Aktualita

MENGENANG TRY SUTRISNO: KRITIS, KONSISTEN DAN INGATANNYA KUAT

Mari kita mulai dengan menyimak berita yang ditulis wartawan RMOL.ID Adityo Nugroho, Selasa 13 Mei 2025 sebagai berikut: “Try Sutrisno: Yang Penting Saya Tidak Jual Negara“.

Usia lanjut, tulis Adityo, tidak membuat Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno berubah. Mantan Wakil Presiden dan Panglima TNI itu tetap memiliki semangat juang dan sikap kritis. Informasi ini disampaikan wartawan senior Bambang Wiwoho. Kemarin, Senin 12 Mei 2025, Bambang bersama Prijanto. yang merupakan salah satu tokoh TNI dengan jabatan terakhir Aster KSAD dengan pangkat Mayor Jenderal,  sowan ke kediaman Try Sutrisno di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Selain untuk bersilaturahmi keduanya datang untuk mengobrol santai, tanda kepedulian pasca nama Try Sutrisno banyak jadi bahan pemberitaan belakangan ini.

Berikut kutipan berita selengkapnya: “Saya nggak apa-apa kok dikatain macam-macam. Yang penting saya tidak jual negara,” ucap Try Sutrisno di depan pintu seperti ditirukan Bambang saat dirinya bersama Mayjen TNI (Purn) Prijanto pamitan.


Try Sutrisno, kata Bambang, nampak segar dan sehat. Semangat juang dan sikap kritisnya terhadap keadaan bangsa dan negara ibarat api nan tak kunjung padam. Try Sutrisno bercerita banyak hal mulai dari kenangan pribadi hingga delapan butir tuntutan purnawirawan prajurit TNI yang ikut ditandatanganinya.

“Masya Allah sebagai orang besar, mantan Pangab dan mantan Wapres beliau mengingatnya. Di usianya yang jelang 90an menyebutkan nama teman seperjuangan nyaris ingat semua. Beberapa kali juga menyebut delapan tuntutan dengan rinciannya, dengan penekanan yang paling urgent dan mendasar adalah kembali ke UUD 1945 untuk selanjutnya disempurnakan dengan cara addendum,” ujar Bambang Wiwoho.

PENYEBAB KEADAAN CENDERUNG MEMBURUK

Tujuh butir tuntutan purnawirawan lainnya yang disinggung dengan kritis oleh Try Sutrisno adalah soal dampak Amandemen Undang Undang Dasar tahun 2002. Try Sutrisno mewanti-wanti agar kita mewaspadai serta mengantisipasi kecenderungan yang semakin memburuk pasca Amandemen tersebut.

Dari tujuh butir lainnya yang menurut Try Sutrisno juga perlu diwaspadai yakni potensi invasi senyap dari tenaga kerja asing. Sebab jika dimobilisasi bisa menjadi tidak kurang dari 60 batalion asing yang mengancam negara dan bangsa.

“Semoga Pak Try dianugerahi tetap sehat, bahagia dan berkah melimpah mendampingi bangsa Indonesia mengatasi kecenderungan buruk tadi. Amin,” demikian kata Bambang Wiwoho.

Diketahui, nama Try Sutrisno jadi bahan perbincangan menyusul pernyataan sikap Forum Purnawirawan TNI yang menarik perhatian lantaran salah satu tuntutannya meminta agar Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka diganti. Dokumen pernyataan sikap ditandatangani oleh 103 jenderal, 73 laksamana, 65 marsekal dan 91 kolonel. Try Sutrisno tertanda mengetahui tuntutan ini.

Dokumen tuntutan dibacakan mantan Danjen Kopassus Mayjen TNI (Purn) Soenarko di acara Silaturahmi Purnawirawan Prajurit TNI dengan tokoh masyarakat pada 17 April 2025. Pernyataan sikap tersebut lalu ditayangkan dalam siaran di sejumlah akun YouTube.

Adapun delapan tuntutan purnawirawan prajurit TNI yakni kembali ke UUD 1945 asli sebagai dasar tata hukum politik dan pemerintahan; dukungan terhadap program Kabinet Merah Putih (Asta Cita), kecuali untuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN); penghentian proyek strategis nasional (PSN) seperti PIK 2 dan Rempang yang dinilai merugikan rakyat dan merusak lingkungan; penolakan tenaga kerja asing asal Cina, serta desakan agar seluruh TKA ilegal dipulangkan; penertiban pengelolaan tambang yang dinilai tidak sesuai dengan Pasal 33 Ayat 2 dan 3 UUD 1945.

Kemudian, reshuffle menteri yang terindikasi korupsi, dan pemutusan hubungan dengan aparat yang masih loyal pada kepentingan Presiden RI ke-7; Pengembalian fungsi Polri pada urusan Kamtibmas di bawah Kemendagri, dan terakhir penggantian Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka karena keputusan MK yang dinilai melanggar hukum dan etika peradilan. Demikian tulis Adityo Nugroho.

POTENSI ANCAMAN 60 BATALION ASING

Laporan RMOL.ID dan beberapa media massa lainnya itu memperoleh tanggapan dari pakar geopolitik Irjen Pol (Purn) M. Arief Pranoto yang menyatakan kunjungan pak Prijanto dan saya ke kediaman Panglima ABRI ke 9 itu sekilas seperti silaturahmi biasa antar senior-yunior, atau antara atasan-bawahan, ataupun merajut kembali pertemanan lama, dan lainnya. Namun, siapa sangka bahwa hikmah pertemuan tersebut justru tak lazim. Tidak biasa-biasa saja. Ada hal-hal luar biasa yang wajib dipetik hikmahnya oleh segenap anak bangsa baik yang bersifat keteladanan, keteguhan maupun kewaspadaan nasional.

Tulis Mas Arief, demikian saya biasa memanggilnya, “Saya nggak apa-apa kok dikatain macam-macam. Yang penting saya tidak jual negara.” Plong! Tanpa beban. Ini sikap kenegarawanan Pak Try yang patut diteladani kita bersama. Kenapa? Selain siap ‘dibenci’ oleh rezim bahkan tak populer di mata publik karena memperjuangkan sesuatu; berani ambil risiko terhadap apa yang diperbuat; juga, keteguhan pilihan atas hal-hal yang diyakininya benar (tidak munafik). Itu yang pertama soal keteladanan.

Yang kedua, penekanan Pak Try terhadap delapan butir Pernyataan Sikap yang beliau ikut tanda tangan, titik fokusnya justru di poin ke-1 yakni kembali ke UUD 1945 yang asli untuk disempurnakan melalui teknik adendum. Sedang tujuh butir lainnya, kata beliau, itu dampak dari amandemen empat kali UUD (1999, 2000, 2001, 2002).

Yang ketiga, dari 7 (tujuh) butir lainnya, ada satu yang perlu diwaspadai yakni potensi invasi senyap dari tenaga kerja asing (Red: TKA China), yang jika dimobilisasi tidak kurang dari 60 batalion tentara asing mengancam kita.

Selanjutnya beliau wanti-wanti agar selalu waspada serta mengantisipasi kecenderungan situasi dan kondisi yang semakin memburuk pasca UUD 1945 diamandemen empat kali (1999-2002).

Perihal maraknya gelombang TKA khususnya dari China yang jika dimobilisasi bisa menjadi sekitar 60 batalion tentara, menurutnya, dalam geopolitik (dan geostrategi), jika hasil penginderaan atas 60 batalion tadi bersifat A1, sesungguhnya China tengah menerapkan apa yang disebut dengan istilah ‘Strategi Kuda Troya’, yaitu memasukkan militer ke dalam kedaulatan negara lain secara nirmiliter. Dalam hal ini melalui investasi asing berskema Turnkey Project Management (TPM) di mana mulai dari top management, material, money, man power dst hingga ke kuli-kuli pun diboyong dari negara asal.

Siapa berani menjamin, jika kuli-kuli dalam TPM itu bukan tentara merah? Demikian M.Arief Pranoto (https://islamjawa.wordpress.com/2025/05/22/waspadai-mobilisasi-60-an-batalion-militer-asing-di-indonesia/

TNI HARUS TERUS MENGKRITISI KEADAAN.

Beberapa hari sebelumnya, tepatnya 6 Mei 2025, saya menulis di Instagram dan Facebook begini:

“Lihat perkembangan pemberitaan tentang Pak Try Sutrisno belakangan ini,  saya jadi terharu dan kangen pak Try, dan pingin sowan. Terakhir Sabtu 22 Juli 2023 bersama pak Prijanto. Dalam pertemuan itu selain banyak ngobrol nostalgia, ketika mau pulang beliau menyatakan dua hal: 

Pertemuan 29 Oktober 2022: TNI Harus Kritis. Penulis di ujung kanan

Pertama, akan menyampaikan tanpa jemu kepada orang-orang dekatnya dan jajaran TNI termasuk para purnawirawan, agar meneruskan apa yang sudah disampaikan pada 29 Oktober 2022 dalam rangka memperingat Sumpah Pemuda, yakni agar TNI HARUS terus mengkritisi keadaan terutama yang terus memburuk akibat Amandemen UUD.

Catatan tambahan, tentang UUD 1945, dalam peringatan tersebut ia berpendapat perlu dilakukan Dekrit Terkoordinasi Kembali ke UUD 45 Asli, dan secara istiqomah sebagaimana banyak dikutip di media massa dan buku sejak 2002, untuk selanjutnya dikajiulang dan disempurnakan dengan cara adendum

Kedua, mengajak memilih dan mendukung Calon Presiden Prabowo.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda diatas diselenggarakan di Jakarta oleh Gerakan Kebangkitan Indonesia (yang dimotori Mayjen (Purn) Prijanto bersama Sekolah Tinggi Hukum Militer. Dalam acara tadi penulis pun diminta berbicara tepat sebelum Pak Try Sutrisno, untuk menjelaskan kilas balik tentang gagasan kaji-ulang, yang merupakan taktis perjuangan karena di awal 2000an, gerakan kembali ke UUD 1945 Asli oleh generasi muda dan mahasiswa dianggap mau menggembalikan rezim Orde Baru. Bersyukur pada tahun 2015 mereka memahami dan menyadari kerusakan akibat dari Amandemen UUD, untuk kemudian berubah sikap. (Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945? Buku Republika 2019: 241 – 244).

Bersama Puang Ali Yafie berkunjung di rumah Penulis Beberapa tetangga ikut datang ingin berkenalan.

Kisah perjuangan Pak Try bersama sejumlah sahabat antara lain K.H. Ali Yafie dan Hariman Siregar didokumentasikan rapi dalam berbagai buku antara lain Rapatkan Barisan Untuk Kebangkitan Indonesia Raya, Indonesia Raya Bangkit atau Hancur, Polemik Cabut Mandat SBY, Jangan Sampai Kualat Rakyat Harus Bergerak, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945?. Sedangkan yang bersifat dakwah yaitu seri buku saku Iqra dan Spiritual Journey (Siyahah Ruhiyyah).

Sampai menjelang wafat, pak Try tetap konsisten dengan sikap dan perjuangannya tersebut, yang antara lain ditegaskan dalam acara peluncuran dan bincang buku Sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Perubahan UUD 1945 di Kompas Institute, Jakarta 4 Juli 1945. Juga dalam acara Memperingati Dekrit Presiden 5 Juli 1959 di Universitas Jayabaya, Jakarta 15 Juli 2005.

MEMPRAKARSAI “SPIRITUAL JOURNEY”

Pada tanggal 6 Mei 2025 itu, saya  memposting lagi di Instagram dan Facebook video Pak Try yang duduk santai mengenakan piyama sambil melihat video di laptop. Saya menulis, Pak Try Sutrisno adalah satu dari tiga Jenderal sepuh yang saya kenal (BW: sampai wafatnya), jernih, tidak pikun dan tetap kritis tanpa ambisi pribadi kecuali peduli terhadap keadaan bangsa dan negaranya.

Peserta spiritual journey

Dua lainnya adalah Jenderal Sayidiman Suryohadiprojo (21 September 1927 – 16 Januari 2021) serta Jenderal Widjojo Soejono (9 Mei 1928 – 11 Mei 2022). Jelang tutup usia, keduanya sempat memberikan wasiat  brilian  melalui buku saya: Membaca Nusantara dari Afrika. Menelusuri Jejak Para Pejuang Yang Terbuang, yang terbit pada Maret 2021.

Pak Try, insya Allah 15 November yang akan datang genap 90 tahun. Jadi sekarang memasuki 90 tahun, tulis saya. Bagaimana beliau mengikuti perkembangan keadaan? Video istimewa ini menunjukkan salah satu kebiasaan beliau mencermati keadaan melalui media sosial dari layar laptop (tambahan BW: bagaimana dengan para pemimpin negara kita dalam membaca keadaan baik maupun buruk?). Kebetulan yang terekam ini adalah kegiatan Mayjen TNI (Purn) Prijanto di Rumah Persiapan Kembali Ke UUD 1945 Asli.

Sejak muda Pak Try dikenal sangat ramah dan bersahabat. Namun tatkala menjabat Wakil Presiden, beliau pernah berpesan kepada saya untuk menyampaikan ke para sahabat, karena masalah protokoler,  akan mengurangi silaturahmi langsung, agar tidak merepotkan. Beliau menambahkan,  jika sudah tidak terikat protokoler ketat,  akan menemui para sahabat. Itu dibuktikan, dan saya ikut kebagian karena  berkunjung ke rumah dan kebun kami, bahkan yang luar biasa, menyempatkan diri menimang cucu-cucu kami.

Pak Try didampingi penulis menyalakan api unggun di suatu malam Siyahah Ruhiyyah di Sukabumi.

Bersama Kyai Ali Yafie, Jenderal Suryadi Soedirdja (BW: juga Saadillah Mursyid dan Prof. Dr. Mubarok) dan saya sebagai pelaksana sekaligus tuan rumah, beliau (beserta nyonya) menyelenggarakan beberapa kali malam Siyahah Ruhiyyah atau Spiritual Journey setiap 3 bulan sekali (selama sehari semalam) yg diikuti sejumlah mantan pejabat, purnawirawan dan sahabat. (BW : dalam spiritual journey para peserta diajak untuk (1)  tahadduts bin ni’mah atau merenungkan pengalaman hidup; (2) muhasabah atau membuat neraca kehidupan terutama mengenai apa yang telah kita terima dan nikmati, dengan kewajiban yang telah kita tunaikan, apakah sudah sebanding? (3) meluruskan Kompas kehidupan).

Pak Try pada HUT Indemo

Dengan pengalaman tersebut saya tidak  heran jika sebelum menandatangani 8 pernyataan ratusan purnawirawan yang diumumkan terbuka 17 April 2025, beliau meminta sahabat-sahabat yunior yang datang untuk  menunggu salat istikharah dan tafakur — yg ternyata memakan waktu sekitar 2 jam. Bagaimana menurut anda? Apakah itu karena beliau pikun? Kampungan? Semoga Tuhan Yang Mahakuasa senantiasa menyayangi, mengasihi dan melindungi Pak Try. Amin.

MENGENAL LANGSUNG SEJAK AWAL 1974

Suatu kehormatan, nama saya disebut dalam buku biografi Pak Try, Pengabdian Tiada Akhir, yang ditulis wartawan Istana yunior saya, Carmelia Sukmawati, yang baru saya kenal setelah bukunya terbit (halaman 58, 59 dan 65).

Penulis di Kantor Wapres Try Yry Sutrisno

Namun saya mengenal langsung Pak Try awal Januari 1974 tatkala beliau mulai menjabat sebagai ajudan Presiden Soeharto, menggantikan Kolonel Suharso yang memasuki masa pensiun. Juga karena secara kebetulan beliau bersahabat baik dengan seniornya di Akademi Teknik Angkatan Darat, Kolonel Prasetyo Sudarto, yang bersahabat pula dengan saya.

Saya bersama Kolonel Sudarto, sering dipanggil Mayjen Ali Moertopo di salah satu kantornya di Jl.Tanah Abang III No. 25, di samping  untuk menemani mengisi waktu senggangnya, juga kadang-kadang diminta mengkritisi sesuatu gagasannya.

Pada suatu malam sekitar pertengahan tahun 1973, kami berdua dipanggil. Antara lain kisah inilah yang ditulis dalam buku biografi Pak Try. Dalam kesempatan itu Pak Ali meminta Pak Darto, demikian saya memanggilnya,  untuk bersedia menjadi ajudan Presiden Soeharto menggantikan Kolonel Suharso. Karena sudah terbiasa bertugas sebagai intelijen yang sehari-hari berpakaian sipil dan bergaul bebas, Pak Darto dengan halus menolak tugas tersebut. Ali Moertopo yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) sekaligus Pimpinan Opsus (Operasi Khusus) merangkap Asisten Pribadi Presiden, bisa memahami alasan penolakan Pak  Darto, dan kemudian meminta masukan siapa yang sebaiknya diusulkan untuk menggantikannya. Tatkala Kolonel Sudarto mengajukan nama Try Sutrisno dengan sejumlah pujian dan rekomendasi positif, spontan Ali Moertopo menyetujui. 

Beberapa waktu kemudian perbincangan tersebut menjadi kenyataan. Try Sutrisno diangkat menjadi Ajudan Presiden Soeharto. Sebagai wartawan yang ditugasi meliput kegiatan kepresidenan, otomatis perkenalan kami menjadi intens, alhamdulillah sampai beliau wafat Senin 2 Maret 2026.

Sebagai orang baik, sebagai pejabat tinggi, Wakil Presiden dan Jenderal,  Pak Try mudah bersahabat dan bergaul akrab dengan siapa saja, tanpa membeda-bedakan status. Banyak kisah serta perhatiannya terhadap berbagai masalah sosial keagamaan yang terjadi di masyarakat, misalnya bagaimana beliau bersama sejumlah tokoh seperti Kyai Ali Yafie, mantan Menteri Dalam Negeri Suryadi Soedirdja, Ny. Etty Mar’ie Muhammad, Monang Siburian, Amran Zamzami, Martiono Hadianto, B. Wiwoho dan lain-lain, membentuk tim penanggulangan bencana tsunami Aceh tahun 2004. Beliau juga memberikan perhatian besar terhadap upaya pembauran yang kami rintis tahun 1991 dengan mendirikan Yayasan Haji Karim Oei (Tjeng Hien) dan Masjid Lautze.

Semoga Almarhum bahagia dalam dekapan kasih sayang Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amin.***

Bambang Wiwoho

Pemimpin Umum Panji Masyarakat; telah menulis lebih dari 50 judul buku; terakhir Tonggak-tonggak Orde Baru (3 Jilid) yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas (2024).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button