Intelektual NU Prof Dr. Nadirsyah Hosen membuat heboh jagat organisasi Nahdliyin. Di tengah tensi politik yang sedang tinggi menghadapi pilpres dan pemilu legislatif, dosen hukum Universitas Monash Australia ini mengungkap ke publik adanya pertemuan Rais Aam Syuriah PB NU Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PB NU KH Yahya Cholil Staquf dengan para Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PW NU dan PC NU seluruh Indonesia di Hotel Bumi, Surabaya (7/1/2024). Isi pertemuan itu, tegas Gus Nadir, sapaan akrabnya, ada dawuh atau instruksi agar PWNU dan PCNU mendukung paslon nomor urut 2 atau Prabowo-Gibran.
Nadirsyah Hosen yang juga Rois Syuriah Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Australia dan Selandia Baru 2021-2023 mendengar bahwa di Surabaya dikumpulkan oleh PB NU di Hotel Bumi Surabaya para pengurus NU. Yaitu, hadir Rois Aam, Ketua Umum, pengurus wilayah (PW) dan Pengurus Cabang (PC).
“Dalam pertemuan itu ternyata ada dawuh, instruksi atau apapun namanya, yaitu menggerakkan struktur organisasi secara masif sampai ke bawah untuk mendukung calon 02,” ujarnya, dalam video yang kini beredar luas. Pasangan 02 adalah Prabowo-Gibran.
Menurut Nadirsyah, instruksi itu menimbulkan pertanyaan. Dalam tradisi NU, kata Gus Nadir, bila NU mengeluarkan keputusan secara politik, apapun namanya, selalu ada landasan fiqhnya.
“Jadi waktu saya tanya dengan beberapa kiyai sepuh Rais Syuriah yang hadir dalam pertemuan itu, mereka juga bilang, kami tidak menemukan landasan fiqhnya, kenapa harus mendukung 02, sementara yang 02 itu sama sekali tidak ada bau-bau NU-nya ,” jelas Gus Nadir.
Ditegaskan, yang ada bau-bau NU-nya adalah paslon 01 dan 03. “Tapi, kalaupun ada bau-bau NU-nya 01 dan 03 tetap harus ada landasan fiqh-nya yang disodorkan,” ucapnya.
Selanjutnya dijelaskan, mendukung paslon 02 ini karena tidak dijelaskan landasan fiqh-nya menyulitkan para Rais di pengurus wilayah dan cabang unruk menjelaskan kepada umat kenapa harus mendukung 02.
Nadirsyah mempertanyakan, kenapa tidak memprioritaskan pasangan calon yang ada orang NU-nya. “Padahal di 01 ada Cak Imin (Muhaimin Iskandar) yang zuriat (keturunan) pendiri NU KH Bisri Syansuri. Kemudian ada Mahfud MD sahabat dekat Gus Dur. “Sementara Prabowo-Gibran memang bukan tradisinya. Kenapa itu dipilih. Ini yang menimbulkan pertanyaan. Karena itu saya sudah matur (izin) dengan sejumlah kiyai sepuh untuk menggulirkannya ke masyarakat agar mari kita menjaga kembali marwah NU,” paparnya.
Ia menegaskan, harus ada suara-suara lain yang didengar publik bahwa tidak semua warga NU mendukung paslon tertentu. Juga harus ada suara yang didengar elemen bangsa lain bahwa di luar struktur PB NU ada warga NU secara masif ingin memainkan politik kebangsaan, bukan semata politik kekuasaan.
Nadirsyah merasa heran dengan sikap PB NU yang tidak konsisten. “Retorikanya mengatakan netral, ternyata tidak netral. Retorika di luar netral, Tapi ternyata lain di mulut lain di pertemuan itu ,” ujarnya.
Pernyataan Nadirsyah langsung direspon Ketua Umum PB BNU KH Yahya Cholil Staquf. Ia mengatakan, apa yang diungkapkan Nadirsyah merupakan prasangka, karena tidak ada kenyataannya. “Saya kira itu prasangka saja. Karena tidak ada kenyataannya , tidak ada bukti apapun bahwa itu terjadi,” ujarnya.
Gus Yahya mengatakan, prasangka itu tidak bisa dijadikan pegangan. “Parameter NU jelas, baik secara lembaga , maupun secara keorganisasian , yakni tidak terlibat di dalam kampanye atau dukung mendukung capres-cawapres,” tegasnya.
Bantahan juga dikemukakan Sekjen PB NU Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul. Ia menyesalkan pernyataan intelektual NU Nadisrsyah Hosen yang merilis sesuatu tanpa tabayun dulu ke PB NU. Ia menilai pernyataan itu jauh dari fakta sebenarnya.
“Apa yang disampaikan Gus Nadir itu jauh dari fakta. Sebab, dalam pertemuan itu memang ada konsolidasi sekaligus membahas hal-hal strategis,” paparnya.
Gus Ipul menambahkan, Rais Aam dan Ketua Umum.PB NU lebih banyak mendapatkan pertanyaan dari pengurus wilayah, cabang hingga pengurus pesantren.
“Pertanyaan itu banyak muncul dari pengurus wilayah, cabang hingga pengurus pesantren, sehingga dalam kesempatan itu didiskusikan tentang calon-calon pemimpin yang maju dalam Pilpres 2024,” terangnya.
Jadi mana yang benar terkait dukungan paslon capres yang didukung NU ini. Keterangan dari Gus Ipul serta Gus Yahya, atau Gus Nadhir. Karena yang memberi keterangan semuanya Gus?


