Aktualita

Memetik Pelajaran Berharga dari Peristiwa Peledakan di SMA 72

Banyak orang terkejut mendengar peristiwa seorang pelajar SMA diduga melakukan peledakan di SMAN 72 Kelapa Gading,  Jakarta Utara. Peristiwa yang terjadi saat shalat Jum’at (7/11/ 2025)  menimbulkan korban 96 orang, termasuk pelakunya. Polisi telah menetapkan seorang pelajar aktif sebagai tersangka. Karena masih pelajar dan masih dibawah umur ia ditetapkan sebagai Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH).

“ Dari hasil sidik sementara anak yang berkonflik dengan hukum atau ABH yang terlibat dalam ledakan merupakan siswa SMA aktif, bertindak secara mandiri, tidak berhubungan dengan jaringan teror tertentu,” ujar Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Asep Edi Suheri dalam keterangannya pada wartawan.

Dalam kasus ledakan ini polisi telah memeriksa 16 orang saksi, termasuk korban, siswa, guru, terduga pelaku, dan keluarga ABH. Juga dilakukan penggeledahan di rumah ABH.Terduga pelaku yang mulanya dirawat di Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih  kemudian dipindahkan ke RS Polri Kramat Jati , Jakarta Timur, untuk memudahkan pemeriksaan setelah kesehatannya pulih.

Dari penyelidikan, terduga pribadi pelaku diungkapkan bahwa ABH tersebut memiliki pribadi yang tertutup dan jarang bergaul dengan orang lain. “ Keterangan yang kami himpun ABH yang terlibat jarang bergaul dan dikenal pribadi tertutup,” ujar Kapolda Metro Jaya.

Kapolda Metro Jaya menambahkan, hasil analisis ponsel dan aktivitas di internet menunjukkan pelaku menyukai konten-konten kekerasan dan yang bersifat ekstrim.  

Diungkapkan pula bahwa pelaku disebut merasa sendirian dan tidak memiliki tempat untuk curhat dan keluh kesah, baik di lingkungan sekolah, rumah, maupun keluarga. “ Yang bersangkutan merasa sendiri, merasa tidak ada tempat untuk menyampaikan keluh kesah, baik di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah maupun lingkungan sendiri,” jelas Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin. 

Bom yang ditemukan dalam ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, berjumlah 7 buah bom. Dari jumlah ini 4 bom di antaranya meledak. Dua bom meledak di sekitar Masjid SMAN 72 Jakarta Utara. Kemudian 2 bom lainnya meledak di bank sampah dan di Taman Baca. Tiga bom yang tidak meledak dan masih aktif dikembalikan  ke Markas Gegana Satbrimob Polda Metro Jaya. “Dua peledakan bom masing-masing di dalam masjid lingkungan SMAN 72 dan di bank sampah dan Taman Baca,” ungkap Kombes Pol Henik Maryanto, Komandan Satuan (Dansat) Brimob Polda Metro Jaya.

Menurut Dessus 88 Antiteror Polri,pelaku yang diduga ABH mempelajari teknik perakitan bom dan peledakan dengan cara mengakses melalui internet. Bahkan, ABH yang diduga  terlibat peledakan ini terinspirasi oleh tokoh-tokoh teror global. Ini berdasarkan petunjuk tulisan yang ditemukan pada senjata mainan yang ditemukan di lokasi kejadian. Tokoh tersebut adalah Eric Harris dan Dylan Klebold, pelaku penembakan  massal di Columbine High School, Amerika Serikat pada tahun l999, dan penganut Nazi. Kemudian Dylan Strom Roof, pelaku penyerangan gereja di Charleston, AS, tahun 2015, penganut supermasi kulit putih. Seterusnya ada Alexandre Bissonnette, tokoh Islamofobia yang melakukan penembakan masjid di Quebec, Kanada tahun 2017. Ada pula Brenton Tarrant, yang melakukan serangan pada masjid Cristchurch, Selandia Baru, tahun 2019. Lalu ada Vladislav Roslyakov, yang melakukan penembakan massal Politeknik Kerch , Crimea, tahun 2018. Dan terakhir Natalie Lynn Samantha Rupnow, pelaku penembakan sekolah di Madison, AS, pada tahun 2024.

Sementara itu sosok pelaku ABH yang disebut berinisiasl F berasal dari keluarga yang ayah- ibunya sudah bercerai. Ibunya bekerja di luar negeri, Taiwan, sebagai TKW, dan ayahnya bekerja di usaha kuliner siap saji. ABH F merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Saat ini F dan kakaknya tinggal bersama ayahnya di Cilincing, Jakarta Utara.

Dikabarkan juga kemungkinan ABH merupakan korban perundungan dan bullying sehingga ia sering menyendiri yang agaknya enggan untuk berbaur dengan teman-temannya. Kalau hal ini benar demikian maka sekolah seharusnya bertindak tegas kepada pelaku bullying karena sangat buruk akibatnya bagi korban. Dan, dampaknya seperti yang terjadi seperti saat ini sangat memprihatinakan.

Agak mengherankan juga respon ABH dalam bentuk peledakan yang sungguh luar biasa ini, hanya karena psikologisnya yang tertutup, dan bereaksi cukup keras. Dan, tentunya juga kemampuannya memiliki fasilitas dan kemampuan untuk melakukan aksinya. Kita berharap ini pelajaran yang berharga semoga tidak terulang lagi.      

Arfendi Arif

Arfendi Arif, Redaktur Panji Masyarakat, pengasuh Majalah Inhouse Magazine, dan penulis buku dan biografi. Tinggal di Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button