik rumah tempat tergeletaknya mayat pamannya tersebut. Pihak pemilik rumah tidak menerima tuduhan bahwa ia adalah pelaku pembunuhan. Terjadilah pertengkaran yang mengarah pada pertarungan fisik menggunakan senjata.
Pada saat genting dan kritis tersebut datanglah seorang bijak yang berfikiran jernih. Ia berkata, “ Celakalah bila anda sekalian saling membunuh, padahal di lingkungan kalian ada Nabi Musa yang bisa diminta jalan keluarnya”. Lalu keduanya mendatangi Nabi Musa dan menceritakan masalah yang dipertengkarkan serta solusi pemecahannya.
Kisah inilah yang dilukiskan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah dari ayat 67-73 dimana Nabi Musa memberikan petunjuk mengungkap siapa pelaku perbuatan keji tersebut.
Pada ayat 67 surat Al-Baqarah dikemukakan, ”Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: “ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”. Mereka berkata: ”Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?”. Musa menjawab,” Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.”
Warga Bani Israil tesebut akhirnya melaksanakan perintah Nabi Musa untuk menyembelih sapi betina sebagai syarat mengungkap pelaku kejahatan, namun mereka berusaha mencari helah atau alasan-alasan dengan banyak bertanya, sehingga akhirnya memberatkan mereka sendiri. Dalam surat Al-Baqarah dari ayat 67 sampai 73 diceritakan proses mencari jenis sapi tersebut.
“Mereka menjawab, mohonkan kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu? Musa menjawab: Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu, maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” (ayat 68).
Mereka kemudian bertanya lagi, ”Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.”.Musa menjawab,” Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya” (ayat 69).
Masih Bani Israil belum puas dan bertanya kembali,” Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu masih samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk” (ayat 70).
Musa berkata,” Sesunggunya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya. Mereka berkata, ‘Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.’ Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” (71).
Pada surat al-Baqarah ayat 72 Allah menerangkan latar belakang perintah menyuruh Bani Israil menyembelih sapi betina,” Dan ingatlah keti kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.”.
Lalu pada ayat 73 al-Baqarah Allah memerintahkan memukul mayat korban pembunuhan tersebut dengan salah satu bagian sapi betina yang dipotong itu. Mayat tersebut hidup kembali dan mengungkapkan siapa yang membunuhnya, yang tidak lain adalah keponakannya sendiri.
“Lalu Kami berfirman , ‘Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu.’ Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.”
Dalam hadist diceritakan bahwa sapi yang bakal disembelih itu mereka dapatkan dari seorang yang tidak memiliki harta, kecuali hanya sapi tersebut. Pemilik sapi mengatakan bahwa dia tidak akan menjual sapi tersebut kecuali bila dihargai dengan emas. Berat kulit sapi ditimbang dan disamakan dengan berat emas. Bani Israil terpaksa membeli sapi tersebut dengan harga yang sangat mahal. Setelah bagian dari anggota sapi tersebut dipukulkan kepada si mayat, dan dengan izin Allah mayat tersebut hidup sebentar lalu menunjuk pembunuhnya adalah ponakannya sendiri, maka ponakannya tersebut gagal mendapat waris, bahkan ia dihukum mati seperti disebutkan Tafsir Ibnu Katsir.
Makna Penyembelihan Sapi
Pada kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim di atas, ada beberapa catatan yang perlu kita amati. Yaitu bahwa harta bisa menjadi sumber kejahatan.Pembunuhan bisa terjadi dengan motif harta, tahta atau kekuasaan dan wanita. Terlalu banyak contoh pembunuhan yang bisa kita lihat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti yang diinformasikan oleh media cetak maupun media elektronik. Satu kejahatan akan mengundang kejahatan yang lain. Kisah pembunuhan yang dilakukan seorang ponakan seperti dijelaskan hadist di atas telah melahirkan fitnah di antara keluarga.
Kemudian kata jaahilin dalam ayat di atas memiliki beberapa makna dan pengertian. Jaahilin bisa berarti orang-orang bodoh,atau orang-orang masa lalu, dan dalam ayat ini kata jaahilin bermakna orang yang suka mempermainkan agama seperti kaum Yahudi. Penyembelihan sapi betina adalah bukti bahwa Allah mampu menghidupkan kembali manusia yang sudah meninggal.
Penyembelihan sapi betina adalah bentuk pembelajaran Tauhid bagi Bani Israil. Menyembah patung berupa sapi yang dilapisi emas merupakan perilaku agama kaum primitif. Pada kasus pembunuhan ini Allah mengajak mereka untuk berfikir ulang membeli sapi yang harganya sama dengan patung sapi berlapis emas yang mereka sembah, tetapi bagi Allah sapi yang mahal tersebut dijadikan alat pembuktian kejahatan pembunuhan. Penggunaan kata Rabbaka dalam dialog di atas yang berarti tuhan kamu , juga mengindikasikan bahwa Bani Israil sampai turunnya ayat ini tetap tidak mengakui Allah sebagai tuhan. Allah bagi mereka adalah tuhannya Nabi Musa.
Pada ayat ini Allah berjanji akan membongkar kejahatan yang dirahasiakan oleh manusia. Dalam hal ini kejahatan pembunuhan yang dilakukan oleh seorang keponakan terhadap pamannya. Wallahu mukhrijum maa kuntum taktumuum (Allah akan membongkar kejahatan yang dilakukan oleh manusia).Kisah menghidupkan mayat dan penyembelihan sapi betina seperti yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim, menjelaskan asbabun nuzul atau latar belakang turunynya ayat 67-74 surat al-Baqarah yang telah dikutip di atas.
Gambaran Watak dan Karakter Bani Israil
Bila kita simak dialog Nabi Musa dengan Bani Israil mengenai kasus pembunuhan di atas, kita bisa memahami karakter atau watak Bani Israil. Yaitu, peristiwa pembunuhan telah melahirkan fitnah yang hampir saja memicu konflik berdarah. Sang pembunuh yang sebenarnya tidak diketahui, tetapi ada pihak yang tertuduh menjadi korban kejahatan. Ada pihak yang menuduh tanpa mengetahui hal yang sebenarnya, sang penuduh merasa berdiri dalam kebenaran karena melihat ada bukti jenazah di depan rumah.
Inilah sebuah skenario kejahatan yang berkembang sampai saat ini dalam berbagai versi. Melalui kasus pembunuhan ini Al-Qur’an telah mengajari kita untuk berhati-hati bahwa suatu kejahatan akan mengundang kejahatan yang lain. Suatu kejahatan yang dilakukan seseorang atau pihak tertentu bisa saja pihak lain menjadi korban fitnah. Perintah Allah yang disampaikan melalui kitab Taurat tidak selamanya dipatuhi oleh Bani Israil, bahkan sering ditolak atau dipertanyakan. Perintah Allah kepada mereka untuk menyembelih seekor sapi betina tidak segera mereka kerjakan, tetapi mereka pertanyakan.
Umat Nabi Musa bertanya siapa pembunuh saudara kami, namun Musa menyuruh menyembelih seekor sapi betina. Jawaban itu seperti tidak ada hubungan atau tidak masuk akal. Mereka menuduh Nabi Musa mengolok-olok. Namun, Nabi Musa bersumpah bahwa yang disampaikannya adalah firman Allah. Musa berkata,” Aku berlindung dari Allah agar tidak menjadi bagian dari orang yang suka mengolok-olok agama.”
Sekarang kita saksikan ajaran agama khususnya Islam dijadikan bahan olokan oleh pihak –pihak tertentu. Berbisnis, berpolitik, atau mencari kehidupan dengan cara mengolok agama. Agama Islam dilabeli sebagai Islam phobia (agama yang menakutkan) atau agama teroris, agama kelompok ekstrimis atau radikal, agama yang tidak punya toleransi.
Dialog Nabi Musa dengan Bani Israil juga mencerminkan mereka cenderung menolak perintah Allah yang disampaikan Nabi Musa. Semakin banyak mereka bertanya, maka semakin banyak beban yang mereka pikul. Andaikan mereka langsung melaksanakan perintah menyembelih sapi, persoalan akan segera selesai. Mereka tidak akan kesulitan mencari sapi dan tidak akan mengeluarkan biaya yang mahal untuk membeli sapi.
Pada surat al-Baqarah ayat 54 kita juga bisa melihat suatu kisah ketika Nabi Musa mengasingkan diri ke Bukit Thursina selama 40 hari untuk menerima wahyu kitab Taurat. Sepeninggal Nabi Musa Bani Israil kembali mengikuti ajaran nenek moyang mereka yaitu menyembah patung berupa sapi betina yang dilapisi dengan emas.
Kisah penyembelihan sapi ini merupakan pembelajaran bagi Bani Israil. Mereka diperintah untuk membeli sapi yang begitu mahal mirip dengan patung sapi yang mereka jadikan sesembahan. Sapi yang mereka beli dengan harga begitu mahal akhirnay untuk disembelih, untuk membuktikan kebesaran Allah menghidupkan mayat dan membuktikan kejahatan yang mereka sembunyikan, dan bukan untuk disembah seperti keyakinan nenek moyang mereka terdahulu.
Setelah kejahatan yang mereka rahasiakan diperlihatkan oleh Allah, hati Bani Israil tidak melunak, akan tetapi hati Bani Israil semakin keras bagaikan batu, bahkan lebih keras dari batu (al-Baqarah ayat 74), seperti makhluk yang tidak mempunyai perasaan. Allah menyindir Bani Israil, bahwa batu ketika diperintah oleh Allah ia akan mengeluarkan air. Ketika mereka ditimpa kemarau panjang dan berada di lembah gurun pasir mereka minta kepada Nabi Musa agar menurunkan hujan. Lalu Allah memerintahkanMusa untuk memukulkan tongkatnya pada batu, maka keluarlah beberapa mata air dari batu itu.
Kemudian salah satu sifat Bani Israil lainnya suka suka menolak dan bahkan membangkang perintah Allah, dan mererka bahkan tidak segan-segan membunuh para Nabi (Al-Baqarah ayat 87).
Kisah penyembelihan sapi betina adalah icon penting dalam Al-Qur’an yang kita kenal dengan nama surat al-Baqarah. Kisah dan skenario kejahatan pembunuhan yang dilakuian oleh seorang Bani Israil seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an sampai sekarang masih berkembang dalam modus dan versi yang lebih canggih. Kisah ini menjadi pembelajaran bagi kita semua sekarang ini.
