Nuh: “Wahai kaumku. Akulah pemberi peringatan dan penjelasan kepada kamu. Sembahlah Allah. Bertakwalah kepada-Nya. Dan ikutilah aku. Nanti Allah mengampuni dosa-dosanmu, dan memanjangkan umurmu sampai ajal tertentu. Karena ajal dari Allah, pabila datang tak akan bisa diundur lagi-kalau saja kalian tahu. Mohonlah ampun kepada Allah, karena dialah Maha pengampun. Nanti ia mengirimkan hujan kepadamu berlimpah-limpah, menambahi kamu harta benda dan anak-anak, menjadikan untuk kamu kebun-kebun dan sungai-sungai. Mengapa gerangan kamu tidak mempercayai kebesaran Allah, sedangkan Dia telah membuat kamu secara bertahap? Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dijadikan-Nya bulan di sana sebagai cahaya, dijadikan-Nya matahari sebagai pelita? Ia tumbuhkan kamu dari bumin sedemikian rupa, lalu mengembalikan kamu kedalamnya, lalu mengeluarkan lagi sedemikian rupa? Dijadikan-Nya bumi untuk bagai hamparan, agar kalian dapat menapaki jalan-jalan yang luas di permukaan?” (Q. 71:2-4, 10-20). Wahai kaumku, sembahlah Allah, kamu tidak punya Tuhan apa pun selain Dia. Aku mengkhawatirkan terhadap kamu azab hari yang dahsyat.”
Umat: “Terus terang saja, kami sebenarnya berpikir Anda sendirilah yang berada di luar kebenaran.”
Nuh: “Sama sekali tidak. Aku ini rasul Tuhan alam semesta. Aku hanya menyampaikan kepada kamu semua amanat Tuhan. Aku hanya menasehati. Aku tahu, dari Allah, apa yang tidak kalian tahu. Mengapa kalian harus merasa aneh bahwa Tuhan menurunkan peringatannya melalui salah seorang dari kita, agar membuat kita awas, agar kita hidup dengan memelihara diri, dan agar kita mendapat rahmat? (Q. 7:61-63). Tapi, baiklah. Sekiranya keberadaanku di sini terasa berat bagi kamu, juga peringatanku kepada kamu terhadap tanda-tanda-Nya, apa boleh buat, hanya kepada Allah akku bersandar. Sekarang, bulatkanlah keputusanmu semua, bersama dengan para sekitu kamu. Tidak usah kamu rahasiakan. Lalu lakukan terhadap diriku, dan jangan ditunda-tunda. Tetapi kalau kamu sesudah ini masih berpaling juga, lihatlah bukankah aku tidak memberatkan kamu dengan meminta upah barang sedikit? Upahku tanggungan Allah! Aku ini diperintahkan bersikap pasrah.” (Q.10:71-72).
Umat: “Sebenarnya kami tidak memandang kamu kecuali sebagai orang biasa seperti kami: Lagi pula siapa yang mengikuti kamu? Orang-orang gembel di antara kita, orang-orang yang gampang percaya. Pada pokoknya, kami tidak melihat kelebihan apa pun pada kamu dan para pengikutmu dibanding kami. Malahan kami memandang kamu semua pendusta.”
Nuh: “Saudara-saudaraku. Tidakkah kalian lihat bahwa aku berada pada argumen yang kuat dari Tuhan, bersama dengan rahmat-Nya, hanya saja disamarkan di mata kamu? Tetapi, ya, apakah kami harus paksakan amanat ini kepada kamu, sementara kamu tak suka? Saudara-saudaraku. Aku tidak minta upah apa pun dari kalian….. Juga tidak bakalan aku mengusir orangorang beriman yang sederhana itu. (Q. 11:27-29): Bagaimana aku tahu semua perbuatan mereka? Kalaupun mereka menurut kamu ada berbuat buruk, perhitungan amal mereka itu ‘kan ada pada Tuhan? Masakan kamu tidak sadar? (Q. 26:112-113). Mereka itu akan bertemu dengan tuhan mereka. Malahan kalian, pada penglihatanku, kelompok orang yang bersikap bodoh. Saudara-saudara, siapa kiranya yang akan menolongku dari Allah, andai aku mengusir mereka? Apa kalian tidak punya pertimbangan? Aku tidak pernah mengatakan kepada kalian bahwa aku memiliki gudang-gudang perbendaharaan pemberian Allah. Aku tidak tahu ihwal gaib. Aku juga tidak mengaku malaikat. Tapi aku juga tidak mengatakan mengenai orang-orang yang kalian . pandang dengan memicingkan mata, bahwa mereka “tidak akan beroleh kebaikan dari Allah. Kalau aku berbuat begitu, bukankah aku termasuk golongan zalim?”
Umat: “Nuh! Sudah banyak sekali kamu mendebat kami. Panjang lebar kata-katamu kepada kami. (Q. 11:2932). Kalau kamu tidak berhenti, kami rajam kamu! (Q. 26:116). Sekarang buktikan saja: datangkan saja yang kamu ancamkan kepada kami, kalau kamu memang benar.”
Nuh: “Yang akan mendatangkan bencana itu ‘kan Allah sendiri, kalau Ia memang berkehendak. Dan kamu tidak bakalan mampu menundukkannya. Tapi memang tidak ada gunanya nasehat yang aku berikan — kalaupun aku masih mau memberi nasehat kepada kamu — kalau memang Allah sudah berkehendak membiarkan kamu tersesat. Dia itu tuhan kamu. Dan kepada-Nya, sebenarnya, kamu semua akan dikembalikan.” (Q. 11:32-34).
Umat (para gembong kafir, kepada sesama mereka): “Orang ini sebenarnya manusia biasa saja, seperti kalian juga. Dia cuma ingin melebihkan dirinya di atas kita. Kalau Tuhan mau, tentulah Dia turunkan malaikat — bukan orang ini, Kita tidak pernah mendengar yang “ diajarkannya itu dari nenek moyang kita. (Q. 23:24). Karena itu jangan tinggalkan dewa-dewa kita, jangan tinggalkan Wadd, Sua’, Yaghuts, Ya’uq maupun Nasr (Q. 71:23). Orang gila, dia itu. Tapi biarkan saja. Tunggu saja tanggal mainnya.”
Nuh: “Tuhan, tolonglah aku. Mereka tahu, tapi mereka mendustakan aku.” (Q.23:24-26). Bersambung

Penulis: Syubah Asa (1943-2011), seniman, wartawan dan mufasir. Pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat dan Pemred Panjimas. Sebelumnya bekerja di majalah Tempo, Editor dan Harian Pelita. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Sumber: Panji Masyarakat, No. 35 Tahun I 15 Desember 1997