Siapa bilang di negara minoritas Islam yang punya paham sekuler seperti Amerika seorang Muslim tidak bisa menjadi pejabat wali kota? Zohran Mamdani memecahkan rekor yang untuk pertama kalinya seorang Muslim imigran terpilih menjadi wali kota New York, kota terbesar di Amerika Serikat. Pada Pilkada Kota New York 4 November 2025 Zohran yang dari Partai Demokrat meraih 50,4% suara mengungguli Andrew Cuomo, kandidat independen, yang memperoleh 41,6% suara, dan calon dari Partai Republik Curtis Sliwa, yang hanya meraup 7% suara. Lawan yang dikalahkan Zohran bukan tokoh sembarangan. Andrew Cuomo, misalnya, adalah mantan Gubernur New York dari Partsi Demokrat yang ternyata gagal meraih hati suara publik. Kekalahan Andrew Cuomo merupakan yang kedua kalinya setelah dikalahkan Zohran pada pemilihan pendahuluan (primary) Partai Demokrat beberapa bulan lalu.
Tampilnya Zohran Mamdani sebagai wali kota New York mengukir beberapa prestasi, selain wali kota pertama dari kalangan Muslim, Zohran juga tercatat wali kota pertama dengan usia yang masih muda, 34 tahun. Zohran Kwame Mamdani adalah politisi kelahiran Kampala, Uganda, putra pasangan suami istri Mahmood Mamdani, seorang akademisi yang menikahi Mira Nair, seorang sutradara asal India. Zohran dan kedua orang tuanya sudah pindah ke New York ketika masih berusia 7 tahun. Di kota besar Paman Sam ini ia belajar di Bowdoin College, Maine.
Zohran seorang yang punya kepedulian pada rakyat bawah atau kaum miskin kota. Kerap ia membantu warga yang terancam penggusuran. Karakternya ini yang menjadikan ia punya talenta politisi untuk memperjuangkan masyarakat bawah dan lemah. Inilah yang kemudian mendorongnya terjun ke dunia politik. Diawali tahun 2020 Zohran memulai terjun ke dunia politik dengan terpilih sebagai anggota parlemen negara bagian New York mewakili distrik Astoria, Queens. Karena suaranya yang vokal dan progresif namanya menjadi perhatian publik dan reputasinya menarik hati masyarakat.
Dalam membangun Kota New York, Zohran punya perhatian yang serius pada masyarakat kecil yang berpenghasilan rendah. Programnya ditujukan untuk meringankan kehidupan mereka dengan mewujudkan transportasi gratis, makan gratis di kampus mirip MBG di negara kita, pendidikan anak usia dini, layanan penitipan anak, dan perumahan sosial. Sementara untuk kalangan berpenghasilan tinggi atau kaum the haves ia mengenakan pajak lebih tinggi, termasuk untuk korporasi. Visi kota yang inklusif dan kepedulian pada rakyat kecil merupakan cita-cita kepemimpinan Zohran Mamdani.

Ada yang menarik dari kemenangan Zohran Mamdani pada pemilihan wali kota New York ini, yaitu ia didukung oleh ulama Indonesia yang ada di New York, yakni Imam Shamsi Ali. Putra Indonrsia asal Sulawesi Selatan ini adalah Imam Besar di Islamic Center of New York dan memberikan dukungan penuh pada kampanye Zohran. Pertemuan akrab antara Imam Shamsi Ali dan Zohran Mamdani terlihat usai kemenangan Zohran. Imam Shamsi Ali mengajak Zohran dan para pendukungnya membacakan surat Al-Fatihah. “Ayo kita lantunkan surat al-Fatihah,” ujar Imam Shamsi Ali. Pertemuan ini menjadi pertanda adanya dukungan komunitas Muslim New York pada pada Zohran Mamdani.
Namun kemenangan Zohran Mamdani dan tampilnya sebagai orang nomor satu di New York bakal menemukan “ketegangan baru” dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sebabnya, Trump dan Zohran berbeda pandangan secara ekstrem terhadap Israel dan perang di Gaza. Jika Donald Trump sekutu total mendukung Israel, sebaliknya Zohran pengecam keras kepemimpinan Israel dibawah kepemimpinan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu. Ia menyebutkan Israel melakukan genosida di Gaza. Zohran juga mendukung gerakan Boikot, Divestasi dan Saksi (BDS) terhadap Israel. Bahkan, pernyataannya yang cukup berani, “ Sebagai wali kota saya akan menangkap Netanyahu jika ia datang ke New York” katanya, dalam sebuah wawancara.
Sementara itu Donald Trump menyebut Zohran sebagai pembenci Yahudi. Dan menyebut orang Yahudi yang memilihnya adalah orang bodoh. Bahkan, Trump mengancam jika Zohran terpilih sebagai wali kota New York akan memotong dana pemerintah federal New York. “Sebagai presiden saya tidak ingin mengirimkan uang baik untuk menutupi hal yang buruk. Saya sangat yakin bahwa New York City akan menjadi bencana ekonomi dan sosial apabila Zohran Mamdani menang,” tegasnya.
Zohran Mamdani secara resmi akan menjabat wali kota New York pada 1 Januari 2026 usai pelantikan. Dalam pidato kemenangannya kembali ia menekankan perhatiannya untuk kehidupan yang bisa dijangkau dan memudahkan warga kota, baik di bidang ekonomi, transportasi, meringankan pajak, pelayanan sosial, dan kemudahan untuk warga kota lainnya. Ia menyebutkan agendanya yang utama adalah, ”Mengatasi krisis biaya hidup yang dialami kota ini.”
Ditegaskannya, “Kemenangan ini untuk mereka semua. Dan untuk kalian semua, lebih dari 100.000 relawan yang membangun kampanye ini menjadi kekuatan yang tak terhentikan. Karena kalian, kita akan menjadikan kota ini tempat yang dapat dicintai dan ditinggali kembali oleh para pekerja.”
Ia juga mengatakan, “Era baru ini akan menjadi era perbaikan tanpa henti. Kita akan merekrut ribuan guru kita akan mengurangi pemborosan dari birokrasi yang membengkak. Kita akan bekerja tanpa lelah untuk membuat lampu kembali bersinar di lorong-lorong pembangunan yang telah lama redup.”
Terpilihnya Zohran Mamdani sebagai wali kota New York menandai adanya suatu perubahan penting dalam masyarakat Amerika Serikat. Selain sebagai generasi baru dari Generasi Z , Zohran datang dari kalangan imigran Muslim, dan pandangan politiknya yang mengecam kebijakan zionis Israel, juga menunjukkan terjadinya pergeseran ketakutan terhadap Islam (islamofobia). Kalau fenomena ini benar Amerika Serikat saat ini masyarakatnya menuju trends inklusifisme sosial. Gejala politik yang makin ramah kepada Islam?


