Di antara kegemaran kami di masa kanak-kanak adalah main tebak-tebakan. Kami menyebutnya babadean atau tatarucingan. Segala rupa objeknya, Dari hal-hal yang sifatnya iseng, seperti buah apa yang jika dipuas tertawa sampai kelihatan giginya; pengetahuan umum seperti nama-nama presiden, ibu kota negara, pemain sepak bola, sampai ke soalagama. Misalnya, tentang nam-nama malaikat dan para nabi. Sumber pengetahuan kami waktu itu adalah guru-guru di sekolah atau madrasah, guru ngaji, obrolan orang-orang tua, dan orangtua sendiri. Yang paling modern sumber pengetahuan kami kala itu adalah radio. Televisi belum masuk desa kam. Apalagi koran.
Salah satu yang masih terkenang sampai sekarang adalah pertanyaan Islam itu apa? Ada yang jawab, “Islam itu, ya agama. Agama kamu apa, Islam kan?”
“Lalu apa bedanya dengan Kristen, Hindu, Budha, yang juga agama?” kata anak yang mengajukan pertanyaan tadi. Dia sedikit lebih tua atau paling gede di antara kami. Karena tidak ada yang bisa jawab, pertanyaan itu akhirnya ia jawab sendiri.
“Islam itu hurufnya lima: I, S. L. A. dan M. I itu artinya Isya, S itu Subuh….” Belum lagi dia selesai meneruskan singkatan itu, kami berlomba-lomba, persisnya adu kuat suara, untuk mengartikan singkatan huruf-huruf berikutnya.
Jawabnya terang benderang, hanya orang Islam yang menjalankan salat lima waktu. Nah itu bedanya, dengan Kristen dst. Itu.
Kata guru ngaji kami yang kebetulan nguping tebak-tebakan itu bilang, bahwa orang Islam itu tidak hanya wajib salat lima waktu, tapi juga kudu puasa dan munggah haji bagi yang kuasa atau mampu saja. “Sebab, rukun Islam itu ada berapa anak-anak?” kata Pak Ustaz. Kami pun serempak menjawab: ada lima, pertama membaca dua kalimat syahadat dst.
Kata Kiai Ali Yafie (Almarhum) jika orang Islam ditanya “apa itu Islam”, sebagian besar akan menjawab dengan menunjukkan bahwa orang Islam itu adalah mereka yang salat, puasa di bulan Ramadan, naik haji dan seterusnya. Kata beliau, “Jawaban itu benar, tetapi terlalu minim dan tidak menyentuh asas yang sesungguhnya. Ia hanya menyentuh bagian luar makna Islam itu.” (Ali Yafie, Beragama Secara Praktis Agar Hidup Lebih Bermakna, 2002).
Ali Yafie menjelaskan bahwa “Islam” berasal dari akar kata bahasa Arab yaitu ”salam”. Kata ini mempunyai tiga muatan arti, yaitu keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan. “Ketiga makna dasar ini merupakan dambaan dan kepentingan seluruh umat manusia, bahkan seluruh makhluk, karena manusia berkepentingan untuk menikmati keselamatan lahiriah, artinya tidak cacat fisik, tidak sakit, tidak terancam bahaya, dan sebagainya. Itulah yang dinamakan selamat dan semua orang berkepentingan untuk mencapai keselamatan itu. Demikian pula dengan kedamaian dan kesejahteraan, itu merupakan kepentingan seluruh manusia.”
Kata “salam” yang kemudian ditambahkan huruf “alif” di depannya, kata Ali Yafie, menjadi “islam”. Dengan adanya tambahan itu, maka maknanya berubah menjadi “suatu upaya meraih dan mewujudkan tiga hal di atas yaitu keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan. Jadi secara lebih luas, Islam menurut Ali Yafie bisa dimaknai sebagai “upaya untuk meraih dan mewujudkan keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia, baik individu maupun kolektif.” Oleh karena itu pula, kalau orang mengaku beragama Islam saja, menurut Ali Yafie, itu belum memenuhi makna tersebut, karena Islam artinya upaya meraih tiga hal itu. Kesadaran berbuat dengan patuh dan tunduk melaksanakan petunjuk-petunjuk tersebut itulah hakikat “Islam”, dan pelakunya disebut “muslim”.
Lalu apa yang harus kita tempuh untuk mewujudkan dan merealisasikan konsep “salam” itu dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat? Bersambung
