Fazilah Puteri, nama anak itu. Baru berusia 9 tahun, duduk di Kelas 2 SD Community Learning Center (CLC) Ladang Pendirosa, Kinabatangan 2, Sandakan, Sabah, Malaysia Timur (sekitar 10 jam perjalanan darat dari Kota Kinabalu). Walau tubuhnya kecil-mungil, kemampuannya dalam seni menari ternyata luar biasa.

Itu terbukti tatkala bocah keturunan Pinrang itu menjadi Juara 1 Tari Berpasangan bersama rekannya Nur Asyifa (Kelas 5 SD). Keduanya berhasil mempersembahkan sebuah medali emas untuk CLC-nya melalui tarian apik berjudul “Rantak Rimba Borneo” karya Didib Riwayadi, Guru CLC sekaligus pelatih tarinya.
Fazilah-Asyifa adalah salah sepasang contoh “mutiara” yang berhasil bersinar dalam Pesta Sains, Seni dan Olahraga Anak Indonesia di Malaysia (PESSONA) 2 Tahun 2025. Ajang ini diselenggarakan oleh Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Sabah, pada 19-20 September 2025, di SIKK. Masih banyak mutiara lain yang juga bermunculan, selaih Fazilah-Asyifa.

PESSONA 2 dibuka secara resmi oleh Kepala Sekolah SIKK, di depan sekitar 300-an hadirin yang terdiri dari peserta, guru pendamping, juri, Guru SIKK serta perwakilan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu.
Program tahun kedua itu menjadi wadah unjuk kemampuan bagi pelajar-pelajar terbaik CLC tingkat SD dalam bidang akademik, seni dan olahraga. Total pesertanya 504 Pelajar SD dari 63 CLC di wilayah kerja KJRI Kota Kinabalu (meliputi Pantai Barat, Pedalaman, Kundasang-Ranau, Sandakan, sampai Kinabatangan 2). Tim juri berasal dari unsur Guru SIKK, akademisi dan insan profesional.
“PESSONA bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga wadah bagi anak-anak Indonesia untuk belajar bekerjasama, menjunjung sportivitas, menumbuhkan rasa percaya diri, serta menyalurkan kreativitas. Semangat dan antusiasme para peserta menjadi bukti tekad kuat pelajar muda Indonesia di tanah rantau,” kata Sahyuddin dalam sambutan peresmian.
Dengan mengusung tema, “Eksplor Bakatmu, Nyalakan Semangatmu, Raih Gemilangmu”, Panitia PESSONA 2 memberi kesempatan kepada semua peserta untuk beradu kemampuan dalam berbulu tangkis, menggambar ekspresi, olimpiade IPA, olimpiade matematika, menari, menyanyi, dan membaca puisi.
Dari semua peserta, Fazilah menjadi peserta tercilik-termuda. Menurut Didib, dia adalah sosok anak yang luar biasa berbakat. Di usianya yang masih muda, ia sudah mampu menunjukkan kedisiplinan, semangat belajar, dan keberanian di atas panggung. “Paling membanggakan,” kata Didib, “Fazilah tidak hanya menari dengan indah, tetapi juga menari dengan hati. Itulah yang membuatnya berhasil menjadi juara.”
Mutiara seperti Fazilah ditemukan dari CLC, yang merupakan tempat belajar bagi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) kelahiran Sabah, untuk jenjang SD dan SMP. CLC adalah produk dari hasil kesepakatan yang baik antara Pemerintah Indonesia-Malaysia dalam bidang pendidikan yang ditandatangani pada 2011.
Di Sarawak, sebuah negeri lain di Malaysia Timur, CLC juga telah diizinkan beroperasi mulai awal 2016 dengan tujuan yang sama (hanya jenjang SD). Sampai Agustus 2025, menurut data SIKK sebagai sekolah induk, terdapat 239 CLC di Sabah dan 58 CLC di Sarawak, dengan jumlah total muridnya yang ber-NPSN 15.480 pelajar (SD) dan 5566 pelajar (SMP).
Dengan latar belakang peserta PESSONA seperti itu, tak heran jika banyak cerita seru yang dijumpai para guru pendamping di seputarnya, baik selama masa seleksi, masa perlombaan maupun setelahnya. Maklumlah, banyak dari mereka yang tinggal jauh di ladang-ladang sawit, belum pernah –atau jarang– melakukan perjalanan jauh, apalagi sampai Kota Kinabalu, dan berjumpa sekaligus berlomba atau berkompetisi dengan teman sebaya dari CLC lain.
“Semua menjadi pengalaman sangat berharga bagi mereka. Juga bagi kami sebagai guru dan pendamping. Walau cukup berat, ini tantangan yang harus kami hadapi dalam membantu melayani pendidikan mereka,” kata salah seorang Guru CLC bersemangat.
Termasuk bagi Maria Angela Dominic, pelajar cilik dari CLC Gamben Sipitang, yang berhasil meraih emas dari lomba Menyanyi Solo. “Saya senang sekali datang ke SIKK dan menjadi Juara 1,” ujarnya sumringah. Tahun lalu dia ikut juga tapi gagal. “Alhamdulillah kali ini dia berhasil,” kata Samsir, Pengelola CLC yang letaknya di perbatasan Sabah-Sarawak itu.

PESSONA 2 ditutup secara resmi oleh Machdaniar Nisfah, Pelaksana Fungsi Sosial-Budaya KJRI Kota Kinabalu. Pihaknya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para guru, pendamping, panitia, juri, dan seluruh peserta yang telah mendukung dan berkontribusi dalam kesuksesan acara ini. Ucapan selamat juga diberikan kepada para pemenang yang berhasil meraih prestasi, sekaligus penghargaan kepada seluruh peserta yang telah berani tampil dan menunjukkan bakat terbaiknya.
“Semoga PESSONA 2025 menjadi pengalaman berharga yang terus menyalakan semangat belajar, berkarya, dan berprestasi anak-anak Indonesia di Sabah, untuk bersama-sama membangun bangsa dan mengharumkan nama Indonesia,” kata Machdaniar Nisfah dalam sambutan penutupan.
Semua peserta sudah menunjukkan bakat dan kemampuan mereka, dengan semangat menyala, untuk meraih kegemilangan dalam PESSONA. Persaingan dan kompetisi dalam semua cabang lomba begitu sengit, membuat sulit para juri dan wasit, malah sampai jidat mereka berkerut dan berkenyit.

Sampai pada akhirnya, Tim CLC Lentera ternyata lebih menyala dari tim CLC lainnya dengan modal dua emas yang diraihnya: dari lomba Membaca Puisi (Nurhidayah Sudirman) dan Menggambar Ekspresi (Nur Syafiqah). Dan dengan itu, CLC non ladang dari Papar itu akhirnya resmi dinobatkan menjadi juara: Juara Umum PESSONA 2025. Bah!
Kota Kinabalu, 25 September 2025
Nasrullah Ali Fauzi, Koordinator Penghubung CLC Wilayah Kota Kinabalu.
