Aktualita

Dari Cuju ke PSSI: Merajut Benang Merah Sejarah Sepak Bola Dunia dan Indonesia

Bagi sebagian besar kita, sepak bola mungkin hanyalah permainan sebelas lawan sebelas yang berebut satu si kulit bundar. Namun, di balik riuh rendah sorak penonton di stadion hari ini, ada perjalanan waktu ribuan tahun yang membentuk sepak bola menjadi olahraga paling populer di dunia.

Mari kita melintasi lorong waktu untuk melihat bagaimana olahraga ini lahir, berevolusi, hingga akhirnya berakar kuat di tanah air kita, Indonesia.

Jejak Kuno yang Berserak di Seluruh Dunia

Jauh sebelum Inggris merumuskan aturan modern, peradaban-peradaban kuno di berbagai belahan dunia sudah mengenal permainan menendang bola.

  • Cuju (Tiongkok) : Catatan sejarah paling awal merujuk pada masa Dinasti Han (abad ke-2 SM). Saat itu, para tentara memainkan Cuju, sebuah permainan menendang bola kulit ke dalam jaring kecil untuk melatih fisik.
  • Kemari (Jepang): Di belahan Asia lain, masyarakat Jepang kuno memainkan Kemari, sebuah permainan yang lebih menekankan pada kerja sama tim menjaga bola agar tidak menyentuh tanah.
  • Harpastum (Romawi Kuno): Di Eropa, kekaisaran Romawi memiliki Harpastum, permainan bola yang cenderung kasar dan taktis.

Abad Pertengahan: Ketika Sepak Bola Menjadi “Liar”

Memasuki abad pertengahan di Inggris, sepak bola bertransformasi menjadi permainan rakyat yang sangat digemari, namun sekaligus mengerikan. Tanpa aturan yang jelas, jumlah pemain yang tak terbatas, dan lapangan berupa jalanan desa, permainan ini menjadi sangat keras dan sering kali memakan korban cedera. Begitu liarnya permainan ini, hingga beberapa kali sempat dilarang oleh raja-raja Inggris karena dianggap memicu kerusuhan.

Titik balik terjadi ketika sekolah-sekolah umum di Inggris mulai mengadopsi permainan ini. Mereka menyadari bahwa sepak bola bisa menjadi alat yang baik untuk membangun disiplin, asalkan sifat “liar”-nya dijinakkan melalui standardisasi aturan.

1863: Lahirnya Sepak Bola Modern

Momen sakral yang mengubah wajah sepak bola terjadi pada tahun 1863. Bertempat di London, didirikanlah The Football Association (FA). Untuk pertama kalinya dalam sejarah, aturan dasar sepak bola disepakati. Salah satu regulasi paling revolusioner adalah larangan keras menyentuh bola dengan tangan, kecuali bagi penjaga gawang. Pemisahan aturan ini juga yang secara resmi membedakan sepak bola (association football) dengan olahraga rugbi.

Olahraga ini pun menyebar bak virus yang menyenangkan ke seluruh dunia. Demi menaungi antusiasme global tersebut, federasi tertinggi sepak bola dunia— FIFA (Fédération Internationale de Football Association)—resmi dibentuk pada tahun 1904. Tak butuh waktu lama, panggung termegah jagat sepak bola, Piala Dunia, akhirnya digelar untuk pertama kalinya pada tahun 1930 di Uruguay.

Menyemai Benih di Nusantara : Perjalanan ke Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia? Sepak bola masuk ke nusantara dibawa oleh bangsa Belanda pada masa kolonial. Geliat olahraga ini mulai tampak nyata dengan berdirinya perkumpulan sepak bola lokal pertama, seperti Rood Wit di Batavia (Jakarta) pada tahun 1893.

Bagi bangsa Indonesia, sepak bola bukan sekadar hiburan kaum penjajah. Olahraga ini dengan cepat diadopsi sebagai alat perjuangan dan pemersatu bangsa. Puncaknya, pada 19 April 1930, para tokoh pergerakan mendirikan PSSI (Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia—yang kemudian menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) di Yogyakarta. Dipimpin oleh Soeratin Sosrosoegondo, PSSI lahir bukan hanya untuk mengurus taktik di lapangan, melainkan sebagai wadah nasionalisme untuk memupuk persatuan pemuda di tengah cengkeraman kolonialisme.

Kesimpulan

Dari sepakan fisik para prajurit Dinasti Han, keanggunan Kemari, ketegasan aturan di London, hingga semangat kemerdekaan di Yogyakarta, sepak bola telah menempuh perjalanan yang luar biasa. Hari ini, setiap kali kita melihat Timnas Indonesia berlaga atau menyaksikan liga-liga top dunia, kita sebenarnya sedang merayakan sebuah warisan budaya global yang telah dirajut selama lebih dari dua milenium. Sepak bola terbukti lebih dari sekadar olahraga; ia adalah sejarah yang terus bergerak. **

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

Ruli Alqodri Mustafa

The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon Banten

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button