Pagi itu, seorang lelaki tua duduk di teras rumahnya. Di hadapannya ada secangkir kopi sederhana dan sepiring singkong rebus. Ia baru saja menerima sedikit uang dari hasil pekerjaannya. “Tidak banyak,” gumamnya.
Di sebelahnya, seorang anak kecil datang membawa buku yang sampulnya sudah lusuh. “Pak, boleh saya pinjam buku ini?” Lelaki itu tersenyum dan menyerahkan buku tersebut. “Boleh. Kalau ilmu bisa membuatmu menjadi lebih baik, jangan takut untuk meminjamnya.”
Anak itu pergi dengan wajah gembira. Lelaki tua itu kemudian mengambil sebagian uang yang baru diterimanya. Ia menyisihkannya untuk membantu tetangganya yang sedang kesulitan. Seorang teman yang melihatnya bertanya, “Bukankah uangmu sendiri juga tidak banyak? Mengapa masih diberikan kepada orang lain?”
Ia tersenyum. “Karena rezeki bukan hanya apa yang kita simpan. Rezeki juga adalah apa yang Allah titipkan agar mengalir melalui kita.” Barangkali, itulah salah satu pesan indah dari firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 3 “Wa mimmā razaqnāhuyunfiqūn.” (Dan dari sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, mereka infakkan.)
Ayat tersebut berada dalam rangkaian sifat orang-orang yang bertakwa: mereka beriman kepada yang gaib, menegakkan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan kepada mereka.
Menariknya, Allah tidak mengatakan bahwa manusia harus menginfakkan seluruh rezekinya. Yang disebut adalah “mimmā” — sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka. Artinya, ada kesadaran bahwa apa yang berada di tangan kita sesungguhnya bukan sepenuhnya milik kita.
Uang adalah rezeki. Tetapi ilmu juga rezeki. Kesehatan adalah rezeki. Waktu adalah rezeki. Tenaga adalah rezeki. Kesempatan untuk membantu orang lain adalah rezeki.
Bahkan kemampuan untuk tersenyum kepada seseorang yang sedang bersedih pun bisa menjadi bentuk nikmat yang Allah titipkan. Karena itu, yunfiqūn tidak semata-mata berbicara tentang mengeluarkan uang.
Ada orang yang tidak memiliki banyak harta, tetapi ia membagikan ilmunya. Ada yang tidak memiliki kekayaan berlimpah, tetapi ia memiliki tenaga untuk membantu. Ada yang tidak mampu memberikan materi, tetapi mampu memberikan waktu untuk mendengarkan keluh kesah orang lain. Dan ada pula yang memiliki banyak harta, tetapi justru semakin sulit mengeluarkan sebagian kecilnya.
Di situlah ayat ini seakan mengajukan pertanyaan yang sederhana namun dalam: “Apa yang selama ini Allah berikan kepadamu, dan sudahkah sebagian darinya kembali menjadi manfaat bagi orang lain?”. Sebab ukuran keberkahan rezeki bukan hanya seberapa banyak yang masuk ke rumah kita, tetapi juga seberapa banyak kebaikan yang keluar dari kehidupan kita.
Rezeki yang hanya berhenti di tangan mungkin membuat kita kaya. Tetapi rezeki yang mengalir melalui tangan dapat membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Itulah rahasia wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn.
Orang beriman tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa aku dapatkan?” Ia juga belajar bertanya, “Apa yang bisa aku berikan dari apa yang telah Allah titipkan?” Karena pada akhirnya, kita bukan sekadar pemilik rezeki. Kita adalah penjaga amanah rezeki.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika semua yang kita kumpulkan telah kita tinggalkan, justru kebaikan yang pernah kita keluarkanlah yang tetap berbicara tentang siapa diri kita.***

