Cakrawala

Kolom Ganjar Kurnia: TEBAL KULIT MUKA

Konon, kulit manusia terdiri atas tiga lapisan utama: epidermis, dermis, dan hipodermis. Tetapi para ahli anatomi tampaknya lupa mencatat satu lapisan yang tumbuh subur pada manusia modern,(terutama) di sekitar kekuasaan. Namanya lapisan tidak tahu malu.

Lapisan ini tidak terlihat melalui CT scan, tetapi gejalanya mudah dikenali. Semakin besar kesalahan seseorang, semakin lebar senyumnya di televisi. Dahulu orang ketahuan berbohong mukanya memerah. Sekarang yang merah, justru karpet penyambutannya.

Dalam kedokteran, penebalan kulit disebut hiperkeratosis. Dalam kehidupan sosial-politik, mungkin lebih tepat disebut hiperantimaluisme: kondisi ketika rasa malu menyusut, sementara rasa percaya diri membengkak sampai menutupi akal sehat.

Penderitanya tidak merasa sakit. Yang pusing justru masyarakat, ketika setiap kali melihat wajahnya dan mendengar namanya. Keistimewaan penyakit ini: setiap kali dikritik, lapisannya malah bertambah tebal. Permintaan maaf dianggap alergi. Pengakuan salah diperlakukan sebagai virus asing. Obatnya selalu sama: konferensi pers para relawan, senyum lebar, lalu menuduh adanya orang yang ditunggangi.

Seorang teman bercerita tentang pejabat yang berkali-kali tersandung masalah, tetapi tetap tampil penuh percaya diri.

“Luar biasa ketahanan mentalnya!” kata teman saya.

“Bukan mentalnya,” jawab saya. “Kulit mukanya sangat tebal sehingga sudah anti peluru.”

Saya membayangkan industri pertahanan, maun meneliti kulit muka semacam itu. Kalau berhasil, kita tidak perlu lagi mengimpor baja pelindung. Cukup memanfaatkan kulit muka orang-orang yang tahan kritik, demonstrasi, pemeriksaan, bahkan keputusan lembaga hukum.

Dihujani kritik, tidak tembus, disodori bukti, tidak lecet, diputus pengadilan nyalahin, diminta mundur, malah mengincar jabatan yang lebih tinggi.

Sayangnya, pemilik kulit itu menolak menjadi donor. Bukan takut kehilangan muka, melainkan karena mukanya masih diperlukan untuk keliling negeri dan kampanye berikutnya.

Saya juga membayangkan berdirinya Prodi Ketebalan Muka. Mata kuliahnya antara lain : Pengantar Tidak Tahu Malu, Teknik Menghindari Pertanyaan, Seni Menyalahkan Orang Yang Tidak Sefaham, serta Manajemen Senyum dalam Keadaan Krisis.

Memiliki muka tebal tentu tidak selalu buruk. Kita membutuhkan keberanian menghadapi fitnah dan kegagalan. Tetapi ada perbedaan antara tahan malu karena membela kebenaran dan tidak tahu malu karena menganggap kesalahan sebagai hak istimewa.

Yang pertama keberanian moral. Yang kedua kemacetan moral.

Celakanya, kemacetan moral lebih sulit diurai daripada kemacetan lalu lintas. Kalau jalan macet, polisi bisa turun tangan. Kalau moral macet, jangan-jangan petugasnya ikut antre mencari jabatan.

Lebih aneh lagi, orang yang pernah tersandung persoalan integritas masih berani keliling kemana-mana tanpa merasa malu apalagi bersalah.

Saya pernah membayangkan pemerintah mengimpor rasa malu karena produksi dalam negeri terus menurun. Begitu kontainernya tiba di pelabuhan, petugas kebingungan menentukan kategori barang.

“Bahan pokok atau barang mewah?”

Setelah rapat berhari-hari, diputuskan: barang berbahaya. Sebab kalau rasa malu sampai beredar luas, banyak kursi kekuasaan mendadak kosong.

Seorang petugas sempat menyarankan agar rasa malu dibagikan secara gratis. Usul itu langsung ditolak karena dianggap dapat mengganggu iklim investasi, khususnya investasi pencitraan. Seluruh kontainer pun dikembalikan. Alasan resminya singkat: “Tidak sesuai kebutuhan nasional.”

Sejak itu banyak orang yang berhenti mencari krim penipis kulit muka. Dokter mengatakan penyakit ini bukan urusan dermatologi, yang harus diobati Adalah nuraninya.”

“Berapa biayanya?”

“Cukup kejujuran.”

Saya langsung paham mengapa banyak pasien yang menolak. Bukan karena takut mahal, melainkan karena tidak mau sembuh.

Penulis: Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 – 2015.

Ganjar Kurnia

Akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 - 2015.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button