Jika riset-riset itu benar, bahwa untuk tiap kelompok manusia ada bapak sendiri-sendiri, itu tidak menuding kitab suci kita seperti menuding Taurat, yang dalam hal Adam itu bicara dengan gaya gamblang. Bagaimana dengan cerita Bibel bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam?
Aneka Macam Ras
Bagi hampir semua tafsir klasik, jawabannya “ya”. Dan itu sudah populer. Tapi bagi banyak tafsir kontemporer (kecuali seperti tafsir Thabathaba’i, Al-Mizan), “belum tentu”. Harus kita sebutkan di sini tokoh yang pertama kali memberikan penafsiran liberal untuk ayat ini di zaman kita—yang tak lain Muhammad Abduh (w. 1905). “Yang dimaksud dengan “diri yang satu” (dalam ayat ini) bukanlah Adam,” katanya, “baik secara nas maupun secara zahir.” Abduh lalu memijakkan alasan pertamanya pada, tak lain tak bukan, sebagian mufasir yang berpendapat seperti Ibn Abbas, bahwa “wahai manusia” ditujukan kepada penduduk Makkah. Katanya, kalau mereka sendiri menganggap demikian, berarti mereka menunjuk Bani Quraisy, dan “diri yang satu” dengan demikian Pak Quraisy, sang cikal-bakal, atau Pak Adnan, lebih ke atas lagi.
Tapi jika yang menjadi sasaran bangsa Arab keseluruhan, “diri yang satu” bisa Ya’rub dan bisa Qahthan. Adapun kalau sasaran “wahai manusia” seluruh umat yang menjadi sasaran dakwah Islam, maka, dan ini yang menarik, “segala umat memahaminya (“diri yang satu”) berdasarkan yang mereka percayai. Yang mengimani asal manusia dari sulbi Adam menyebut Adam. Tapi yang mempercayai bahwa untuk setiap kelompok jenis manusia ada seorang bapak akan memahaminya berdasarkan kepercayaannya. Kelompok-kelompok besar yang dimaksudkan adalah ini: Kaukasian yang putih, Mongol yang kuning, Zanji yang hitam, sementara sebagian cabang mereka hampir-hampir juga menjadi kelompok-kelompok dengan cikal-bakal masing-masing —seperti Habsyi yang merah, atau Indian Amerika, atau yang lain.
Memang ada pernyataan yang masyhur tentang mata rantai manusia keturunan Nuh, yang dinyatakan berpangkal pada Adam. Itu diambil, demikian Abduh, dari orang-orang Ibrani. Merekalah yang membuat tarikh manusia yang bersambung ke Adam dan memberi batasan waktu yang sangat singkat (sekitar 30.000 tahun, antara Adam dan zaman Ibrani, sementara umur bumi, menurut para ilmuwan alam, sekitar 4,5 miliar tahun, pen.). Sementara itu orang Cina menisbatkan manusia kepada bapak yang lain, ke zaman yang lebih jauh dari yang dilihat orang Ibrani. Ilmu dan riset mengenai bekas-bekas peninggalan purba kemudian membantah tarikh model Ibrani itu — dan kita, umat muslimin, tidak dibebani tugas untuk membenarkan sejarah Yahudi tersebut, walaupun itu mereka sandarkan kepada Musa a.s. Tidak ada jaminan bahwa itu memang berasal dari Taurat.
Allah sendiri sudah menyamarkan, dalam ayat ini, apa-siapa “diri” yang menjadi bahan penciptaan manusia itu, dan itu harus kita biarkan dalam keadaannya. Karena itu bila, demikian Abduh, hasil-hasil riset para ilmuwan ternyata benar, bahwa untuk tiap kelompok manusia ada bapak sendiri-sendiri, itu tidak menuding kitab suci kita seperti menuding Taurat, yang dalam hal Adam itu bicara dengan gaya gamblang.
Adapun ayat-ayat lain, yang memanggil kita dengan ungkapan “wahai Bani (anak keturunan) Adam”, sama sekali tidak menyalahkan kenyataan di atas. Tidak pula merupakan nas definitif (qathi’) yang mengajarkan bahwa seluruh manusia keturunan Adam. Ayat itu sah dipahami sebagai ditujukan kepada mereka di zaman wahyu – bahwa merekalah anak-anak Adam. Sebab, tentang ayat Adam dalam surah Al-Baqarah, penafsiran juga diisi oleh pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa sebelum beliau sudah ada, di bumi, satu jenis makhluk yang sama, yang “membuat kerusakan di sana dan menumpahkan darah” (Q. :30). (Rasyid Ridha, op. cit.:323-325, passim).
Itu berarti, Abduh tidak mengingkari kemungkinan Adam sebagai bapak manusia sekarang—meskipun tidak ada yang bisa menetapkannya, berdasarkan dalil agama, sebagai manusia pertama. Hanya, ayat di atas tidak bicara tentang bab itu—dan, karenanya, penemuan-penemuan ilmiah tentang asal-usul manusia tidak berlawanan dengan Kitab Suci.
Kisah Israiliyat
.Masalah pokoknya sebenarnya berkisar di sekitar istilah “diri Dalama lafal asli, tertulis nafs. Dipahami umumnya mufasir, nafs adalah “gabungan ruh manusia dan badan wadaknya, dalam kehidupan dunia ini, dan hanya ruhnya di akhirat.” Karena itu Thabathaba’i, pemilik definisi ini, menganggap nafs waahidah (diri yang satu) tak lain Adam, sementara “pasangan jodohnya” adalah istrinya. Itu yang dipilihnya dari beberapa pengertian lain. (Thabathaba’i, Al-Mizan, IV:144).
Pengertian-pengertian lain itu ialah ini: “jiwa”, atau “seseorang” (Yousuf Ali: The Glorious Kur’an, 178). Tapi juga “Tuh”, “sesuatu dengan intinya”, dan “jenis”. Itulah yang menyebabkan Ibn Bahr dan Abu Muslim (Al Isfahani) mengartikan “daripadanya diciptakan-Nya pasangan jodohnya” dengan: “dari jenisnya (bukan dari Adam) Ia ciptakan pasangannya.” (Maulvi Muhammad Ali, The Holy Kur’an, a.b.Djajasugita dan Mufti Sharif, 1273).
Juga Yousuf Ali—yang, menukil Razi, menganggap partikel dari dalam “daripadanya diciptakan-Nya jodohnya” bukan menunjuk satu bagian, tapi satu spesies, nature, atau kesamaan. Kita perhatikan: kata ganti nya dalam “dari padanya”, dalam lafal asli, tertulis dari jenis feminin, yakni haa, dan itu kembali kepada nafs (yang bukan Adam. Sebab, sekiranya nafs adalah Adam, kata ganti untuk nya harus maskulin: hu, pen.). “Cerita Bibel tentang penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam,” kata Yousuf Ali, “mungkin juga alegoris. Tapi kita tidak perlu mengasumsikan itu berasal dari ajaran Al–Qur’an.” (Yousuf Ali, loc. cit.).
Melainkan dari hadis-hadis. Masalahnya ialah ini: Al-Qur’an bukan buku tarikh. Berbeda dari Bibel, yang berniat menuturkan sejarah Israel, dan menjadikan kisah Adam sebagai pembuka: dari kejadian dunia, kemudian Adam. Al-Qur’an, sebaliknya, adalah petunjuk yang ayat-ayatnya bisa menyebut kejadian-kejadian, tapi yang dipentingkan adalah ‘ibrah, tolok pandang, pelajaran dalam gaya wahyu yang cepat, di banyak tempat alegoris dan kaya penafsiran (multiinterpretable). Dalam istilah teknis agama, yang terakhir itu disebut mutasyaabihaat.
Nah, karena di zaman Nabi dan para sahabat belum terdapat penyelidikan keilmualaman, sumber pengambilan para ulama untuk tafsir Al-Qur’an adalah kisah kisah Bibel, baik resmi tertulis maupun yang secara lisan disampaikan para cendekiawan Yahudi dan Nasrani yang masuk Islam, termasuk yang bersumber dari naskah-naskah yang menurut pihak Gereja dari jenis apiokrif (tak sahih). Kisah-kisah israiliyat ini masuk ke dalam hadis-hadis—meskipun ini sebuah topik tersendiri.
Akan berlainan, memang, jika Al-Qur’an dibaca tanpa di kepala kita sudah terdapat berbagai konsepsi dan kisah.

Penulis: Syubah Asa (1943-2011), seniman, wartawan dan mufasir. Pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat dan Pemred Panjimas. Sebelumnya bekerja di majalah Tempo, Editor dan Harian Pelita. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Sumber: Panji Masyarakat, 23 Juni 1999,