Qorun (Qarun), atau Qorah menurut Taurat, berasal dari Bani Israil. Konon nama lengkapnya adalah Qarun bin Yashhar bin Qahits bin Lawi bin Ya‘qub. Dia adalah sosok konglomerat di zaman Nabi Musa alaihi salam. Empat kali namanya disebut dalam Al- Qur’an.
Ada yang mengatakan dia adalah paman Nabi Musa, ada pula yang menyebut bahwa dia adalah sepupunya. Semula Qorun adalah pengikut Nabi Musa, yang secara bertahap mendapatkan kedudukan sosial yang tinggi di kalangan orang Yahudi, karena dianggap termasuk salah satu ahli Taurat.
Suaranya terkenal indah. Kemerduan suaranya dalam membaca kitab Taurat membuat dia sering disebut ‘munawwir’. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Qorun merupakan salah satu dari 70 laki-laki yang terpilih untuk bersama-sama memohon ampun kepada Allah atas dosa kaum Nabi Musa yang telah menyembah patung lembu.
Konon sebelumnya Qorun sangat miskin; kemudian meminta Nabi Musa untuk mendoakan, agar ia diberi harta yang banyak. Doa Nabi Musa dikabulkan Allah. Qorun kemudian memiliki ribuan gudang harta yang penuh berisikan emas dan perak.
Dalam salah satu riwayat dikisahkan bahwa Qorun pernah pamer kekayaan. Dia keluar dengan pakaian yang sangat mewah didampingi 600 orang pelayan, terdiri atas 300 laki-laki dan 300 perempuan. Dijaga 4.000 pengawal dan diiringi 4.000 binatang ternak yang sehat, ditambah 60 ekor bighal (sejenis kuda kecil) yang membawa kunci-kunci gudang kekayaannya.
Kalau kita ikuti kisah Qorun, setidaknya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sikap takabur adalah faktor utama kehancurannya. Secara sadar dia memutus hubungan dengan Allah dan mengatakan, “Sesungguhnya aku diberi harta karena ilmu yang ada padaku.” (QS 28: 78).
Sikap takabur ini muncul ketika dia diperingatkan oleh kaumnya: Janganlah terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Dan carilah negeri akhirat pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, dan janganlah melupakan bagianmu dari dunia; dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS 28: 76-77).
Setidaknya kita bisa mengambil empat pelajaran dari ayat ini. Pertama: jangan pernah berbangga diri, arogan, takabur, atas apa pun yang telah dicapai. Kedua, perlakukan dunia sebagai wasilah, perantara, untuk membangun akhirat; dan hanya ambil secukupnya untuk menjalani masa hidup di dunia. Ketiga, selalu berbuat baiklah pada siapa dan apa saja (bukan hanya ke sesama manusia, tapi juga ke mahluk-mahluk lain dan juga alam semesta), seperti kebaikan yang telah diberikan Allah pada kita. Keempat, jangan pernah berbuat kerusakan, baik bagi sesama manusia, mahluk-mahluk lain maupun alam semesta.
Kalau kita pakai ayat di atas, secara sederhana bisa dijelaskan bahwa sikap takabur, arogan, berbangga diri, merasa bahwa apa yang ada pada dirinya semata karena ilmu dan usahanya sendiri, dengan memutus hubungan dengan Allah; telah mendorong lahirnya sikap kufur nikmat pada Qorun. Harta bendanya tak digunakan untuk mencari akhirat, tak berbuat baik bagi sesama dan bahkan menciptakan kerusakan ke lingkungannya.
Kecuali bagi sebagian kecil, yang kuat imannya; kekayaan dan kemewahan luar biasa ini tentu saja membuat sebagian besar orang berdecak kagum dan bermimpi untuk juga memperolehnya. Mereka menganggap apa yang diperoleh Qorun adalah keberuntungan yang besar. Sehingga mereka berkata: semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qorun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar (QS 28: 79).
Nah, bukankah kita bisa meraba-raba kesamaan watak Qorun pada peradaban kita hari ini? Kapitalisme global (meski sebagian berbaju sosialis, komunis atau lainnya), telah menjadi salah satu dasar utama peradaban kita. Sekadar catatan: sebagai sebuah sistem, entah kebetulan atau tidak, kelahiran kapitalisme menurut sebagian ahli juga lahir dengan cara yang hampir sama dengan yang ditempuh oleh Qorun.
Kapitalisme global yang terbukti memutus manusia dari hubungannya dengan Allah, mendorong orang beramai-ramai mengandalkan materialisme dan melupakan akhirat; membuat mereka lupa menebar kebaikan dan bahkan terbukti menciptakan kerusakan luar biasa, bukan cuma bagi manusia, tapi juga mahluk-mahluk lain dan alam semesta.
Dan bukankah seperti dahulu orang-orang menginginkan mendapat ‘keberuntungan’ seperti Qorun; kapitalisme dengan kemewahan dan kemegahan yang dipamerkannya telah juga membuat setiap orang berdecak kagum dan berlomba untuk bisa menjadi bagiannya? Bukankah setiap kita, diam-diam atau terang-terangan, menginginkannya?



