Pernahkah Anda berkhianaat pada diri sendiri? Mengkhianati diri sendiri tidak sama dengan mengkhianati orang lain, mengkhianati amanat orang, atau mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. (“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan mengkhianati amanat-amanat kamu, sementara kamu sendiri tahu”; Q8:27). Khianati jenis ini dosa yang serius. Sementara itu khianat kepada diri sendiri bisa perbuatan dosa, bisa juga tidak, meski yang melakukannya mungkin mengiranya sebagai dosa. Ini pembicaraan tentang bagaimana manusia, dalam ayat-ayat Quran, adalah manusia psikologis-subjek yang hampir selalu diantarkan dengan cerminan (bukan uraian) kehidupannya di bagian “dalam”.
Dalam Q. 4:105-112, kita dapati firman Allah yang menyangkut seseorang yang, dari hadis, kita ketahui namanya sebagai Thu’mah. Orang ini mencuri suatu barang. Kemudian hasil curiannya di rumah seorang Yahudi. Ia lalu menuduh Yahudi itu sebagai pencuri. Fitnah itu disetujui kawan-kawannya. Dan, tentunya karena yang akan dijadikan korban adalah seorang “musuh Islam” yang berlainan etnis pula (Yahudi), orang-orang itu menyangka Nabi akan bisa menerima rekayasa mereka dan segera melaporkan kasus itu. Nabi sendiri memang hampir saja percaya-kalau saja Allah tidak menurunkan firman-Nya.
Yaitu, antara lain: ”Sesungguhnya Kami menurunkan kepada Al-Kitab dengan kebenaran, agar engkau memberi hukum di antara manusia dengan apa yang diperlihatkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau, demi kepentingan mereka yang berkhianat, menjadi penantang. Mohonlah ampun kepada Allah: Allah maha pengampun maha pengasih. Dan jangan engkau berdebat atas mereka yang mengkhianati diri sendiri. Allah tidak menyukai orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa” (Q. 4:105-107).
Disitu Al-Quran memakai ungkapan “mengkhianati diri sendiri”. Sedangkan rekayasa seperti itu, terhadap seseorang yang Allah sendiri dinyatakan sebagai innocent, tergolong dosa yang keji. (“Barangsiapa mengusahakan kesalahan atau dosa, kemudian melemparkannya kepada orang yang bersih ,ia telah menanggung kebohongan besar dan dosa yang nyata “; Q. 4:112). Bahkan sikap Nabi s.a.w., yang hampir saja membela orang-orang khianat itu, dalam ayat sebelumnya ditanggapi Allah dengan perintah memohon ampun. Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 24 November 1999