Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof. Abdul Mu’ti tiba-tiba berbicara tentang masjid yang dikelola Muhammadiyah. Ia mengimbau agar masjid tersebutdikelola dan dipelihara dengan baik. Ia menyebutkan, bukan hanya kuantitasnya yang mesti dijaga, tapi di dalamnya juga harus dirawat.
Dengan bahasa yang rada menyindir Abdul Mu’ti mengatakan, “Masjid Muhammadiyah harus dikelola dengan baik agar tidak seperti kaleng kh*ng Gu*an. Luarnya biskuit, dalamnya rangginang. Namanya Masjid Muhammadiyah, amaliah ibadah dan kegiatan bertentangan dengan Muhammadiyah,”ujar Mu’ti dalam akun X@Abe –Mukti, Jum’at 10 Mei 2024.
Pernyataan tokoh elite Muhammadiyah di atas bisa dicermati mengingat dua hal. Pertama, Muhammadiyah adalah organisasi yang memiliki amal usaha yang cukup banyak. Termasuk dalam mengelola masjid untuk peribadahan dan kegiatan dakwah. Menurut Ketua PP Muhammadiyah Drs. HA. Dahlan Rais, Muhammadiyah memiliki 12 ribu masjid di Indonesia. Karena itu ia mengingatkan betapa pentingnya pengelolaan masjid untuk basis dakwah.
“Hal inilah yang menjadi alasan kuat perlunya pengembangan masjid Muhammadiyah, juga kita harus menanamkan kepada warga Muhammadiyah “ Gerakan Cinta Masjid”, karena sejatinya masjid adalah sebagai sarana dan basis utama gerakan dakwah Muhammadiyah,” terangnya.
Dahlan Rais menambahkan, sasaran Muhammadiyah di antaranya berharap pemuda sebagai konsentrasi utama peminat masjid dan masjid dengan fasilitas yang ramah difabel. “Saya berharap suatu saat masjid-masjid Muhammadiyah mampu mengakomodir kegiatan kepemudaan,” pintanya.
Pentingnya pemanfaatan masjid secara optimal untuk basis kegiatan dakwah, tentu seiring pula dengan pentingnya menjaga masjid dari kegiatan yang dinilai tidak produktif, bahkan negatif. Dari sudut ini pernyataan Sekretaris Umum Muhammadiyah Abdul Mu’ti memberikan peringatan atau warning pada pengelola masjid Muhammadiyah.
Hal ini nampaknya berkaitan berita yang viral belakangan ini dugaan adanya kelompok yang menumpang dalam masjid Muhammadiyah, namun memberikan tausiyah yang tidak sesuai dengan pandangan Muhammadiyah.
Bahkan, berita yang menimbulkan polemik dan pro kontra yang ditimbulkan oleh Ustadz Muflih Safitra yang videonya beredar luas di medsos mengecam Pengurus PP Muhammadiyah yang juga mubalig Ustaz Adi Hidayat (UAH) tentang musik. Video kecaman dan sanggahan di antara kedua ustadz tersebut ditonton dan memunculkan pro dan kontra di masyarakat.
Hal ini sempat dikomentari oleh Ketua MUI bidang Seni dan Budaya K.H. Dr. Jeje Zainuddin, yang menyebutkan debat soal halal haramnya musik tidak produktif dan hanya berdampak pro dan kontra di kalangan masyarakaat, timbulnya sikap saling membenci dan mencela.
Ia mengatakan, perbedaan pendapat di kalangaan ulama sejak dulu tentang musik karena tidak ada dalil yang qath’I dan pasti, baik dari Al-Qur’an, hadis, maupun ijmak ulama.
“Semua dalil yang dijadikan sandaran bersifat zhanny atau dalalah—yaitu dalil yang penafsirannya bersifat ijtihady atau subjektif. Karena itu sepatutnya kita bersikap tasamuh atau toleran terhadap pendapat yang berbeda,” imbaunya.
Belakangan ini media online Muhammadiyah dibanjiri tulisan tentang gerakan agama kelompok Salafi. Tampaknya ada sebuah kesan bahwa kelompok Salafi perlu diwaspadai yang bisa mengancam perpecahan di Muhammadiyah. Salafi yang diterima di Muhammadiyah karena ormas Islam ini bersifat terbuka, namun ia dianggap membawa pikiran keagamaaan yang tidak cocok di Muhammadiyah dan cenderung merasa diri paling benar.
Tulisan itu mucul di media online Muhammadiyah seperti Tabligh id. dan PWMjateng.com. Penulis yang produktif dan banyak tulisannya tersebar adalah Dr. Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di antara tulisannya berjudul “Muhammadiyah Darurat Salafi; Cara Salafi Mengkritik Ulama Kami Sungguh Brutal; Salaf Ashli dan Salaf Palsu; Visi Salafi 2030-2050 Indonesia Negeri Sunah tanpa Muhammadiyah dan NU. Kemudian ada tulisan Muhammad Roissudin, M.Pd, anggota MajelisTabligh Muhamadiyah Jawa Timur berjudul “Awas! Ada Benalu dan Bunglon di Muhammadiyah”. Juga ada tulisan Dr. Sholihul Huda berjudul “Mengkafirkan Ustaz Adi hidayat : Potret Gempuran Salafisasi Global Muhammadiyah”, dan tulisan Muhammad Fikri Hidayatullah berjudul “Muhammadiyah dan Salafi: Mengurai Titik Temu dan Titik Seteru “.
Kewaspadaan ini memang perlu dilakukan Muhammadiyah agar persatuan dan keutuhan Muhammadiyah tetap terjaga. Muhammadiyah adalah ormas Islam Indonesia yang kontribusi dan sumbangannya buat kemajuan dan pencerdasan bangsa sangat besar. Amal usahanya bertebaran di bidang pendidikan, sosial, ekonomi,agama, dan lainnya. Jika keutuhan dan kiprah positifnya terganggu, tentu yang rugi bukan hanya Muhammadiyah, tetapi bangsa, negara dan rakyat Indonesia.
Karena itu Muhammadiyah perlu waspada dengan paham-paham yang bisa menjadi virus mengganggu amaliah dan bakti positifnya.
