Aktualita

Selamat Jalan Ny. Meriyati Hoegeng

Dengan didahului pembacaan Surat Keputusan Presiden RI Prabowo Subianto tentang penganugerahan tanda kehormatan Bintang Bhayangkara Pratama atas keberanian, kebijaksanaan dan ketabahan luar biasa melebihi panggilan kewajiban sebagai warga negara bukan anggota polisi atas jasa-jasanya untuk kemajuan dan pengembangan kepolisian, jenazah almarhumah Ny. Meriyati Roeslani Hoegeng atau dikenal sebagai Ibu Merry Hoegeng diturunkan ke liang lahat diiringi tembakan salvo sebagai tanda penghormatan. Meriyati Hoegeng dimakamkan di sebelah makam suaminya Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso (1921 – 2004) di TPBU Giritama, Tajur Halang, Bogor.

Meriyati Hoegeng berpulang menghadap panggilan Allah Swt dalam perawatan di Rumah Sakit Polri R. Said Soekanto Kramat Jati, Jakarta Timur, tanggal 3 Februari 2026. Dilahirkan di Tegal, Jawa Tengah, 23 Juni 1925, menikah dengan Hoegeng Iman Santoso pada 31 Oktober 1946.

 Pertengahan tahun lalu dirayakan ulang tahunnya ke-100 dihadiri Kapolri dan sejumlah tokoh nasional. Allah Swt memberinya usia 100 tahun sebagai karunia yang luar biasa. Sebuah buku yang mengabadikan perjalanan hidup Meriyati Hoegeng berjudul “Meriyati Hoegeng: 100 Tahun Langkah Setia Pengabdian”, disusun oleh cucunya, Krisnadi Ramajaya Hoegeng, diluncurkan pada hari ulang tahun yang ke-100 tanggal 23 Juni 2025.  

Kepergian almarhumah Meriyati Hoegeng membuka ingatan publik terhadap  sosok panutan almarhum Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Polisi yang bersih, jujur, tidak mempan disogok dan sangat antikorupsi itu menjabat Kepala Kepolisian RI (Kapolri) ke-5 tahun 1968 – 1971. Nama dan kisah hidupnya menjadi legenda hingga kini. Ada anekdote dari almarhum Gus Dur (Presiden K.H. Abdurrahman Wahid) yang menyebut tiga polisi jujur; Hoegeng, patung polisi dan polisi tidur.

Kejujuran dan kesederhanaan Hoegeng yang wafat pada 14 Juli 2004 tidak terlepas dari dukungan sang istri. Benteng kejujuran dan sikap antikorupsi adalah keluarga dan lingkungan terdekat. Meriyati Hoegeng dengan tabah mengalami masa-masa sulit ketika Hoegeng dicekal oleh pihak Imigrasi dan dikucilkan pemerintah setelah menanda-tangani pernyataan keprihatinan “Petisi 50” tahun 1980 yang menyuarakan pandangan kritis 50 tokoh nasional terhadap kebijakan politik Orde Baru masa itu yang membatasi demokrasi dan kedaulatan rakyat. 

Faisal Basri dan Haris Munandar dalam buku Untuk Republik, Kisah-Kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa (2019) mengungkapkan apa yang dilakukan Hoegeng seumur hidupnya sangat sulit ditiru oleh siapa pun. Suatu ketika Hoegeng sekeluarga makan di sebuah restoran, ketika hendak membayar, pelayan restoran mengatakan sudah ada yang membayar tapi orangnya sudah pergi. Hoegeng kesal dan sejak saat itu tidak pernah mau makan direstoran lagi.

Kisah teladan lainnya, sebagai perwira polisi, Hoegeng dan keluarga hidup pas-pasan. Untuk itu istrinya, Meriyati Hoegeng pernah membuka usaha toko bunga. Toko bunga itu cukup laris dan berkembang. Pelanggannya sudah banyak dan sangat membantu ekonomi keluarganya, dari sumber penghasilan yang halal dan legal. Tetapi, sehari sebelum dilantik menjadi Kepala Jawatan Imigrasi (kini Ditjen Imigrasi) tahun 1960, Hoegeng tiba-tiba meminta istrinya agar menutup usaha toko bunga tersebut untuk seterusnya. Tanpa keberatan Meriyati Hoegeng menutup usaha. Alasan Hoegeng, nanti orang-orang yang berurusan dengan imigrasi nanti memesan bunga di tokonya sehingga bisa menjadi salah satu bentuk halus penyuapan. Hoegeng amat menjaga konflik kepentingan sebagai pejabat publik dengan standar etika yang tinggi.  

Sikap antisuap dan antigratifikasi dimulai dari rumah. Dalam buku karya ekonom Faisal Basri diceritakan, sewaktu pindah ke Medan tahun 1956, berhubung rumah dinas masih ditempati pejabat sebelumnya, seorang pengusaha mendekatinya mau menyediakan rumah dan mobil untuk Hoegeng sekeluarga, tapi Hoegeng tegas menolak. Ia memilih tinggal di Hotel De Boer menunggu sampai rumah dinasnya tersedia.

Dua bulan setelah itu, rumah dinasnya di Jalan Rivai Medan siap, betapa Hoegeng kaget melihat rumah itu sudah penuh terisi barang-barang mewah; kulkas, piano, tape recorder dan sofa. Hoegeng memerintahkan anggotanya agar mencari pengusaha yang tempo hari menawarkan rumah karena menduga dialah yang mengisi barang-barang mewah itu dan diminta segera diambil kembali. Ibu Meriyati Hoegeng sangat mendukung keputusan suaminya. Sekian hari tidak dilaksanakan pengambilan barang-barang itu, Hoegeng beserta stafnya turun tangan mengeluarkan semua barang itu dan ditaruh di pinggir jalan di depan rumah dinasnya. 

Setelah dilantik menjadi Kapolri pada tahun 1968, Hoegeng tidak mau menempati rumah dinas Kapolri di Jalan Pattimura, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ia merasa sudah betah menempati rumah yang dikontrak di Jalan Madura (sekarang Jalan M.Yamin) Jakarta Pusat yang sudah lama dipakainya, meski rumah tua dan lebih kecil. Persoalan yang timbul, pemilik rumah menolak uang sewa untuk Kapolri. Maka penyelesaiannya, Gubernur Ali Sadikin turun tangan, rumah itu ditalangi Pemerintah DKI Jakarta agar bisa dimiliki Hoegeng, tapi Hoegeng menolak. Akhirnya disepakati Hoegeng boleh mencicil semampunya dan sertifikat atas nama istrinya Ny. Meriyati Hoegeng. Pada tahun 1998 rumah itu dijual, sebagian uangnya digunakan untuk membeli rumah di Depok.

Hoegeng Iman Santoso mengakhiri masa jabatannya sebagai Kapolri tanggal 2 Oktober 1971. Pemberhentiannya pada usia 51 tahun sangat mendadak dan sebelum waktunya. Saat itu Mabes Polri sedang memproses kasus kejahatan penyeludupan mobil mewah melibatkan pengusaha besar yang punya kedekatan dengan pusat kekuasaan.

Hoegeng minta waktu untuk menghadap Presiden, dan bertanya apa kesalahannya hingga dicopot. Presiden Soeharto tidak menjelaskan alasan pencopotannya, tetapi menawari Hoegeng jabatan Duta Besar. Hoegeng tidak bersedia dan hanya siap kalau ditugaskan di dalam negeri. Ia selama ini dididik sebagai polisi, bukan untuk jadi diplomat, ungkapnya. Presiden menjawab, “Jabatan di dalam negeri sudah penuh.” Hoegeng saat itu mengatakan; baiklah kalau begitu saya pensiun saja.

Ketika pensiun Hoegeng tak punya mobil pribadi, dan sempat tidak memegang uang sementara uang pensiunnya masih diproses. Dilihat sepintas, sikap jujur, bersih dan teguh memegang prinsip bagi sebagian orang cukup repot dan tidak mudah. Tetapi itulah yang pada akhirnya membahagiakan dan membawa ketenangan jiwa. Marwah dan harga diri seseorang serta keselamatan di akhirat adalah karena kejujuran dan menjaga amanah.  

Kata-kata bijak (quotes) Hoegeng yang sering menjadi kutipan: “Baik menjadi orang penting, tetapi jauh lebih penting menjadi orang baik. Selesaikan tugas dengan kejujuran karena kita masih bisa makan nasi dengan garam.”  

Kisah hidup Meriyati Hoegeng banyak diulas oleh media. Metrotvnews.com  melukiskan almarhum Meriyati Hoegeng bukan hanya saksi kejujuran polisi Hoegeng, tetapi juga bagian penting dari perjuangan Hoegeng dalam menjaga nilai kejujuran, meski harus mengorbankan kenyamanan hidup. 

Generasi penerus bangsa patut belajar dan berkaca dari sosok Jenderal Polisi Hoegeng dan Ny. Meriyati Hoegeng, agar nilai-nilai hidup yang bersih dan luhur tidak lenyap dari realita dan dunia nyata.  Salah satu pesan terakhir Meriyati Hoegeng yang sempat direkam oleh keluarganya, “Jadilah contoh. Jadilah teladan, dan mulailah dari dirimu sendiri.” Keluarga Hoegeng selamanya hidup sederhana di tengah jabatan tinggi dan rawannya penyalahgunaan jabatan. 

Pada hari Rabu 4 Februari 2026 dengan upacara kebesaran, Mabes Polri menyelenggarakan pemakaman jenazah almarhumah Meriyati Hoegeng. Yang bertindak sebagai inspektur upacara adalah Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri Komjen Polisi Yuda Gustawan, dan dihadiri Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo beserta para pejabat utama Polri. Sewaktu menjabat tangan Bapak Kapolri, saat ramah tamah seusai upacara pemakaman, saya sampaikan, “Turut berduka cita kepada keluarga besar Polri. Semoga Polri makin baik Pak!”    

Selamat jalan Ny. Meriyati Hoegeng. Semoga diterima di sisi Allah Swt dan diberi-Nya tempat yang layak di surga.

M. Fuad Nasar

Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Kementerian Agama RI, Penggiat Literasi. Ia juga penulis tetap majalah Panji Masyarakat dan panjimasyarakat.com

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button