Sungguh Kami sudah memberikan kepada Musa kitab itu, dan kami iringi di belakangnya dengan rasul-rasul. Kami berikan pula kepada Isa anak Maryam berbagai bukti dan kami kuatkan dengan ruh kudus. Apakah setiap datang kepada kamu seorang rasul, dengan sesuatu yang tidak diinginkan hawa nafsumu, kemudian kamu bersikap angkuh? Lalu sebagian kalian dustakan dan sebagian kalian bunuh? (Q. 2: 87)
Lewat ayat dalam surat Al-Baqarah ini anak-anak orang Islam, yang belajar mengaji, untuk pertama kalinya mengucapkan kata-kata ’iisabna maryama (Isa anak Maryam) dan biruuhil qudus (dengan ruh kudus). Ini memang pertama kalinya nama nabi yang mulia itu disebut dalam Al-Qur’an — sementara Musa di situ muncul untuk kali yang kedelapan.
Tidak berarti ayat ini mengumumkan kebesaran Musa a.s. disejajarkan dengan Isa a.s. Sebagai bandingan, Nabi Ibrahim tokoh yang, setelah Nabi Muhammad, paling kuat sangkut-pautnya dengan Islam. Toh nama beliau hanya disebut 69 kali, dibanding nama Musa yang 136 kali, seperti dihitung Dawam Rahardjo (Dawam, Ensiklopedi Al-Qur’an, Tafsir Sosial Berdasarkan Kata-kata Kunci: 85). Isa sendiri di sebut 25 kali, sementara almasih,11 kali. Adakah sesuatu yang bisa ditarik dari kenyataan itu?
Tidak seperti kitab suci mana pun, Al-Qur’an adalah himpunan wahyu-wahyu langsung yang turun secara terpisah-pisah, jawaban langit untuk bumi lewat peristiwa-peristiwa aktual pada suatu masa. Ia boleh membayangkan sekaligus dimensi-dimensi historis dan eskatologis, tapi kuncinya tetap pada masa hidup sang Nabi — pada interaksi antara beliau, Muhammad SAW, dan umatnya dengan berbagai segmen. Dalam garis besarnya, interaksi itu berlangsung antara umat muslimin dan dua golongan besar: umat musyrik, di Mekah, dan umat kitabi, di Madinah. Yang kedua itu diwakili golongan Yahudi yang kuat sementara umat Nasrani terutama menghuni wilayah Najran di arah selatan Jazirah.
Dari situ dipahami mengapa Nabi Musa dan Bani Israil memperoleh porsi yang besar dalam Al-Qur’an –barang kali sama besar dengan umat musyrikin yang tidak memiliki tokoh maupun lambang untuk disebut. Bahwa Musa-lah kemudian yang menjadi simbol, bisa juga dipahami dari kedudukan Taurat yang merupakan induk ajaran bukan hanya bagi Musa tapi juga nabi-nabi sesudahnya. Bahkan, jika ada sebuah kitab yang oleh Al-Qur’an, dengan segala kebesarannya, diletakan berhadap-hadapan dengan dirinya, maka itu memang Taurat, dan hampir-hampir bukan Injil. Ini sejalan saja dengan kenyataan dekatnya jarak antara Al-Qur’an dan agama Yahudi dibanding dengan Nasrani, sementara di segi lain menyangkut perbandingan antara syariat Musa dan syariat Isa — apakah yang kedua ini subordinated pada yang pertama seperti yang diskusi ringkasnya akan diberikan di bawah.
Juga Ahmadiyah
Ayat ini sendiri berada dalam satu rangkaian panjang yang mempertunjukkan pekerti umat Yahudi. Itu dimulai dari ayat 47, dan akan membentang melintasi tak kurang dari 57 ayat ukuran panjang, sampai ayat 104. Isinya semacam resume dari pekerti Yahudi secara historis dan kemudian yang aKtual. Seperti dikatakan Saiyid Quthb, alasan berpalingnya Bani Israil dari Islam adalah perasaan cukup mereka dalam memegangi ajaran nabi-nabi mereka yang terdahulu. Dengan ayat ini, yang mempertunjukkan kelakuan mereka yang mendustakan para nabi, bahkan membunuh sebahagiannya, Allah membukakan posisi mereka yang sebenarnya (Quthb, Fi Zhilalil Qur’an I: 88). Secara rincian, contoh nabi yang mereka dustakan adalah Isa, juga Muhammad, sementara yang mereka bunuh misalnya Zakaria dan Yahya.
Yang dimaksudkan dengan ‘kitab itu’, yang dalam terjemahan di atas dinyatakan diberikan kepada Musa, adalah Taurat. Sedangkan tentang kebijaksanaan Allah mengiringkan rasul-rasul di belakang Musa, berkata Rasyid Ridha: ’’Tidak pernah sejarah mengenal suatu bangsa yang didatangi rasul-rasul secara berturut-turut seperti bangsa Israil’’ (Rasyid, Al-Manar I: 376). Tak mengherankan, karena jarak yang begitu dekat antara satu dengan yang lain, rasul-rasul itu berdakwah ‘’dalam modus yang satu dan syariat yang satu’’, seperti dikatakan Ibn Jarir. Dalam hal itu, nabi-nabi sesudah Musa sampai ke Isa a.s., semuanya bertugas mengajak Bani Israil menegakkan Taurat, mengamalkan isinya dan menjadikannya rujukan (Ibn Jarir Ath-Thabari, Jami’ul Bayan I: 430).
Adapun nabi-nabi itu antara lain Yusya, (Yoshua), AsymawIL (Syamwil, Samuel), Syam’un (Samson), Dawud, Sulaiman, Sya’ya (Hosea), Armia (Yeremia), ‘Uzair (Ezra; Ezra memang pengucapan lain untuk ‘Uzair, dan bukan untuk Azar — bapak atau paman Ibrahim), Hazqil (Yehezkiel), Ilyas (Elias), Ilyasa, (Elisak), Yunus (Yonah), Zakaria, dan Yahya (Zamakhsyari, Al-Kasyasyaf I: 294.). Sampai kemudian datang Isa dengan syariat baru. Itulah sebabnya nama isa disebutkan secara eksklusif, dalam ayat, sementara nabi-nabi yang lain hanya disinggung secara global dan tanpa nama. Syariat Isa, kata Razi, ’’menghapus sebagian besar syariat Musa a.s. ‘’(Al-Fakhrur Razi, At-Tafsirul Kabir III: 189). Menurut Ibn Katsir, sih, tidak seperti itu benar. Isa a.s., katanya, datang dan ’’menyelisihi Taurat untuk sebagian hukum.’’ (Ibn Katsir, Tafsirul Quranil ’Azhim I: 122).
Yang 100% berlawanan dengan Razi adalah kaum Ahmadiyah yang tumbuh belakangan. Bagi mereka, Isa a.s. tetap nabi Taurat, dan kenyataan adanya Injil tidak menunjukkan pada syariat baru. Sebab, seperti dikatakan nabi itu sendiri sepanjang penuturan Perjanjian Baru, bukannya beliau datang untuk merombak hukum Taurat, melainkan untuk menggenapkannya. Bisa dilihat pendapat ini sejalan dengan klaim mereka mengenai Mirza Ghulam Ahmad sebagai, selain Imam Mahdi yang akan datang di akhir zaman, juga Al-Masih yang dijanjikan, dan bahwa Al-Masih itu akan memakai syariat Muhammad, sebagaimana ia di masa hidupnya dahulu memakai syariat Musa. Dengan kata lain, Isa Al-Masih adalah ’’nabi ummati’’ (nabi yang umat Muhammad); dan demikian Ghulam Ahmad, yang oleh Ahmadiyah Qadiani diyakini sebagai nabi, tak lebih dari ‘’nabi ummati’’. Keyakinan yang terakhir itu memunculkan kesempatan ulama untuk menganggap Ahmadiyah Qadiani sebagai bukan Islam.
Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat. Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Panji Masyarakat, 29 Desember 1997