Islam adalah agama mayoritas rakyat Indonesia. Islam masuk ke Indonesia melalui jalur normal, artinya disebarkan melalui dakwah dan pencerahan kepada masyarakat, bukan melalui pemaksaan, kekerasan atau kekuatan militer. Proses Islam selanjutnya berkembang secara turun temurun dalam keluarga dari bapak ke anak, dan seterusnya meluas ke kekerabatan dan masyarakat .
Dalam konteks pencerahan Islam kepada masyarakat upaya pendalaman pemahaman keislaman hendaknya harus terus dilakukan secara kontinu, sehingga setiap orang bisa melaksanakan dan menjalankan ajaran Islam secara benar, di samping juga bisa merasakan kepuasannya dalam menjalankan ajaran atau ibadah kepada Allah.
Dalam rangka pemahaman keislaman kita mengenal dua aspek penting dalam setiap agama, yaitu aspek vertikal atau hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) dan aspek horizontal atau hubungan manusia sesama manusia (hablum minannas). Kedua aspek ini juga bisa disebut bidimensional agama.
Bidemensional agama adalah terdapatnya dua organ penting dalam agama (Islam), yaitu, yang pertama adalah iman atau keyakinan kepada Allah dan lainnya (rukun Iman ada 6), dan kedua pengejawantahan atau pelaksanaan Iman yaitu rukunIslam(ada 5).
Iman adalah kepercayaan atau keyakinan kita kepada adanya Allah dan kehidupan akhirat. Keyakinan ini mewajibkan kita untuk selalu mewujudkan perbuatan kebaikan dalam kehidupan di dunia ini, baik kepada manusia, alam dan makhluk Allah lainnya. Allah adalah zat Yang Maha Baik di samping memiliki sifat-sifat lainnya yaitu sebagai Penguasa Kehidupan dan Pemilik Kehidupan. Namun, Allah sebagai Yang Maha Baik menginginkan manusia dalam menjalani kehidupan ini juga melakukan perbuatan-perbuatan baik dalam kehidupan.
Kedua, perbuatan baik yang dilakukan manusia dalam kehidupan ini disebut Amal Shaleh. Karena itu dalam Al-Qur’an perintah-perintah Allah itu sering disejajarkan di antara dua perintah, yaitu suruhan beriman dan suruhan beramal saleh. Misalnya, dalam surat Al-Bayyinah ayat 7-8 Allah berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”
Kemudian dalam surat Maryam ayat 96 Allah mengatakan,” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang.”
Lebih tegas dalam surat Al-Kahfi ayat 2 juga mengatakan, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berkorban dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.”
Kemudian dalam Hadis juga memuji orang yang beramal saleh. Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabari dikatakan, “khairunnas anfa’uhum linnas.” Artinya, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.
Pilihan Dua Jalan Kehidupan
Namun, untuk menjadi manusia yang ingin berbuat saleh bukanlah jalan yang mudah. Banyak rintangan yang dihadapi, terutama yang berasal dalam diri manusia sendiri. Manusia dalam hidup ini diberikan dua pilihan dalam hidup. Yaitu kecenderungan untuk berbuat baik dan kecenderungan untuk berbuat jahat yang menyimpang dari ajaran Allah. Pilihan hidup itu untuk mengikuti hawa nafsu atau mengikuti akal yang dituntun oleh agama. Pilihan dua jalan kehidupan ini ditegaskan dalam Al-Qur’an seperti tertera dalam surat Al-Balad ayat 10, ”Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” Para ahli tafsir menjelaskan, dua jalan yang dimaksud adalah jalan kebaikan dan jalan kejahatan. Dalam surat Asy-Syam ayat 8, Allah menerangkan hal yang hampir sama, ”Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”
Jalan kebaikan atau amal saleh bisa melekat dalam diri manusia kalau dia merasa dekat dengan Allah. Dekat dengan Allah bukti bahwa manusia memiliki iman yang kuat. Dengan adanya Iman dan penghayatan ketuhanan yang tebal dalam batinnya manusia merasa Allah itu hadir dalam dirinya dan memotivasinya untuk selalu berbuat kebaikan.
Bahkan dengan perbuatan baik dan amal saleh itu yang didorong oleh motivasi Iman yang kuat kepada Allah menjadi sarana baginya untuk bertemu dengan Allah. Hal ini tegas dinyatakan dalam ayat terakhir surat al-Kahfi ayat 110, ”Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia menyekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.”
Untuk manusia merasa dekat dengan Allah maka makna atau arti Islam sebagai sebuah agama harus dipahami secara intens dan mendalam. Jika makna kata Islam itu bisa dipahami dengan baik dan total dalam batin manusia maka ia akan mampu memancarkan dan mendorong perbuatan amal saleh.
Menurut Nurcholish Madjid, Islam itu maknanya sikap berserah diri atau pasrah kepada Allah, karena menaruh kepercayaan kepada-Nya.Sikap pasrah ini kemudian melahirkan beberapa konsekuensi. Pertama, pengakuan yang tulus bahwa Tuhanlah satu-satunya sumber kekuasaan (otoritas) yang serba mutlak. Kedua, adanya usaha yang terus menerus dan penuh kesungguhan (mujahadah, ijtihad) untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, dengan sepenuh hati, merindukan kebenaran, yang dalam bentuk tertingginya ialah hasrat bertemu Tuhan dalam semangat kepasrahan kepada-Nya.
Ketiga, berIslam itu juga berarti mampu menghasilkan bentuk hubungan yang serasi antara manusia dan alam sekitar. Ber-Islam sebagai jalan mendekati Tuhan ialah dengan berbuat baik kepada sesama manusia, disertai sikap menunggalkan tujuan hidup kepada-Nya.
Bahkan, untuk kategori orang beriman yang paling tinggi derajatnya yaitu Taqwa juga dihubungkan dengan amal saleh, yakni kesediaan mengorbankan harta yang dimiliki untuk membantu orang-orang yang kesulitan hidup. Ini yang begitu tegas diungkapkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 177, ”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke Timur dan ke Barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintai kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir(yang memerlukan pertolongan), dan orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
Dari firman Allah di atas digambarkan dengan jelas bahwa Taqwa itu merupakan gabungan perilaku beriman kepada Allah, kepercayaan pada kehidupan akhirat, makhluk gaib, kitab-kitab, dan para nabi, juga kesediaan mengorbankan harta untuk berbuat kebajikan bagi manusia yang membutuhkan pertolongan.
Dengan demikian, suatu pemahaman Islam yang hakiki dan dituntut adalah, bahwa keyakinan manusia kepada Allah harus pula mampu dimanifestasikan dalam perilaku berbuat baik bagi kemanusiaan dalam kehidupan ini.
Umat manusia dalam kehidupan sekarang ini menghadapi banyak persoalan seperti kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan dan sebagainya. Semua persoalan ini akan bisa diselesaikan jika pemikiran keagamaan yang dikembangkan yaitu dengan pendekatan Iman yang diterjemahkan dengan menekankan perbuatan amal saleh dan kebajikan. Dalam istilah Islam yaitu agar manusia berlomba-lomba berbuat kebaikan atau fastabiqul khairat.
Dalam hal ini penting pula dicatat pernyataan Mahmud Shaltout, Guru Besar Ilmu Perbandingan Hukum, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, bahwa dasar utama Islam adalah iman dan syariah. Iman yaitu kepercayaan yang mendalam kepada-Nya. Sedangkan syariah peraturan-peraturan yang menciptakan hubungan antara Allah dengan manusia dan hubungan antar sesama manusia.
Menurut Shaltout, Islam merupakan baik kepercayaan maupun perundang-undangan yang mengatur segala perhubungan manusia. Keyakinan merupakan dasar syariah, dan syariah adalah hasil kepercayaan, sebab perundang-undangan tanpa keimanan bagaikan bangunan yang tidak punya tumpuan, dan keimanan yang tidak disertai syariah untuk melaksanakannya, hanyalah teori, ajaran yang tidak berdaya dan tidak berhasil (Kenneth W. Morgan, Islam Jalan Lurus, Pustaka Jaya, l980 hlm. 100-101).
Dalam dunia modern yang banyak problematik sekarang ini yang terkadang sulit diselesaikan, diharapkan agama ikut memberikan kontribusinya. Dan kontribusi itu sangat tepat kalau dimulai dari pemikiran Iman yang mampu mendorong dan menafasi umatnya untuk melakukan amal saleh. Mengutip pemikir Iran, Murtadha Mutahhari, menyatakan, tidak ada yang melebihi agama dalam hal menghargai kebajikan, keadilan, meluruskan hati pada sesama menciptakan saling percaya dan semacamnya.
Amal saleh dalam konteks sekarang adalah penguasaan dan penemuan teknologi, baik teknologi konvensional maupun teknologi kontemporer, seperti artificial intelligent (AI) dan data science. Untuk saat ini, umat Islam masih tertinggal dalam memberi kontribusi dalam perkembangan teknologi kekinian. Karena itu, amal saleh yang ditunggu adalah teknologi yang memberi kemudahan bagi umat manusia dalam melakukan aktivitasnya dan memberi pedoman nilai dalam menggunakannya. Perguruan tinggi Islam memiliki tanggung jawab besar untuk mengembangkan tradisi penelitian dalam bidang ini agar tidak tertinggal dalam memberikan sumbangan bagi peradaban manusia. Jadi, amal saleh dalam arti luas adalah memberi kesejahteraan kepada semua umat manusia, sebagaimana dulunya sudah dilakukan oleh para ilmuan Islam, seperti Al-Khawarizmi ahli algoritma dan Ibn Hayyan ahli optik. Usaha ini tentu harus dilakukan secara sistemik dan kerja sama yang kuat antar lembaga pendidikan dan para ilmuan/teknolog Islam. Allahu’alam.

