Aktualita

Mojtaba Khamenei Resmi Pimpin Iran,  Perang Makin  Berkobar?

​Republik Islam Iran resmi memasuki babak baru dalam sejarah kepemimpinannya. Pada Minggu (8/3/2026), Majelis Ahli mengumumkan penunjukan Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran ke-3, menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan udara akhir Februari lalu. Ali Khamenei sendiri adalah pengganti Ayatollah Khomeini, pemimpin revolusi yang berhasil menggulingkan Suah Iran Reza Pahlevi pada 1979.

​Penunjukan ini menandai transisi kekuasaan paling krusial sejak Revolusi Islam 1979. Di tengah eskalasi perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, Teheran memilih sosok yang selama ini dikenal sebagai arsitek utama di balik layar kekuasaan Iran.

​Langkah Majelis Ahli ini segera mendapatkan sambutan dari sekutu regional. Kelompok Houthi di Yaman menyebut pemilihan Mojtaba sebagai “kemenangan baru bagi Revolusi Islam”. Di internal Iran, dukungan mengalir deras dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan parlemen, yang menyebut kepatuhan kepada Mojtaba sebagai kewajiban nasional.

​Namun, pengangkatan ini bukan tanpa kontroversi. Untuk pertama kalinya, kepemimpinan tertinggi berpindah secara turun-temurun, sebuah preseden yang memicu debat mengenai arah ideologi negara yang dahulu didirikan untuk menentang sistem monarki. Dari sisi eksternal, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa suksesi ini tidak dapat diterima, sementara Israel mengancam akan terus menargetkan siapa pun yang duduk di puncak kekuasaan Teheran.

​Sang “Pangeran Bayangan” Menuju Puncak

​Lahir di kota suci Mashhad pada tahun 1969, Mojtaba Khamenei tumbuh besar di bawah asuhan langsung dari salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia Islam, Ali Khamenei. Sejak usia muda, kehidupannya telah ditempa oleh disiplin politik dan spiritual yang ketat. Berbeda dengan saudara-saudaranya, Mojtaba adalah sosok yang paling aktif terlibat dalam struktur kekuasaan terdalam, meski ia lebih memilih bergerak dalam senyap selama puluhan tahun.

Kedekatan Mojtaba dengan kekuatan militer dimulai saat ia terjun langsung dalam tahap akhir Perang Iran-Irak (1980-1988). Ia bergabung dengan Batalyon Habib bin Muzahir dari IRGC, sebuah pengalaman medan tempur yang membangun pondasi hubungan emosional dan strategisnya dengan para jenderal senior. Ikatan inilah yang kini menjadi pilar utama dukungannya saat ia naik ke puncak kepemimpinan di tengah situasi perang tahun 2026.

Setelah mengenyam pendidikan teologi tingkat lanjut di Qom, Mojtaba mulai memainkan peran strategis di Kantor Pemimpin Tertinggi (Beit-e Rahbari). Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai “penjaga gerbang” yang memegang kendali atas akses politik dan kebijakan keamanan negara. Namanya mulai mencuat ke publik internasional pada tahun 2009, saat ia dituding sebagai sosok yang mengoordinasi tindakan keras terhadap demonstrasi oposisi. Sejak saat itu, ia dipandang sebagai simbol kekuatan konservatif yang tidak mengenal kompromi.

Kini, di usia 56 tahun, Mojtaba Khamenei tidak lagi berada di balik bayang-bayang. Ia muncul sebagai pemegang otoritas tertinggi di saat Iran menghadapi tekanan eksternal paling ekstrem dalam sejarahnya. Bagi para pendukungnya, Mojtaba adalah sosok yang memiliki ketegasan militer sekaligus kedalaman spiritual untuk menjaga kedaulatan negara. Bagi dunia internasional, kepemimpinannya menandai babak baru yang lebih konfrontatif, di mana garis ideologi keras dipastikan akan tetap menjadi kompas utama kebijakan Teheran. Jadi, akankah perang dengan Israel dan Amerika semakin  berkobar?

​

Nailul Authar Sudrajat

Alumni Pondok Pesantren Darussalam Ciamis 2023, mahasiswa Fakultas Dakwah Program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, staf Ponpes Al-Ihsan Anyer, dan kontributor di panjimasyarakat.com

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button