Tafsir

Para Nabi dalam Dialog (3): Hud

Umat (para gembong, kafir, sesudah mendengar dakwah Hud): “Kami pikir, kamu ini kurang akal. Kamu juga tergolong pendusta.” Hud: Saudara-saudaraku. Tidak ada kekurangan akal pada diriku. “Aku ini rasul Tuhan Rabbul alamin. (Lalu ia mengucapkan, seperti Nuh, bahwa ia membawa amanat Tuhan, dan seterusnya). Ingatlah, Saudara-saudara, bagaimana Allah menjadikan kita generasi pengganti sesudah kaum Nuh, malahan memberi kita kelebihan dalam hal fisik dan kekuatan. Ingatlah segala ni’mat Allah, agar kita mendapat keberuntungan. (Q. 7:65-69). Pantaskah kamu membangun di setiap bukit gedung-gedung tempat kamu berhura-hura? Kamu dirikan benteng-benteng, agar kamu hidup abadi? Dan kalau kamu menyiksa, kamu menyiksa bagai orang-orang biadab? Bertakwalah kepada Allah. Ikutlah aku. Bertakwalah kepada Dia yang telah menganugerahi kamu semua yang kamu tahu. Menganugerahi kamu binatang ternak dan anak-anak, dan kebun-kebun, dan mata air… Aku sungguh-sungguh mengkhawatirkan jatuhnya azab pada kamu di hari yang dahsyat. (Q. 26:128-135). Mohon ampunlah kepada Tuhan, bertobatlah kepada-Nya, nanti Ia turunkan hujan berlimpah-limpah, dan Ta tambahkan kekuatan baru pada kekuatan kamu, Tetapi jangan kamu berpaling sebagai para durjana.” (Q. 11:52).

Umat: “Sama saja bagi kita: kamu mau berkhotbah atau tidak berkhotbah, Ini ‘kan sudah tradisi sejak orang-orang dahulu? Bagaimana kami bisa mendapat siksa? (Q 26:136-138), (Kepada orang-orang) “Dia ini tidak lain seperti kamu juga. Dia makan seperti kamu makan, dia minum seperti kamu minum. Kalau kamu mengikuti orang yang seperti kamu sendiri, jelas rugi, dong. Coba, bagaimana dia bisa menjanjikan bahwa kalau kita mati, lalu menjadi tanah dan tulang-belulang, kita bisa dikeluarkan lagi? Ambil! Ancaman apa yang dikatakannya kepada kita itu? Hidup ini ya hidup di dunia ini: ada dari kita yang mati, ada juga yang baru lahir. Tidak ada itu kebangkitan sesudah mati. Ini ‘kan cuma orang yang bohong dengan membawa-bawa Tuhan. Tidak, kami tidak percaya. (Q. 23:33-38). (Kepada Hud) “Apakah kamu datang kepada kami agar kami hanya menyembah tuhan yang satu itu saja, dan meninggalkan sesembahan nenek moyang kita? (Q. 7:70). Wahai, Hud. Kamu tidak membawa bukti yang jelas. Karena itu kami tidak akan meninggalkan dewa-dewa kami hanya karena kata-katamu. Kami tidak percaya kepada kamu. Yang bisa kami katakan ialah bahwa sebagian dewa kami sudah membuat miring otakmu.(Q. 11:53-54). Buktikan saja yang kamu ancamkan kepada kami, kalau kamu memang benar.”

https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?gdpr=0&us_privacy=1—&gpp_sid=-1&client=ca-pub-6975646565507985&output=html&h=280&adk=3374043622&adf=525065162&w=600&abgtt=6&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1736810277&num_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=6424621173&ad_type=text_image&format=600×280&url=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2F2024%2F08%2F26%2Fpara-nabi-dalam-dialog-3-hud%2F&fwr=0&pra=3&rh=150&rw=600&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiMTAuMC4wIiwieDg2IiwiIiwiMTMxLjAuNjc3OC4yMDUiLG51bGwsMCxudWxsLCI2NCIsW1siR29vZ2xlIENocm9tZSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJDaHJvbWl1bSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJOb3RfQSBCcmFuZCIsIjI0LjAuMC4wIl1dLDBd&dt=1736810276857&bpp=2&bdt=1371&idt=-M&shv=r20250109&mjsv=m202501090101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3D9c3493f4247f26dc%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MaX8JqtACDibKwh0M9lG65lwWbxQw&gpic=UID%3D00000f5e841bcd04%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MYHgiV2NGjThtXl2g-kHZBhDQl_Aw&eo_id_str=ID%3Db829a250c1d1ed39%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DAA-AfjZDlyLQch3Y-p_fSNO2qbbE&prev_fmts=0x0%2C1200x280%2C600x280&nras=4&correlator=3795661347463&frm=20&pv=1&u_tz=420&u_his=23&u_h=1080&u_w=1920&u_ah=1040&u_aw=1920&u_cd=24&u_sd=1&dmc=8&adx=487&ady=2865&biw=1903&bih=953&scr_x=0&scr_y=129&eid=31088038%2C31089541%2C31089625%2C31089715%2C95344790%2C95350246%2C95335247%2C95347432%2C95348348&oid=2&pvsid=155241001180707&tmod=1711068816&uas=0&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2Ftafsir%2F&fc=1408&brdim=0%2C0%2C0%2C0%2C1920%2C0%2C1920%2C1040%2C1920%2C953&vis=1&rsz=%7C%7Cs%7C&abl=NS&fu=128&bc=31&bz=1&td=1&tdf=2&psd=W251bGwsbnVsbCxudWxsLDNd&nt=1&pgls=CAA.~CAEQBBoHMS4xNDIuMA..&ifi=5&uci=a!5&btvi=2&fsb=1&dtd=573

Hud: “Itu akan terjadi. Kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apa kamu semua ingin berbantah dengan aku mengenai sekadar nama-nama berhala yang kamu sendiri yang menamakannya, bersama bapak-bapak kamu, padahal Allah tidak menurunkan suatu hujjah mengenai itu? (Q. 7:70-71). Aku jadikan Allah saksiku dan saksikanlah oleh kamu sendiri—bahwa aku berlepas diri dari yang kalian sekutukan kepada Allah. Karena itu cobalah laksanakan tipu daya kamu terhadap diriku, tidak usah ditunda-tunda. Aku bertawakal kepada Allah, tuhanku dan tuhan kamu. Tidak ada satu pun binatang melata yang Allah tidak memegang ubun-ubunnya. Ia selalu berada di Jalan Lurus. Tapi sekiranya kamu berpaling juga, nah, sudah aku sampaikan apa yang diperintahkan kepadaku menyampaikannya. Nanti akan datang kaum selain kamu yang akan menggantikan kamu, sementara kamu tidak dapat merugikan Dia sedikit juga. Dia, untuk tiaptiap apa saja, maha pemelihara. (Q. 11: 54-57). Karena itu tunggu sajalah. Aku juga menunggu bersama kamu.” (Q. 7:71).

Dalam sastra lakon, sekadar bandingan, dramaturgi yang bagus menuntut dibangunnya konflik, yang idealnya didukung penggambaran karakter yang kuat, dan yang memungkinkan sebuah naskah mudah dihidupkan. Dialoglah yang mewujudkan konflik itu, sementara monolog membawa perubahan suasana. Karakter, dalam pada itu, komunal maupun personal, membangun konflik “ideologis” model Al-Qur’an itu menjadi konflik manusia. Di situ dipaparkan dengan tajam perbedaan pandangan, keyakinan, dan sikap, antara para nabi itu dan massa, atau mayoritas warga masyarakat, yang menjadikan nabi-nabi itu — yang mencuat di atas manusia rata-rata para pembuat sejarah.

https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?gdpr=0&us_privacy=1—&gpp_sid=-1&client=ca-pub-6975646565507985&output=html&h=280&adk=3374043622&adf=3083859728&w=600&abgtt=6&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1736810277&num_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=6424621173&ad_type=text_image&format=600×280&url=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2F2024%2F08%2F26%2Fpara-nabi-dalam-dialog-3-hud%2F&fwr=0&pra=3&rh=150&rw=600&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiMTAuMC4wIiwieDg2IiwiIiwiMTMxLjAuNjc3OC4yMDUiLG51bGwsMCxudWxsLCI2NCIsW1siR29vZ2xlIENocm9tZSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJDaHJvbWl1bSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJOb3RfQSBCcmFuZCIsIjI0LjAuMC4wIl1dLDBd&dt=1736810276797&bpp=3&bdt=1311&idt=4&shv=r20250109&mjsv=m202501090101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3D9c3493f4247f26dc%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MaX8JqtACDibKwh0M9lG65lwWbxQw&gpic=UID%3D00000f5e841bcd04%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MYHgiV2NGjThtXl2g-kHZBhDQl_Aw&eo_id_str=ID%3Db829a250c1d1ed39%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DAA-AfjZDlyLQch3Y-p_fSNO2qbbE&prev_fmts=0x0%2C1200x280%2C600x280%2C600x280%2C300x600%2C300x600%2C300x600&nras=8&correlator=3795661347463&frm=20&pv=1&u_tz=420&u_his=23&u_h=1080&u_w=1920&u_ah=1040&u_aw=1920&u_cd=24&u_sd=1&dmc=8&adx=487&ady=3835&biw=1903&bih=953&scr_x=0&scr_y=129&eid=31088038%2C31089541%2C31089625%2C31089715%2C95344790%2C95350246%2C95335247%2C95347432%2C95348348&oid=2&pvsid=155241001180707&tmod=1711068816&uas=0&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2Ftafsir%2F&fc=1408&brdim=0%2C0%2C0%2C0%2C1920%2C0%2C1920%2C1040%2C1920%2C953&vis=1&rsz=%7C%7Cs%7C&abl=NS&fu=128&bc=31&bz=1&td=1&tdf=2&psd=W251bGwsbnVsbCxudWxsLDNd&nt=1&pgls=CAA.~CAEQBBoHMS4xNDIuMA..&ifi=6&uci=a!6&btvi=6&fsb=1&dtd=755

Penulis: Syubah Asa (1943-2011), seniman, wartawan dan mufasir. Pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat dan Pemred Panjimas.  Sebelumnya bekerja di majalah Tempo, Editor dan Harian Pelita. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Sumber: Panji Masyarakat,  No.35 Tahun I,  15 Desember 1997

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button