Cakrawala

Kolom Amin Abdullah: Islam Modern Turki

Apa yang bisa diharapkan dunia Islam dari Turki di bawah Recep Teyyp Erdogan?

Seperti diketahui pendiri dan pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) ini pertama kali memenangkan pemilu Turki pada awal November 2002 (dan masih berkuasa sampai sekarang, red). Partai Islam ini mengantongi 34,2% suara, jauh meninggalkan beberapa partai favorit. Perkembangan Turki di bawah Erdogan menarik dicermati. Terutama sejak dikaitkan dengan isu global perang terhadap terorisme Barat, khususnya Amerika, pasca runtuhnya gedung WTC di New York 11 September 2001, yang memberikan kesan hendak memerangi Islam.

Yang perlu diingat adalah, pertama, Islam di Turki jauh dari gambaran-gambaran teroris atau fundamentalisme. Bukan hanya dia telah lama menjadi negeri sekuler tetapi juga anggota NATO meski anggota kelas dua. Turki tentu akan berpikir panjang untuk mengembalikan modernisasi kepada tatanan Islam seperti pernah terjadi pada masa kekhalifahan Usmani. Apalagi Erdogan sendiri juga tetap berkukuh ingin masuk dalam Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). Melakukan radikalisasi Islam akan berarti keluar atau dikeluarkan dari NATO, dan jauh dari peluang diterima MEE. Turki akan kehilangan segala-galanya karenanya. Terasa aneh jika Irael menanggapi kemenangan AKP ini dengan setengah ancaman.

Kedua, modernisasi bangsa-bangsa Islam dan Asia umumnya tidak semulus Barat Turki sendiri memiliki potensi untuk dimungkinkannya proyek modernisasi dibanding negeri-negeri Islam pada umumnya. Di samping letaknya yang strategis di Selat Bosporus dengan kemajuan peradabannya sejak berabad-abad sebelumnya, Turki juga berperan sebagai pmtu gerbang bagi negara-negara Eropa masuk ke Asia —hal yang memungkinkan Turki lebih dulu bersentuhan dengan modernisme. Ini terjadi tak lama setelah revolusi industri melanda Eropa. Segera pada 1800-an M —sebelum kejatuhan Kerajaan Turki Usmani atau Ottoman Empire, Turki di bawah Tanzimat melakukan modernisasi  untuk pertama kalinya.

Tapi hasil modernisasi “uji coba” waktu itu ternyata gagal. Bahkan pada Perang Dunia I Turki jatuh (1920). Turki kembali melakukan modernisasi pada 1923 setelah Mustofa Kemal Pasha berkuasa. Berbeda dengan modernisasi pertarna, modernisasi ala Ataturk itu memang tidak tanggung-tanggung. Maklum, Semenanjung Anatolia yang sejak lama menjadi pusat ekonomi andalan Turki ketika itu telah dikaveling-kaveling beberapa negara pemenang perang seperti Perancis dan Jerman.

Sementara Turki tidak dapat bagian apa-apa. Karena itu modernisasi harus dilakukan secara tuntas dan total. Kemal Pasha bahkan terang-terangan mengatakan “look the west.” Tak heran jika modernisasi Turki adalah persis westernisasi. Fenomena ini bertolak belakang dengan pengalaman Jepang dalam restorasi Meiji yang tetap mempertahankan tradisi dan agama lokal.

Ketiga, dan kemenangan AKP ini adalah kemenangan kelompok Islam moderat. Kelompok ini memang kelompok terbanyak paling kanan di sana. Ini hasil dari interplay nilai-nilai sekuler di satu pihak dan nilai-nilai Islam di pihak lain selama kurang lebih 80 tahun terakhir. Kritik bahwa modernisasi Turki kebablasan itu bukan hanya datang dari luar, tetapi juga dirasakan kalangan muslim di sana. Karena itulah sekelompok muslim memperjuangkan terbangunnya kembali nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Upaya “Islamisasi” telah dilakukan cukup panjang sehingga sempat menghasilkan momentum penting upaya ini pada 1950, 1960, dan 1980. Dan, rupanya hasil perjuangan panjang itu harus mereka rasakan sekarang.

Pentolan Islam moderat baik di partai politik maupun semacam ormas di Turki adalah generasi keempat dan kelima hasil modernisasi Ataturk. Jangan dibayangkan kalau idealisasi Islam bagi mereka identik dengan penegakan syariat Islam. Mereka memikirkan bagaimana value vacuum akibat modernisasi yang kebablasan itu sebatas ingin menghadirkan Islam untuk membangun spiritualitas yang mampu mengatasi kelemahan-kelemahan sekularisme. Itulah yang akan dilakukan kaum reformis Islam Turki, selain agenda reformasi seperti pemberantasan korupsi.

Sepertinya, cara itulah memang yang terbaik. Lepas dari umumnya orang di kota-kota besar seperti di Istanbul suka minum bir, meski penduduknya 99% muslim. Di antara mereka masih banyak yang menjaga kehidupan keberagamaan secara baik. Tradisi salat sunah mereka, kalau ini bisa dijadikan ukuran kepatuhan beragama, tidak bisa ditandingi kaum muslim mana pun.

Penulis: Prof. Dr. M. Amin Abdullah, Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Wakil Ketua PP Muhammadiyah 2000-2005, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2001-2010); memperoleh gelar Ph.D. dari Middle East Technical University (METU), Ankara, Turki (1990).
Sumber: Majalah Panjimas 04. 13 – 26 November 2002

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button