Aktualita

Gaza, Ramadan di Tengah Kecemasan dan Kelaparan

Senin 11 Maret 2024 merupakan awal Ramadan di Gaza, Palestina. Sejatinya bulan suci dan agung itu dirayakan dengan damai dan khidmat oleh warga Palestina. Namun, apa yang terjadi, penduduk menjalaninya dengan penderitaan, karena perang tidak berhenti dan tidak ada jeda perdamaian sejak perang berkecamuk 7 Oktober 2023 lalu hingga sekarang. Situasi  dengan adanya ancaman jiwa serta kelangkaan bahan makanan menyebabkan rakyat Palestina hidup dalam penderitaan yang entah kapan berakhir.

Situasi di Gaza memang memprihatinkan. Separuh dari 2,3 juta penduduk mengungsi di Rafah untuk menghindari gempuran zionis Israel. Tinggal di tenda sederhana dari plastik mereka mengalami kekurangan bahan makanan dan terancam kelaparan. Ramadan biasanya dijalani dengan kegembiraan, kini wajah buram dan prihatin tergambar di raut muka penduduk Gaza.

Adalah Maha seorang ibu lima anak yang melukiskan rasa duka Ramadan tahun ini. Ia menyatakan bukan pada bulan ini saja ia berpuasa. Tetapi, ia telah berpuasa selama 5 bulan sejak perang mulai berkobar 7 Oktober 2023 lalu. 

“Ya kami tidak melakukan persiapan apapun menyambut Ramadan tahun ini, karena kami telah berpuasa selama 5 bulan,” ungkapnya, melukiskan sulitnya mendapatkan bahan makanan.

Maha mengenang ketika Ramadan dengan situasi normal. Kala itu rumahnya dipenuhi pasokan makanan yang disimpan di kulkas untuk berbuka bersama keluarganya. Tapi, kini itu hanya menjadi kenangan.

“Sekarang sulit mendapatkan makanan untuk keluarga. Makanan tidak ada. Kalau pun ada dijual dengan harga yang mahal. Kami hanya punya makanan kaleng dan nasi,” ujar Maha, yang tinggal di pengungsian Rafah.

Situasi sulit di tengah kecemasan adanya operasi militer di Rafah  memang memaksa warga Gaza menghadapi Ramadan  dengan ketabahan dan kesabaraan. Tentu, tetap berharap terwujudnya perdamaian.

“Memang Ramadan bulan yang penuh berkah. Tetapi, faktanya kehidupan saat ini tidak sebagaimana tahun-tahun sebelumnya,” ujar Nehad El-Jed,pengungsi bersama keluarganya di Gaza.

Nehad berharap, semoga Ramadan mendatang Gaza kembali normal, dan berharap kehidupan berjalan dengan baik.

Penderitaan yang sama diungkapkan oleh Hanaa al-Masry pengungsi Gaza. Ia menceritakan kehidupan yang memprihatinkan pada Ramadan kali ini. Terutama, akibat krisis pangan di kamp pengungsian, sehingga tidak bisa menyiapkan santapan untuk sahur dan berbuka.

“Saya dulu suka menyiapkan makanan berupa keju, selai, kacang-kacangan, dan telur untuk menghidupi keluarga saya sepanjang puasa dan menyiapkan sesuatu yang lezat ketika berbuka, tapi kini semuanya berbeda akibat dampak pemboman Israel,” ucapnya.

Hal yang sama juga terjadi di penampungan PBB di dekat Khan Younis. Hussein al-Awda,  petugas sebuah LSM Internasional mengungkapkan, sejak terjadinya konflik, para pengungsi hanya mengandalkan makan kacang-kacangan untuk bisa bertahan hidup. Sementara harga tepung yang menjadi bahan makanan pokok di Gaza harganya melangit hingga 200 dolar AS per-kantong, setara Rp3,12 juta.

“Buka puasa akan lebih banyak makan kacang. Sementara ada beberapa kacang-kacangan dan buah-buahan kering di pasaran, sejenis makanan yang harus kita santap saat berbuka puasa bulan Ramadan, tapi harganya sangat mahal,” ujar Awda. 

Sementara itu Kepala Badan PBB untuk pengungsi Palestina atau UNRWA, Philippe Lazzarini, mengatakan, bahwa bulan Ramadan seharusnya “menghasilkan gencatan senjata bagi orang-orang yang paling menderita”. Namun sebaliknya ia katakan, “Bagi warga Gaza, Ramadan terjadi ketika kelaparan ekstrim menyebar, pengungsian terus berlanjut dan ketakutan juga kecemasan muncul di tengah ancaman operasi militer di Rafah.”

Organisasi pangan dan pertanian PBB  (FAO) mengungkapkan, saat ini sebanyak 2,3 juta rumah tangga di jalur Gaza menderita kerawanan pangan akibat aksi blokade yang dilakukan militer Israel.

Bahkan, sejak Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu mengumumkan blokade pasokan listrik, bahan bakar, dan bahan pangan, kini ratusan anak dan balita terancam mengalami stunting dan gizi buruk akibat tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup.

Situasi di atas membuat sejumlah bayi di rumah sakit di Gaza utara tewas karena dehidrasi dan kekurangan gizi.

“Enam bayi meninggal di Rumah Sakit Kamal Adwan dan Komplek Medis Al-Shifa di jalur Gaza utara, sementara ada tujuh lainnya di RS Kamal Adwan dalam kondisi kritis akibat kekurangan gizi dan akibat malnutrisi parah,” terang jubir Kementerian Kesehatan Gaza, Ashraf al-Qudra.

Meskipun bantuan makanan datang ke Gaza dari sejumlah negara, tapi bila blokade terus dijalankan tentara pendudukan Israel,  maka diperkirakan setengah juta warga Palestina akan terancam kematian. Kelaparan dan kehausan akan menjadi akut bila berminggu-minggu tidak menerima bantuan.

 

Perdamain yang Mustahil

Perdamaian yang diharapkan antara Hamas atau Palestina dengan Israel seperti sulit terwujud. Sehingga warga Gaza untuk menjalankan puasa Ramadan dengan aman dan tenang bakal banyak rintangan.

Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh mengatakan, pihaknya masih membuka pembicaraan gencatan senjata di Gaza dengan Israel selama Ramadan ini. “ Saya katakan dengan jelas pihak yang memikul tanggung jawab atas tidak tercapainya kesepakatan adalah pendudukan Israel, padahal kami terbuka untuk melanjutkan perundingan,” ucapnya.

Perundingan gencatan senjata antara Hamas dan Israel ditengahi oleh tiga negara yaitu Amerika Serikat, Qatar dan Mesir. Namun kebuntuan terus terjadi meski telah memasuki bulan keenam. Hamas mengajukan syarat gencatan senjata permanen, kemudian penarikan Israel dari Gaza, kembalinya warga Gaza ke rumah mereka dan meningkatkan akses bantuan. 

Secara tegas hal ini ditambahkan Abu Obeida, Jubir Brigade Ezzedine al-Qassam,” Prioritas kami untuk mencapai kesepakatan pertukaran tahanan adalah komitmen penuh untuk menghentikan agresi dan penarikan mundur musuh , dan tidak ada kompromi dalam hal ini,” tegasnya.

Namun, Israel menolak menarik pasukannya, bahkan mengatakan akan tetap melakukan serangan meski telah ada kesepakatan gencatan senjata. 

Begitu sulit mewujudkan perdamaian di Palestina. Sikap keras kepala Israel tidak ada yang bisa menekan dan melemahkan, bahkan ketika melakukan pembunuhan dan pemboman terhadap warga sipil dan rumah sakit. Dan, ketika warga Palestina dan Gaza untuk beribadah puasa Ramadan pun tidak diberi jeda dan kesempatan untuk menjalankan dengan damai dan tenang barang sejenak.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button