Suatu hari di tahun 2017 kediaman mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Ahmad Syafii Maarif di Perumahan Nogotirto Elok, Gamping Sleman, Yogyakarta, dikunjungi tamu orang penting dari Jakarta. Tamu itu adalah Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Buya Syafii Maarif kepada pers mengemukakan rasa respeknya pada tamunya itu dengan berkomentar, “Dia (Menhan Ryamizard Ryacudu) adalah prajurit sejati. Dia tidak terkontaminasi politik. Lurus.”
Ryamizard Ryacudu lahir di Palembang Sumatera Selatan pada 21 April 1950, merupakan putra dari Mayjen TNI (Purn) Musannif Ryacudu, seorang tentara pejuang generasi 45. Ryamizard adalah lulusan AKABRI Darat jurusan Infantri tahun 1974.
Prestasinya yang terbilang luar biasa adalah ketika memimpin misi perdamaian Pasukan Garuda XII-B di bawah Komisi UNTAC (United Nations Transitional Authority in Cambodia) tahun 1992. Dalam operasi militer tersebut Ryamizard berhasil membebaskan sejumlah sandera PBB yang ditawan oleh kelompok Khmer Merah di Kamboja. Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi langsung dari Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun pemerintah Australia dan Prancis karena warga negaranya yang diselamatkan.
Sebagai komandan pasukan Ryamizard layak dinaikan pangkatnya menjadi Kolonel. Tetapi ketika itu momennya tidak tepat, sehingga ditunda dan harus menunggu lama. Try Sutrisno, saat itu Panglima ABRI, memanggil Ryamizard. Try Sutrisno berkata, “Mizard, ini memang hakmu, dan Papa tahu kamu layak menerimanya. Tapi untuk kebaikan bersama, Papa minta pengertian kamu. Karena saat ini Papa sedang dicalonkan menjadi Wakil Presiden, jangan sampai ada yang mengira ini aji mumpung. Kenaikan pangkatmu ditunda dulu.”
Dalam promosi karier militernya Ryamizard pernah menjabat Panglima Kodam V/Brawijaya, Panglima Kostrad, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Kepala Staf Angkatan Darat (2002 – 2005), dan jabatan terakhir Menteri Pertahanan Republik Indonesia (2014 – 2019).
Salah satu tikungan dalam perjalanan kariernya sebagai perwira TNI adalah ketika Presiden Megawati Soekarnoputeri menginginkan Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu menduduki posisi panglima TNI menggantikan Jenderal TNI Endriartono Sutarto yang memasuki usia pensiun. Ia dianggap paling tepat untuk menduduki posisi tersebut. Ketika itu Presiden Megawati mengajukan nama calon Panglima TNI kepada DPR ialah Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Ryamizard Ryacudu. Namun, tidak lama kemudian pergantian Presiden dari Megawati kepada Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden SBY mencabut kembali surat yang diajukan pendahulunya ke DPR. Padahal, saat itu, sesuai aturan, Ryamizard menjadi panglima TNI karena DPR tidak menolak ataupun menerima surat presiden yang sudah 20 hari berjalan. Presiden SBY kemudian mengajukan KSAU Marsekal TNI Djoko Suyanto sebagai calon Panglima TNI kepada DPR, yang akhirnya disetujui dan dilantik menjadi Panglima TNI.
Ryamizard adalah prajurit murni dalam arti selama pengabdiannya kepada bangsa dan negara tidak pernah mengemban jabatan sipil pada pemerintahan, selain sebagai Menteri Pertahanan. Karier utamanya selamanya berada di lingkungan TNI. Ia adalah tentara profesional dan patriot bangsa. Salah satu program yang menjadi legacy Ryamizard sewaktu menjabat Menteri Pertahanan adalah mencanangkan program Bela Negara.
Pembinaan karakter dan budi pekerti luhur, selain dari ayahnya (Musannif Ryacudu) yang membekalinya sejak kecil dengan kehidupan bermoral berlandaskan agama, ia kemudian banyak belajar dan bercermin dari ayah mertuanya, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia.
Dalam tulisan berjudul “Sosok Yang Konsisten, Berdisiplin, dan Selalu Berlandaskan Agama” pada buku 70 Tahun Try Sutrisno: Pengabdian Tiada Akhir (2005), Ryamizard Ryacudu sebagai anak menantu maupun selaku prajurit TNI mengungkapkan kesan dan kenangannya tentang Try Sutrisno yang selalu dilihatnya menunjukkan kesamaan antara perkataan dan perbuatan. Sikap Try Sutrisno terhadap orang lain tidak pernah menjelek-jelekkan ataupun membicarakan kekurangan pihak lain. Ia selalu berusaha melihat sisi positif seseorang dan memperlakukan orang lain dengan baik. Nasihat yang selalu diingatnya, “Kalau ada orang berbuat jahat kepada kita dan kita membalasnya dengan kejahatan, berarti kita sama jahatnya dengan orang tersebut. Padahal, Allah pasti membalas perbuatannya,” ujar Ryamizard Ryacudu.
Ryamizard Ryacudu memandang bahwa kalau kita benar-benar melaksanakan dengan baik kehidupan moral yang berdasarkan agama, tidak akan ada KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) di negeri ini, karena semua itu dilarang agama. Kenyataannya, keadaan bangsa kita saat ini sudah melenceng dari garis itu. Karenanya bangsa ini harus kembali ke moral yang berlandaskan agama, yang bukan hanya diucapkan, tetapi juga benar-benar dilaksanakan.

Ia menyadari sebagaimana pesan dari ayah mertuanya agar menjadi tentara yang baik dan profesional, jangan menjadi tentara untuk mengejar pangkat dan jabatan. Karena, pangkat dan jabatan seseorang adalah amanah dari Allah. “Dengan begitu, sebagai menantu, saya tidak ada beban. Yang saya lakukan adalah berusaha menjadi tentara yang baik dan profesional,” tuturnya.
Selesai menjabat Menteri Pertahanan RI yang diamanahkan kepadanya mulai 18 Oktober 2014 sampai dengan 23 Oktober 2019, Ryamizard Ryacudu tidak lagi menduduki jabatan politik dan kenegaraan. Seiring waktu kesehatannya pun mengalami gangguan yang membatasi aktivitasnya.
Setelah menderita sakit beberapa waktu Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu berpulang ke rahmatullah pada Minggu, 31 Mei 2026 di ruang CICU RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibatan Jakarta, Senin 2 Juni 2026, dipimpin oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin selaku inspektur upacara. Kepergian almarhum tentu meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, sahabat, keluarga besar TNI, serta insan pertahanan terutama yang pernah mengenal dan bekerjasama dengan almarhum dalam pengabdian kepada bangsa dan negara. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

