Cakrawala

Memperingati Dies Natalis 78 Tahun HMI

Tanggal 5 Februari 2025 organisasi mahasiswa Islam tertua dan terbesar sejak Indonesia merdeka yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memperingati Dies Natalisnya Ke-78. Sejarah mencatat HMI berdiri pada 5 Februari 1947 bertepatan dengan 14 Rabiul Awal 1366 H di Yogyakarta.  

Sejarawan Agussalim Sitompul dalam Historiografi Himpunan Mahasiswa Islam Tahun 1947-1993 mengungkapkan ide mendirikan HMI sudah muncul sejak November 1946 dan direncanakan secara matang. Lafran Pane (1922-1991), tokoh pendiri HMI, dalam sebuah tulisannya menginginkan semua mahasiswa yang beragama Islam mengenal dan menghayati ajaran agamanya, serta mengamalkannya di mana pun dia berada. Tentunya penghayatan dan pengenalan agama tersebut disesuaikan dengan atribut kemahasiswaan yang lebih menekankan pada etos kecendekiawanan.

Dalam wadah HMI, berhimpun pemuda mahasiswa dari beragam latarbelakang organisasi umat, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam, dan lainnya. Jika setelah bergabung di HMI, anak-anak mahasiswa itu tetap sebagai anggota organisasi Muhammadiyah, NU, Persatuan Islam dan lainnya, kata Lafran Pane, berarti pembinaan yang dilaksanakan HMI berhasil.

Kalau kita perhatikan Anggaran Dasar HMI yang ditetapkan dalam Kongres I HMI di Yogyakarta tanggal 30 November 1947 tercantum bahwa organisasi ini berdasarkan Islam. Tujuan HMI adalah: (a) Mempertegak dan mengembangkan Agama Islam; (b) Mempertinggi derajat rakyat dan Negara Republik Indonesia. Dengan demikian HMI sejak lahir menyatu dengan umat dan menyatu dengan bangsa.

Tokoh pendiri HMI Lafran Pane (tengah, memegang tas) dalam suatu perjalanan menghadiri kongres HMI.

Menurut Lafran Pane, HMI didirikan bukan untuk memecah-belah umat dan pemuda Islam, melainkan untuk mempersatukannya. HMI bertujuan untuk mengatasi adanya jurang pemisah antara “mahasiswa agama” dan “mahasiswa umum”. HMI sebagai organisasi yang bersifat nasional semenjak lahirnya hadir di tengah kancah perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Organisasi kemahasiswaan yang tidak mempolarisasi umat, baik secara kultural maupun politis ini, telah memberi kontribusi dan warna terhadap kemajuan kehidupan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.  

Pesan Panglima Angkatan Perang Indonesia Jenderal Sudirman yang disampaikannya dalam acara Peringatan Dies Natalis HMI di Yogyakarta pada 6 Februari 1948 penting dikemukakan kembali yaitu pesan agar HMI benar-benar menjadi “Harapan Masyarakat Indonesia” dan tidak menyendiri.

Dalam HMI mengalir spirit sebagai organisasi mahasiswa, organisasi kader, organisasi perjuangan umat Islam, dan sekaligus organisasi pembaharuan. Para kader dan alumni HMI, termasuk HMI-wati, di semua jenjang wajib menjaga jati diri dan nama baik organisasi yang telah malang melintang ditempa zaman.

Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI hasil rumusan Ketua Umum PB HMI dua periode tahun 1966 – 1971 Nurcholish Madjid yang selanjutnya diubah menjadi Nilai Identitas Kader (NIK) merupakan pedoman dan referensi bukan saja dalam kehidupan berorganisasi, tetapi seyogianya juga dihayati dalam melanjutkan kiprah segenap kader HMI di tengah masyarakat. Secara garis besarnya NDP HMI menekankan sikap hidup manusia beriman, berilmu dan beramal.

Sepanjang sejarahnya yang penuh dinamika dengan berbagai tantangan yang dilewati, HMI telah melahirkan banyak tokoh nasional yang mengisi berbagai tempat di negara kita. Para alumni HMI, ada yang menjadi negarawan, ulama, cendekiawan, birokrat, politisi, anggota parlemen, perwira tinggi TNI, menteri, diplomat, budayawan, pengusaha, memimpin lembaga negara dan menjadi Wakil Presiden RI. Kebanggaan sebagai alumni HMI tetap melekat dalam diri mereka.

Deliar Noer, Ketua Umum PB HMI periode 1953-1955, berpesan, “HMI bertanggungjawab kepada generasi yang lalu dan akan datang. Ia menjadi penghubung dua golongan penting masyarakat Indonesia: golongan intelektual dan golongan ulama. Kedua golongan ini pada akhirnya harus bertemu dan berasimilasi sehingga hanya terdapat satu tipe manusia nanti yang berpengetahuan dan tahu akan kehidupan beragama.”

Sejalan dengan pandangan Deliar Noer yang melihat generasi baru muslim mulai renggang dari Islam, maka para anggota HMI di perguruan tinggi Islam diberi pembekalan agar memiliki wawasan keindonesiaan, dan sebaliknya para anggota HMI yang kuliah di perguruan tinggi umum agar memiliki wawasan keislaman yang memadai.

Saya kira di sinilah arti penting peran dan kontribusi HMI yang perlu dihayati dan dilanjutkan oleh segenap anggota dan kadernya. Pengkaderan dan latihan-latihan kepemimpinan bagi para calon anggota dan kader HMI adalah anak tangga yang harus dilewati guna menghasilkan sosok HMI dan HMI-wati yang matang berorganisasi sebagai persiapan sebelum memasuki medan pengabdian yang luas dengan tantangan kompleks.

Oleh karena itu, anggota dan kader HMI jangan menyia-nyiakan masa pendidikan formal dan berupaya meraih pengalaman berorganisasi dengan sebaik-baiknya. Masa muda tidak akan dapat diulang kembai. Pada diri seorang mahasiswa Islam anggota HMI, kata Dahlan Ranuwihardjo, melekat empat komponen yang harus secara bersamaan tergarap dan tertangani yaitu: (1) Seorang anggota HMI sebagai mahasiswa; (2) Seorang anggota HMI sebagai pemuda; (3) seorang anggota HMI sebagai warga negara, dan (4) Seorang anggota HMI sebagai muslim.

HMI  bukan organisasi kecil, bukan organisasi pengikut atau ikut-ikutan dalam riak dan gelombang sejarah. Sejarah mencatat HMI adalah organisasi pelopor yang berada di depan, organisasi yang menitik-beratkan kegiatannya pada pengkaderan untuk terwujudnya Insan Cita. Oleh karena itu Islam sebagai gerakan intelektual harus ditampilkan oleh HMI kapan dan di mana pun.

Para kader dan anggota HMI memiliki andil besar dalam setiap perubahan politik di Tanah Air karena mahasiswa pada dasarnya bukanlah kelompok elit yang berada di menara gading, tetapi menjadi agen perubahan bagi bangsa. dalam konteks kekinian, keberadaan organisasi HMI di kampus-kampus perguruan tinggi umum dan keagamaan, baik negeri maupun swasta, harus mampu menarik minat generasi millenial atau Gen-Z terhadap signifikansi HMI sebagai wadah untuk pengembangan diri, latihan kepemimpinan dan aktualisasi diri yang sesuai dengan kebutuhannya.

Ketua Umum PB HMI Nurcholish Madjid dkk silaturahmi di kediaman Jenderal H.A.Nasution.

Sejumlah persoalan krusial bangsa kita yang perlu menjadi perhatian HMI, antara lain:

Pertama, sistem demokrasi di negara kita yang masih dalam perkembangan sehingga budaya kehidupan demokrasi dan kedaulatan rakyat yang dicita-citakan para pendiri bangsa masih harus diperjuangkan.   

Kedua, masih tingginya angka kemiskinan ekstrem sehingga berdampak pada rendahnya kualitas hidup manusia akibat faktor ekonomi, disharmoni sosial, kekurangan gizi dan pangan, serta angka putus sekolah.

Ketiga, kesenjangan antara lapangan kerja dan kesempatan berusaha dengan pertambahan tenaga kerja tiap tahun sehingga berimplikasi pada tingginya angka pengangguran sarjana dan lulusan sekolah menengah.

Keempat, banyaknya kasus korupsi yang merusak mental bangsa, merugikan keuangan negara dan mencoreng martabat Indonesia di mata dunia internasional.

Kelima, merajalelanya kasus-kasus pelanggaran moral dan kesusilaan di masyarakat, termasuk di lingkungan institusi pendidikan.

Keenam, kerusakan ekosistem alam dan lingkungan hidup sehingga berdampak pada keselamatan kehidupan masyarakat akibat bencana.

Sejalan dengan tema peringatan Dies Natalis HMI tahun 2025 yaitu “78 Tahun HMI Untuk Kedaulatan Bangsa,” segenap anggota, kader dan alumni HMI dan HMI-wati perlu melakukan muhasabah tentang peran dan kontribusi yang diberikan kepada bangsa dewasa ini dan proyeksi ke depan dalam memperkokoh kedaulatan Indonesia di segala bidang.  

Saya ingin mengutip pesan dalam ceramah terakhir Dr. K.H. E.Z. Muttaqien, tokoh Masyumi dan salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat tahun 1985 bahwa kita ini hidup di negara yang kita adalah mayoritas dari bangsa ini, sehingga kalau negara ini hancur, rusak dan binasa, yang paling memegang tanggungjawab di akhirat nanti dan akan ditanya ialah umat Islam. 

Dalam kaitan itu seluruh kader, anggota dan alumni HMI, termasuk HMI-wati, perlu senantiasa meneladankan akhlaqul karimah sebagai kader-kader umat dan bangsa yang bisa menjaga nama baik Islam dan Indonesia. Para alumni HMI, sesuai dengan posisi dan peran yang mereka dijalankan di tempat masing-masing perlu memperbarui komitmen, rasa persaudaraan dan tanggungjawab untuk menghadirkan solusi yang kontekstual bagi kemaslahatan umat, bangsa dan kemajuan negara kita.

M. Fuad Nasar

Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Kementerian Agama RI, Penggiat Literasi. Ia juga penulis tetap majalah Panji Masyarakat dan panjimasyarakat.com

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button