Kemerdekaan selama ini dipahami sebagai bentuk kebebasan suatu bangsa dari penjajahan bangsa asing. Karena itu kemerdekaan bisa disebutkan sebagai persoalan politik. Jika kemerdekaan hanya diartikan sebatas masalah politik tentu setelah suatu bangsa merdeka maka masalahnya dianggap telah selesai.
Namun, kemerdekaan sesungguhnya tidaklah cukup dilihat dari perspektif politik. Kemerdekaan juga harus dilihat sebagai persoalan kemanusiaan. Jika penjajahan dilihat sebagai persoalan eksploitasi suatu bangsa terhadap bangsa lain, maka hal yang sama juga harus dilihat bahwa dalam persoalan kemanusiaan maka penjajahan selamanya terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi antar bangsa dalam hubungan ekonomi, politik, budaya dan lainnya bisa saja terjadi penjajahan. Demikian juga dalam interaksi antar individu, dalam konteks kehidupan nasional suatu bangsa bisa saja terjadi penjajahan, yaitu ketika ketidakadilan, kesenjangan ekonomi, hukum yang pincang dan lainnya adalah bentuk-bentuk penjajahan baru di mana manusia harus berjuang untuk suatu kemerdekaan yang hakiki.
Sebagai contoh hal ini pernah tersirat dalam sejarah Islam ketika Nabi pulang dari Perang Badar, sebuah perang besar dalam Islam. Nabi Muhammad Saw berkata, “Kita baru pulang dari sebuah perang kecil menuju sebuah perang besar” (Raja’na min jihadil asghar ila jihadil akbar).
Pernyataan Rasulullah tersebut mengusik keheranan para sahabat yang ikut berperang. Mereka melihat Perang Badar yang terjadi pada tahun kedua Hijrah merupakan perang pertama dalam sejarah Islam adalah sebuah perang besar. Sebab, dari sudut kekuatan militer saja perang itu tidak berimbang. Tentara Islam berjumlah hanya 300 orang, sementara pihak lawan, tentara kafir Quraisy, berjumlah 1000 orang. Namun, peperangan tersebut dimenangkan oleh tentara Islam yang berhasil memukul mundur tentara kafir Quraisy dan menewaskan 70 orang serta menawan beberapa prajurit yang datang dari Makkah ini. Sedangkan dari pihak Islam hanya syahid 14 orang.
Pernyataan Nabi yang menyebutkan, kita baru pulang dari sebuah perang kecil dan menuju perang besar menimbulkan tanda tanya sahabat, sebab bagi sahabat jelas Perang Badar perang yang luar biasa dahsyat dan mencekam. Dua tokoh besar dari kedua belah pihak tewas pada peperangan tersebut. Dari pihak Islam syahid Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi, yang dijuluki Singa Allah. Sedang dari pihak kafir Quraisy tewas Abu Jahal seorang musuh besar Nabi yang sangat benci pada Nabi Muhammad dan Islam.
Karena itu sahabat bertanya, “Perang apakah yang lebih besar itu ya Rasulullah?”. Nabi menjawab, perang yang besar itu adalah perang melawan nafsu (jihadun nafsi).
Jawaban Nabi merupakan jawaban filosofis yang memiliki visi jauh ke depan. Bahwa perang abadi dalam kehidupan manusia pada hakekatnya adalah perang melawan nafsu yaitu keinginan-keinginan buruk dan destruktif dalam kehidupan manusia.
Nafsu yang digerakkan oleh diri pribadi melahirkan manusia-manusia yang menyimpang perilakunya, sebut saja perbuatan korupsi, keserakahan, arogansi, kesombongan, penjarahan, dan sok kuasa, yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan nafsu dalam bentuk kelompok atau bangsa bisa kita lihat dalam bentuk penggunaan kekuatan militer, ekonomi dan politik terhadap bangsa yang lemah yang dalam sejarah tradisionalnya dalam bentuk penjajahan wilayah. Sementara dalam dunia modern penjajahan sudah berubah dalam bentuk penjajahan ekonomi, penjajahan politik, penjarahan sumber daya alam dan lainnya. Bahkan, masih terdapat penjajahan secara fisik seperti masih adanya di sebagian dunia ini peperangan. Sebut saja peperangan yang berujung pembunuhan manusia dalam bentuk senjata modern dengan pemboman, pembunuhan terhadap warga sipil, wanita dan anak-anak, pengusiran, dan bahkan sampai membuat kelaparan dengan menutup bantuan makanan terhadap warga yang menderita akibat perang.
Kenyataan di atas menunjukkan bahwa perilaku primitif dalam kehidupan pribadi dan bangsa tersebut digerakkan oleh nafsu yang tidak terkendali, seperti yang telah diprediksi oleh Rasulullah.
Pilihan Hidup Baik dan Buruk
Manusia dalam kehidupan pribadi digerakkan oleh motif kebaikan dan kejahatan. Ini sebuah indikasi perlunya perjuangan kemerdekaan manusia. Dalam Al-Qur’an disebutkan manusia itu diberikan dua jalan, yaitu jalan kebaikan dan keburukan (al-Balad ayat 10 dan dan-asy-Syams ayat 8).
Seiring dengan itu, para pemikir filsafat menyebutkan manusia adalah makhluk bidemensional yaitu terdiri materi dan spiritual atau rohaniah. Dalam kehidupan ini terjadi tarik menarik antara dorongan keinginan memenuhi kebutuhan sebagai makhluk material dan sebagai makhluk rohaniah ,spiritual atau metafisik. Manusia dalam menentukan pilihannya itu memiliki otonomi atau kedaulatan untuk memenuhi keinginannya (Driyarkara Tentang Manusia, Jakarta 1980 hal. 18).
Karena itu dalam diri manusia sesungguhnya selalu terjadi peperangan antara keinginan sebagai makhluk rohaniah yang cenderung pada kebaikan dan kecenderungan pada keburukan yang didorong oleh keinginan nafsu yang selalu ingin dipenuhi. Dalam konteks inilah bahwa Nabi mengatakan, bahwa perang yang sesungguhnya dalam hidup ini adalah perang melawan nafsu. Dan, siapa yang mampu mengendalikan nafsunya maka itulah sesungguhnya manusia yang merdeka.
Nafsu memang memiliki pengertian negatif. Dalam bahasa Indonesia nafsu diartikan sebagai dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang baik. Dalam terminologi tasawuf, nafsu diartikan sesuatu yang melahirkan sikap tercela dan perilaku buruk ( Dr. Achmad Mubarak,MA, al Irsyad an Nafsy, Konseling Agama dan Kasus, PT Bina Rena Pariwara, Jakarta, 2000 hal. 37).
Buya Hamka dalam bukunya Tasawuf Moderen (Pustaka Panjimas,Jakarta, l987 hal. 119-120) mengungkapkan tiga kelompok manusia yang melawan nafsu. Kelompok pertama adalah orang yang kalah melawan nafsu. Ia diperbudak oleh nafsunya dan mempertuhankan nafsunya seperti disebutkan dalam Al-Qur’an surat al-Jaatsiyah ayat 23,” Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya”.
Mereka ini juga disebut kaum ghafilun yaitu orang yang lalai dan lengah. Orang yang menyerah pada nafsunya. Terlena dengan kenikmatan duniawi tanpa memerdulikan halal dan haram.
Yang kedua, orang yang selalu berjuang dan berperang melawan nafsunya. Kalah dan menang silih berganti. Orang seperti ini disebut kelompok mujahidun. Sebab, Nabi mengatakan perang yang paling utama adalah perang melawan nafsu. Bahkan, dalam sebuah hadist riwayat Abu Daud dijelaskan, “ Bukanlah orang yang gagah berani itu orang yang berperang di medan pertempuran, tetapi orang yang berani itu adalah orang yang bisa menahan dirinya dari kemarahan”.
Kaum mujahidun ini tidak pernah kehilangan spirit melawan nafsunya dan selalu berusaha untuk menundukkannya.
Yang ketiga, orang yang berhasil mengalahkan nafsunya. Ia mengendalikan dan memerintah nafsunya . Ia menjadi raja dan berkuasa atas nafsunya. Nafsunya tidak bisa mengaturnya. Mereka ini disebut kaum siddiqun atau muqarrabun, yaitu orang yang jujur dan selalu mendekatkan diri kepada Allah.
Namun demikian, tidak selamanya nafsu itu negatif. Nafsu yang buruk adalah yang cenderung pada kejahatan dan hidup berlebihan. Nafsu inilah yang harus dikendalikan. Sementara nafsu yang positif seperti berusaha dan berikhtiar untuk memenuhi kehidupan keluarga, baik untuk kebutuhan makan, pangan dan pendidikan adalah nafsu yang positif. Artinya, dorongan nafsu yang berusaha memenuhi sesuatu yang tidak berlawanan dengan hukum Allah dan syariah tentulah dibenarkan.
Kendali Akal
Pengendali nafsu adalah akal pikiran. Dalam Al-Qur’an akal memiliki banyak fungsi. Selain mengandung arti memahami dan berpikir, akal juga berarti nalar atau melihat secara abstrak (nazara), merenung (tadabbara), tafakkur atau berfikir (tafakkara) , mengerti (faqiha-tafaqquh), mengingat, memperoleh pengertian, mendapat pelajaran (tazakkara), memahami (fahima). Sebutan lain orang yang berfikir disebut dalam Al-Qur’an ulul albab, ulul izmi, ulul abshar dan lainnya (Dr. Achmad Mubarok,MA , Jakarta, 200 : 32-33).
Dengan demikian akal memiliki fungsi sebagai penerima pengetahuan. Ia bisa mencerahkan dan memberikan petunjuk pada manusia, namun akal juga perlu dibimbing oleh agama. Akal yang tidak dibimbing oleh agama juga bisa menimbulkan penyimpangan.
Pertarungan akal dan nafsu memiliki bala tentaranya masing-masing. Akal yang dibimbing oleh agama diperkuat oleh Malaikat, sedangkan hawa nafsu diperkuat oleh bala tentara setan. Jika akal yang menang maka nafsu bisa ditundukkan dan dikendalikan. Tetapi, jika nafsu yang menang maka manusia menyerah pada nafsunya dan cenderung menurutkan egonya tanpa memperhatikan norma-norma dan larangan agama.
Menurut Buya Hamka (l987 : 125-126) di antara akal dan nafsu di tengah-tengah terletak pikiran. Pikiran yang waras adalah yang berjalan di antara akal dan nafsu syahwat. Akal terletak di atas, syahwat atau nafsu terletak di bawah. Kalau pikiran condong ke bawah , renggang dari atas, itu alamat kehidupan celaka. Menimbulkan keonaran dalam hidup. Kalau pikiran condong ke atas alamat adanya keutamaan dan kebaikan. Membawa banyak keuntungan dalam kehidupan. Berkata ulama, bila terjadi peperangan antara akal dan hawa nafsu, akal mempertahankan barang yang pahit tetapi manis akibatnya, nafsu mempertahankan barang yang manis tetapi pahit bekasnya. Keduanya sama-sama mencari alasan. Akal mencari pembenaran Nur Allah, dan nafsu mencari perlindungan was-was dari setan.
Manusia pada dasarnya memiliki potensi kebaikan, namun daya tarik keburukan lebih kuat dari kebaikan sehingga manusia akhirnya menyimpang dari fitrah kebaikannya. Beberapa hadis menyiratkan hal ini. Hadist riwayat Tabrani mengungkapkan,” Keutamaan akhirat pada hari ini dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai manusia, sedangkan hal-hal yang bersifat duniawi dikemas dengan kelezatan dan kesenangan”.
Hadist riwayat Bukhori dan Muslim juga menegaskan, “ Diramaikan surga dengan barang yang berat mengerjakan, dan diramaikan neraka dengan syahwat”.
Kemudian Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 216 menyatakan hampir senada,” Boleh jadi kamu benci sesuatu, padahal dia baik bagimu, dan boleh jadi kamu cintai sesuatu padahal dia jahat bagimu”.
Manusia Merdeka
Inti dasarnya dalam kehidupan ini adalah bahwa kehidupan manusia sebagai makhluk dimensional merupakan pertarungan antara kekuatan dan kebutuhan rohaniah dan jasmaniah. Jika hanya satu sisi yang unggul maka akan muncul perilaku yang pincang. Manusia tidak bisa hanya memenuhi salah satunya dari dua kebutuhan tersebut.
Manusia yang merdeka adalah yang mampu menyeimbangkan di antara kebutuhan dua kutub tersebut, yaitu rohaniah dan jasmaniah. Manusia sebagai makhluk hewani harus dipenuhi kebutuhan jasmaniah atau fisiknya. Namun, di sisi lain manusia sebagai makhluk rohaniah, spiritual atau metafisik harus mampu mengendalikan kebutuhan jasmaniah atau hewaniahnya supaya tidak lepas kendali. Dengan sisi rohaniahnya yang mampu mengendalikan kebutuhan jasmaniahnya maka manusia akan terangkat derajatnya pada posisi yang tinggi dan mulia.
Dan salah satu sisi makhluk rohaniah yang mampu mengendalikan kebutuhan jasmaniahnya adalah melahirkan manusia yang memiliki akhlak dan moralitas yang tinggi. Ia cenderung berbuat kebajikan, melakukan amal saleh, taat beribadah kepada Allah, peduli kemanusiaan, serta menjauhi kejahatan dan sifat-sifat buruk yang merusak dalam kehidupan manusia. Inilah sesungguhnya hakekat manusia merdeka yang sejahtera dan bahagia.
Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA, Dosen dan Plt. Wakil Rektor dan Bidang Perencanaan Keuangan dan Pengembangan Usaha Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, Jawa Barat


