Aktualita

Dari Selandia Baru untuk Palestina

Pada Minggu, 14 Januari 2024, Komite Aksi Bersama untuk Palestina (JACP) di Wellington, Selandia Baru karena situasi yang memburuk di Gaza. Suang itu pukul 13.00 berkumpul untuk melakukan protes Amerika Serikat yang mendukung invasi Israel yang terus berlanjut. JACP dan seluruh pendukung aksi ini berbaris dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di 29 Fitzherbert Terrace menuju Gedung Parlemen.

Termasuk di dalam JACP ini ikut bergabung UMI (Umat Muslim Indonesia) Wellington, yang dipimpin antara lain oleh Siti Aisyah dan Leon Armand. Syakib Bafagih, dari Panji Masyarakat yang kebetulan sedang berada di Wellington saat ini ikut dalam aksi itu.

Juru bicara koalisi, Meghana Amarnath, mengatakan sejumlah rumah sakit di Gaza tidak dapat berfungsi lagi karena kehabisan bahan bakar, dan pasukan Israel telah meningkatkan serangan mereka di bagian Tengah dan Selatan Gaza. Meghana dalam pidatonya menyatakan: “Jika Amerika Serikat serius terhadap korban sipil, menghentikan dukungannya untuk Israel (lebih dari $14 miliar sejak 7 Oktober), dan memberikan tekanan kepada Israel untuk memenuhi kewajibannya hukum terhadap rakyat Palestina, maka konflik ini bisa segera berakhir.”

“Kami juga akan menyoroti tuduhan genosida terhadap Israel yang kini sedang didengar di Pengadilan Internasional di Den Haag. Afrika Selatan meminta akhir segera atas pembantaian ( Genoside) Israel
ini dengan meminta Pengadilan International di Den Haag menetapkan langkah-langkah untuk segera menghentikan kampanye militer Israel di Gaza.”Karena itulah hari ini kami berbaris ke Parlemen,” demikian Meghana Amarnath.

“Pemerintahan John Key ( Perdana Menteri Selandia Baru) pada tahun 2014 pernah memanggil duta besar Israel untuk teguran atas serangannya terhadap Gaza pada tahun itu. Mengingat besarnya skala invasi saat ini dan pembersihan etnis Palestina hingga ke perbatasan Mesir yang kini terjadi, paling tidak Perdana Menteri tersebut harus mengirim perwakilan negara apartheid (baca: Israel ) itu pulang.”

Para penyelenggara Aksi Demo menyoroti peran aktif pemerintah Amerika Serikat dalam membantu dan memungkinkan invasi Israel ke Gaza dengan menyediakan senjata dan bantuan. Amerika Serikat telah memberikan semua senjata yang diminta oleh pemerintah Israel, sambil secara bersamaan dan sia-sia meminta Israel untuk menahan diri.

Sejak 7 Oktober 2023, AS telah mengirim lebih dari $14 miliar ke Israel untuk melanjutkan genosidanya dalam upayanya untuk membersihkan etnis Palestina dari Gaza. Pemerintah Israel tahu kritik AS itu tidak berarti apa-apa bagi mereka.

Israel kini telah membunuh lebih dari 30.000 warga sipil Gaza (menurut organisasi Hak Asasi Manusia Euromed), lebih dari 90% adalah warga sipil, sementara perlawanan terhadap pendudukan Israel baik di Gaza maupun Tepi Barat dianggap sebagai teroris oleh pemerintahan neoliberal barat di seluruh dunia.”

Rakyat Palestina telah mengalami penjajahan Israel, pengusiran massal, pencurian tanah, agresi, dan diskriminasi sejak 1948. Ada ketidakpuasan bangsa Palestina atas tindakan apartheid di tanah air mereka, yang negara-negara barat tidak berbuat apa-apa untuk menghentikannya.”

“Kami dalam koalisi ini menyerukan kepada pemerintah Selandia Baru dan Amerika Serikat untuk secara tegas mengutuk kejahatan terhadap kemanusiaan ini dan mengusir diplomat Israel sebagai langkah pertama untuk menunjukkan ketidaksetujuan mereka yang tulus. Kami juga menyerukan pemutusan semua hubungan ekonomi, budaya, dan militer dengan negara Israel sampai mematuhi hukum internasional. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan para menterinya juga harus diadili sebagai penjahat perang dan diproses sejauh mungkin menurut hukum,” kata Nwghana.

Teriakan-teriakan FREE FREE PALESTINE, STOP STOP GENOCIDE, FROM THE RIVER TO THE SEA, PALESTINE WILL BE FREE, GAZA GAZA DONT YOU CRY, PALESTINE WILL NOT DIE terus disuarakan oleh para peserta Demo sejak di depan Konsulat, sepanjang jalan dan di Gedung Parlemen Selandia Baru.

Laporan: Syakib Bafagih, Wellington, Selandia Baru

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button