Cakrawala

Elite dan Budaya Politik Bangsa

Prolog

Ada pertanyaan yang sering muncul ketika kita melihat perjalanan Republik ini: Mengapa Indonesia, sebuah negara besar dengan sumber daya alam melimpah, jumlah penduduk besar, dan posisi geopolitik strategis, sering terlihat tidak memiliki arah strategis yang konsisten?

Banyak orang menjelaskan persoalan ini dengan menunjuk kepada kualitas pemimpin, sistem politik, atau kepentingan ekonomi. Semua penjelasan itu ada benarnya. Namun jika kita menelusuri lebih dalam, akar persoalan ini sebenarnya jauh lebih tua. Ia berkaitan dengan cara elite bangsa ini terbentuk sejak masa kolonial dan dengan budaya politik yang berkembang dalam perjalanan sejarah kita.

Warisan pembentukan elite pada masa kolonial

Pada masa kolonial Belanda, elite pribumi yang muncul bukanlah elite yang dibentuk untuk memimpin bangsa merdeka, melainkan untuk membantu administrasi kolonial. Mereka dididik untuk menjadi pegawai, administrator, atau perantara antara kekuasaan kolonial dan rakyat.

Pendidikan yang diberikan kepada mereka bertujuan menciptakan kelas terdidik yang loyal kepada sistem, bukan kelas pemimpin yang merancang masa depan bangsa.

Akibatnya terbentuk pola mental yang cukup khas:
elite lebih terbiasa mengelola sistem yang ada, bukan menciptakan sistem baru.

Ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945, Republik ini lahir dengan semangat yang sangat besar, tetapi struktur elite yang memimpin negara masih membawa sebagian warisan mental kolonial tersebut. Negara yang baru merdeka ini harus berjalan dengan elite yang sebagian besar belum pernah memiliki pengalaman merancang strategi nasional jangka panjang.

Negara yang lahir lebih cepat daripada pembentukan bangsa

Ada persoalan lain yang sering luput dari perhatian. Indonesia sebagai negara lahir melalui proklamasi politik pada tahun 1945, tetapi bangsa Indonesia sendiri sebenarnya masih dalam proses pembentukan. Nusantara terdiri dari ratusan kelompok etnis, bahasa, dan budaya yang sangat beragam.

Para pendiri bangsa memahami persoalan ini dengan sangat baik. Karena itu dalam lagu kebangsaan kita terdapat kalimat yang sangat dalam maknanya:
“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.”
Kalimat ini bukan sekadar puisi. Ia adalah strategi kebangsaan. Para pendiri republik memahami bahwa sebelum negara menjadi kuat secara fisik, jiwa bangsa harus terlebih dahulu dibangun.
Namun proses membangun jiwa bangsa ternyata jauh lebih sulit dan panjang daripada membangun institusi negara.

Budaya politik yang tumbuh setelah kemerdekaan

Dalam perjalanan sejarah republik, budaya politik yang berkembang sering kali lebih menekankan perebutan kekuasaan daripada perumusan arah strategis bangsa.
Sejak awal kemerdekaan hingga masa kini, pergantian rezim sering diiringi perubahan orientasi yang cukup tajam:

  • masa demokrasi parlementer dengan instabilitas politik
  • masa demokrasi terpimpin dengan konsentrasi kekuasaan
  • masa pembangunan Orde Baru dengan stabilitas ekonomi
  • masa reformasi dengan demokrasi yang sangat terbuka.

Setiap periode membawa pendekatan yang berbeda, bahkan kadang saling berlawanan. Akibatnya strategi nasional sering terputus dan dimulai kembali dari awal.

Negara yang berhasil membangun kekuatan besar biasanya memiliki arah strategis yang konsisten selama puluhan tahun. Indonesia sering mengalami kesulitan mempertahankan konsistensi semacam itu.

Elite yang lebih sering bernegosiasi daripada merancang

Budaya politik yang berkembang setelah Reformasi semakin memperkuat pola negosiasi elite. Sistem multipartai dan koalisi luas memang memberikan ruang demokrasi yang besar, namun pada saat yang sama sering membuat kebijakan menjadi hasil kompromi jangka pendek.

Elite politik sering harus menyeimbangkan berbagai kepentingan. Seperti kepentingan partai, kepentingan kelompok ekonomi, kepentingan daerah, dan kepentingan jaringan kekuasaan.

Dalam situasi seperti ini, energi kepemimpinan sering habis untuk mengelola keseimbangan kekuatan, bukan untuk merancang arah strategis jangka panjang.

Sebuah refleksi yang menimbulkan keprihatinan

Jika dilihat dari sudut pandang ini, kesulitan Indonesia memiliki arah strategis yang konsisten bukan semata-mata kesalahan satu generasi pemimpin. Ia adalah hasil dari sejarah panjang pembentukan elite dan budaya politik bangsa.

Kita memiliki negara yang besar, tetapi sering belum memiliki kesadaran strategis yang sama kuatnya. Kita memiliki sumber daya yang melimpah, tetapi sering belum memiliki kesatuan visi yang cukup kokoh untuk mengelolanya.

Di sinilah keprihatinan sering muncul pada banyak orang yang mencintai republik ini.
Karena sesungguhnya Indonesia memiliki semua prasyarat untuk menjadi bangsa yang kuat. Namun tanpa arah strategis yang jelas dan konsisten, potensi itu dapat berjalan lambat, bahkan kadang tersesat di tengah tarik-menarik kepentingan.

Penutup reflektif

Barangkali inilah sebabnya kalimat dalam lagu kebangsaan kita tetap terasa relevan hingga hari ini: Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.

Membangun badan negara — infrastruktur, ekonomi, teknologi — memang penting. Tetapi tanpa pembangunan jiwa bangsa — integritas, visi bersama, dan kepemimpinan yang berpikir jauh ke depan — kekuatan itu sulit terarah.

Dan mungkin di situlah tugas terbesar setiap generasi:
mencoba memastikan bahwa republik ini tidak hanya bertahan, tetapi juga menemukan arah yang lebih jelas untuk masa depannya.

Martiono Hadianto: Pemerhati Bangsa, Mantan Dirjen BUMN dan Dirut BUMN Strategi

Martiono Hadianto

Pemerhati Bangsa, Mantan Dirjen BUMN dan Dirut BUMN Strategis

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button