Setiap manusia memiliki wajah. Tetapi dalam kehidupan sosial, satu wajah sering dianggap tidak cukup. Maka manusia menciptakan wajah cadangan: topeng.
Ada topeng untuk bertemu atasan, bawahan, orang kaya, orang miskin, bahkan topeng khusus ketika kamera televisi menyala. Topeng terakhir biasanya paling mahal karena dilengkapi senyum otomatis, air mata instan, dan kerutan keprihatinan sesuai kebutuhan.
Sebelum keluar rumah, sebagian orang tidak lagi bertanya, “Baju apa yang saya pakai hari ini?” Mereka berdiri di depan lemari sambil berpikir, “Hari ini saya bertemu siapa?”
Jika bertemu pejabat, dikenakan topeng kesetiaan. Kepala menunduk, suara dilembutkan, dan mulut disetel mengatakan, “Betul sekali, Bapak.” Kalau sang pejabat berkata dua tambah dua sama dengan lima, topeng itu tersenyum.
“Betul Bapak, ini matematika pembangunan.”
Jika berubah menjadi tujuh, tepuk tangan malah semakin keras.
“Luar biasa. Ada pertumbuhan!”
Topeng memang tidak mengenal benar atau salah. Ia hanya mengenal siapa yang sedang dihadapi.
Berhadapan dengan bawahan, topeng segera berganti. Dahi berkerut, suara membesar, telunjuk mulai bekerja.
Di depan orang kaya, senyum melebar seperti proposal. Hubungan keluarga mendadak ditemukan sampai tujuh turunan. Di depan orang miskin, mata mendadak melihat jam.
“Maaf, saya ada rapat penting.”
Menjelang pemilihan umum, pabrik topeng bekerja lembur. Topeng kerakyatan paling laris. Pemakainya bisa memeluk bayi, mengangkat cangkul, naik becak, makan gorengan, bahkan mendadak hafal harga cabai.
“Saya berasal dari rakyat.”
Setelah terpilih, rakyat datang menemuinya.
“Maaf, Bapak sedang rapat.”
Ada pula topeng kesalehan. Suara menjadi santun, langkah melambat, kalimat penuh nama Tuhan. Tetapi selesai beribadah, topeng kadang segera disimpan agar tidak terkena debu kehidupan. Tangan kanan memegang tasbih, tangan kiri menerima sesuatu di bawah meja. Mulut masih sempat berbisik, “Semoga berkah,” seakan Tuhan membuka layanan legalisasi transaksi.
Topeng intelektual lebih canggih. Modalnya kacamata, dahi berkerut, dan beberapa istilah: paradigma, epistemologi, transformasi, disrupsi.
Ditanya solusi, jawabannya:
“Persoalan ini harus dilihat secara multidimensional, interdisipliner, transformatif, dan berkelanjutan.”
Semua mengangguk. Bukan karena mengerti, tetapi takut ketahuan tidak mengerti.
Di media sosial, topeng bahkan mempunyai akun sendiri. Orang yang baru bertengkar dengan pasangannya mengunggah foto mesra: Engkaulah anugerah terindah dalam hidupku.
Pasangannya memberi tanda suka dari kamar sebelah. Diplomasi rumah tangga kini cukup dengan satu jempol.
Orang mengajarkan kesabaran sambil memaki pelayan restoran, berkhotbah tentang kesederhanaan, dan menyerukan kejujuran sambil mengurangi usia sebelas tahun di profilnya.
Begitulah, topeng semakin banyak, wajah semakin jarang.
Suatu malam, seseorang pulang setelah seharian berganti topeng. Ia meletakkan topeng kesetiaan, kewibawaan, kesalehan, kerakyatan, dan intelektual di berbagai sudut rumah. Lalu berdiri di depan cermin.
Aneh. Cermin itu kosong.
Ia mencari wajahnya sendiri, tetapi tidak menemukannya. Wajah aslinya mungkin tertinggal di ruang rapat, panggung kampanye, tempat ibadah, atau bahkan di dalam sebuah amplop yang pernah diterimanya.
Ia membuka lemari. Topeng-topeng berjatuhan sambil tertawa.
“Di mana wajah saya?” teriaknya.
Topeng-topeng itu saling memandang.
“Wajah yang mana?”
Saat itulah ia sadar: terlalu lama memakai topeng membuat lupa kepada wajahnya sendiri.
Tragedi manusia modern bukan karena tidak memiliki wajah, tetapi karena terlalu banyak memakai topeng. Ia menggantinya begitu cepat hingga cermin pun bingung mengenali siapa dirinya.
Maka sesekali lepaskan semua topeng. Berdirilah di depan cermin tanpa jabatan, tanpa gelar, tanpa kamera, tanpa pujian.
Jika bayangan itu masih mengenali kita, bersyukurlah. Jika tidak, jangan salahkan cermin.
Mungkin wajah kita sudah terlalu lama tidak pulang.
Catatan: Tahun 1995 saya pernah mementaskan Gending Karesmen berjudul “SALIKSIK II atawa TOPENG”.
Penulis: Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 – 2015.



