Aktualita

Refleksi 112 Tahun Muhammadiyah: Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua

Muhammadiyah, organisasi dan gerakan dakwah Islam terdepan di Indonesia merayakan milad ke-112 pada tahun 2024. Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah bertepatan tanggal 18 November 1912 Miladiyah. Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah dinyatakan organisasi ini adalah Gerakan Islam, Gerakan Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Gerakan Tajdid yang bersumber pada Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Tema milad ke-112 Muhammadiyah yaitu, “Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua,” mencerminkan komitmen untuk memperjuangkan kesejahteraan yang inklusif bagi seluruh lapisan Masyarakat Indonesia. Sejalan dengan tema tersebut Muhammadiyah menegaskan pentingnya peran organisasi dalam menciptakan kondisi sosial, ekonomi, dan spiritual yang adil dan merata.

Sebuah catatan kilas balik sejarah sewaktu Dies Natalis XXII Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) tahun 1977 yang dirangkaikan dengan Wisuda Sarjana dan pemberian Gelar Doctor Honoris Causa kepada Prof. Dr. M.R. R.H. Kasman Singodimedjo, saya mengutip beberapa narasi dalam sambutan tokoh senior Muhammadiyah H.S. Prodjokusumo selaku Ketua Majelis Pendidikan dan Pengajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang tetap relevan dengan perkembangan kekinian.

Pondok Pesantren Muhammadiyah di Kauman Padang Panjang Sumateta Barat.

Sambutan dimaksud dimuat dalam buku pidato ilmiah Pak Kasman berjudul Masalah Kedaulatan. Prodjokusumo yang pernah beberapa periode menjadi Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI Pusat) mengemukakan sebagai berikut:

“Dalam keadaan yang bagaimanapun, Muhammadiyah terus melaksanakan tugasnya, mendidik dan menyerahkan hasil pendidikannya kepada masyarakat. Sebagian besar alumni Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah diserap langsung oleh masyarakat, di antaranya banyak mendapatkan tempat pengabdian pada instansi-instansi Pemerintah. Bahkan untuk Muhammadiyah sendiri hanya sedikit, suatu bukti lagi bahwa Muhammadiyah tidaklah bekerja untuk Muhammadiyah sendiri. Muhammadiyah centris itu tidak ada! Sungguh pun demikian, disadari pula bahwa untuk membina persyarikatan di masa datang, diperlukan pendidikan khusus yang terarah kepada pemenuhan hajat persyarikatan yaitu adanya kader-kader  Muhammadiyah.”

Muhammadiyah memelopori kegiatan pengumpulan zakat mal dan zakat fitrah secara terorganisir untuk disalurkan kepada fakir miskin dan para mustahik lainnya. Gerakan dakwah Muhammadiyah memelopori pelaksanaan shalat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha di lapangan terbuka sesuai yang dilakukan Nabi. Juga memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan berdasarkan perhitungan hisab. Muhammadiyah melakukan pembaharuan sistem pendidikan dalam spektrum semangat Islam yang berkemajuan. Sejak tahun lalu Muhammadiyah meluncurkan Gerakan Infak Pendidikan yang akan digunakan sebagai dana abadi pendidikan Muhammadiyah.

Ribuan lembaga pendidikan milik Muhammadiyah di seluruh pelosok negeri yang meliputi Sekolah dan Perguruan Tinggi memberi sumbangan nyata dalam melahirkan generasi terpelajar Indonesia dari masa ke masa. Generasi terpelajar Muhammadiyah dan keluaran lembaga pendidikan Muhammadiyah di seluruh tanah air turut menggerakkan bangsa menuju alam gerbang kemerdekaan dan mengisi pembangunan bangsa.

Dalam pemberdayaan perempuan Muhammadiyah sejak awal berdiri sampai saat ini memfasilitasi perempuan untuk belajar dan berkiprah di masyarakat melalui wadah pengkaderan Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah. Isu Keluarga Berencana (KB), Kesehatan Ibu dan Anak, Penanggulangan HIV/AIDS, Kesetaraan Gender, Disabilitas, Ketahanan Keluarga, dan sebagainya mendapat perhatian besar dalam program Muhammadiyah sejak puluhan tahun lalu. 

Prestasi dan reputasi Muhammadiyah di lapangan pendidikan yang mendapat pengakuan dan pujian, sekaligus tanggungjawab untuk menjaganya sampai kapan pun. Menteri Agama Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, MA, saat memberikan sambutan pada Sidang Tanwir dan Resepsi Milad 112 Tahun Muhammadiyah di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang dibuka secara resmi oleh Prabowo Subianto, menyebut bahwa Muhammadiyah sangat berpengalaman dan profesional dalam mengelola pendidikan.

Karenanya, menurut Menteri Agama Nasaruddin Umar, Kementerian Agama ingin banyak belajar dari Muhammadiyah. Muhammadiyah telah menjadi teladan dalam profesionalisme. Kami berharap dapat terus belajar dan bekerja sama demi mewujudkan visi Indonesia yang maju dan bermartabat.  

Peran dan kontribusi Muhammadiyah sebagai pionir dalam meletakkan dasar-dasar penyelenggaraan ibadah haji tercatat abadi dalam sejarah.  Perbaikan perjalanan haji pertama kali diperjuangkan oleh umat Islam Indonesia melalui Muhammadiyah. K.H. Ahmad Dahlan membentuk Bagian Penolong Haji diketuai oleh K.H.M. Sudja’ pada 1921. Dalam kurun waktu tersebut Pengurus Besar Muhammadiyah mengirim utusan ke Arab Saudi guna memberi saran-saran perbaikan kepada pihak berwenang. Bagian Penolong Haji Muhammadiyah lebih lanjut membentuk Komite Perbaikan Perjalanan Haji beranggotakan para ulama dan kaum cendekia. Kongres Muhammadiyah di Bukittinggi Minangkabau Sumatera Barat tahun 1930 merekomendasikan agar umat Islam Indonesia mengadakan pelayaran sendiri untuk pengangkutan jemaah haji ke tanah suci.

Muhammadiyah tergolong sebagai organisasi pionir di bidang sosial tertentu melalui pendirian rumah sakit, poliklinik, rumah yatim, lembaga penanggulangan bencana untuk membantu masyarakat, dan sebagainya. Dalam hubungan ini patut diapresiasi peran yang dijalankan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) sebagai lembaga kebencanaan yang memperoleh reputasi di tingkat nasional dan global. Keberadaan Muhammadiyah membawa reformasi di bidang ibadah sosial dan penguatan civil society melalui institusi yang dihadirkan untuk semua.

Sewaktu lahirnya Muhammadiyah, pengamalan Islam di Indonesia banyak bercampur tradisi dan ritual yang bukan berasal dari Al-Qur’an dan Hadis. Perbuatan bid’ah, syirik dan khurafat merajalela. Pengaruh mistik yang berlawanan dengan tauhid, sisa-sisa kepercayaan pra-Islam,feodalisme dan tekanan penjajahan Hindia Belanda menyebabkan kehidupan umat diliputi kebekuan dan konservatisme. Muhammadiyah menghadirkan pencerahan dalam kehidupan beragama yang moderat dan berkemajuan.

Kehidupan Islam di Indonesia mendapat pencerahan dengan kehadiran Muhammadiyah yang menjelaskan agama Islam itu agama yang tidak rumit dan sesuai dengan akal sehat. Islam dapat dipraktikkan oleh semua orang. Muhammadiyah mengembangkan pikiran-pikiran modern dalam kehidupan beragama yang sumbernya langsung digali dari Al-Qur’an dan Hadis yang shahih. Muhammadiyah memodernisasi cara mengembangkan Islam, menggairahkan kerja dan ibadah serta menggerakkan Islam dengan berorganisasi menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Sejarah mencatat kegiatan tabligh KH Ahmad Dahlan ke Surabaya mengubah pandangan Soekarno muda tentang Islam hingga tertarik menjadi anggota Muhammadiyah tahun 1938. Muhammadiyah memiliki andil besar dalam menuntun kesadaran beragama kaum terpelajar baik sebelum dan setelah kemerdekaan. Dari lingkungan Muhammadiyah banyak lahir pemimpin Islam dan negarawan terkemuka yang berjuang untuk kepentingan nasional dan nasionalis yang memperjuangkan tegaknya Islam.

Jasa luar biasa dan keikhlasan K.H. Ahmad Dahlan dan istrinya Nyai Siti Walidah, keduanya setelah meninggal ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, mengorbankan hartanya untuk keperluan umat terpatri dalam sejarah Muhammadiyah. Meski Muhammadiyah pernah mendapat reaksi hebat bahkan fitnah dari kalangan yang tidak sepaham, tetapi laju perkembangannya tak dapat dibendung. Gerakan dakwah Muhammadiyah menjadi salah satu sokoguru bagi kemajuan umat dalam beragama tanpa kesan menggurui. Muhammadiyah memajukan amal usahanya tanpa merendahkan yang lain karena setiap organisasi dan perkumpulan punya kelebihannya masing-masing. Semua simpul-simpul kekuatan dan ketahanan umat harus berbuat dalam semangat fastabiqul khairat, artinya berlomba dalam kebaikan, bukan bersaing dan menjatuhkan yang lain.  

Perkembangan Muhammadiyah pertama dan terbesar di luar pulau Jawa ialah di Sumatera Barat (Minangkabau) sejak tahun 1925 di bawah pimpinan Konsul Muhammadiyah A.R. Sutan Mansur, dan disusul daerah lainnya. Pengamat asing, James L. Peacock, dari Harvard University USA menyebut peran Muhammadiyah sebagai organisasi kesejahteraan dan pendidikan swasta non-Kristen yang paling menonjol di Indonesia.

Dalam pergulatan ideologi dan politik di awal kemerdekaan, tokoh sentral Muhammadiyah, seperti Ki Bagus Hadikusumo (Ketua Umum Muhammadiyah), Kasman Singodimedjo dan Abdul Kahar Mudzakkir  memegang peranan penting sewaktu perumusan Undang-Undang Dasar 1945 dan konsensus dasar negara yaitu Pancasila.

Dalam bidang bahasa, sastra dan budaya Muhammadiyah adalah pelopor penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sebelum Sumpah Pemuda (1928), Muhammadiyah telah menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi dalam organisasi. Muhammadiyah organisasi pertama yang menggunakan bahasa Indonesia dalam kongres ke-12 pada tahun 1923 di Yogyakarta.

Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif (Ketua Umum PP Muhammadiyah masa bakti 1998 – 2005) pernah menulis, sepengetahuan saya belum ada sebuah gerakan Islam di muka bumi yang memiliki aset jaringan amal yang sebesar Muhammadiyah, dan aset tersebut disumbangkan untuk kepentingan Indonesia.

Salah satu sudut bangunan gedung kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, mengusung motto Unggul dan Islami.

Segala capaian itu tidak boleh membuat Muhammadiyah lupa diri, merasa besar diri, atau berhenti berinovasi karena perubahan zaman akan terus berlangsung. Pesan K.H. Ahmad Dahlan kepada warga Muhammadiyah perlu senantiasa dijadikan pegangan moral bagi setiap kader untuk bisa menjaga marwah organisasi dan persyarikatan, “Janganlah mencari penghidupan dalam Muhammadiyah, tetapi hidup-hidupkanlah Muhammadiyah,” demikian salah satu amanat terpenting yang disampaikan K.H. Ahmad Dahlan.

Kader-kader Muhammadiyah,  baik kader formal-struktural maupun kader kultural,  dalam beragam keahlian dan lapangan pengabdian, patah tumbuh hilang berganti. Para kader dan “anak panah” Muhammadiyah ditempa dengan pengalaman berorganisasi, interaksi dengan dunia internasional, serta pembinaan kepribadian berlandaskan akhlak dan karakter islami. Muhammadiyah dari masa ke masa banyak melahirkan pribadi-pribadi teladan dan panutan dalam kesederhanaan, kejujuran dan keikhlasan mengabdi untuk umat, bangsa, negara dan kemanusiaan.

Selamat Milad ke-112 Muhammadiyah.

M. Fuad Nasar

Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Kementerian Agama RI, Penggiat Literasi. Ia juga penulis tetap majalah Panji Masyarakat dan panjimasyarakat.com

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button