Kehidupan manusia di dunia ini merupakan sebuah paradoks yang saling bertentangan dan mempengaruhi ( interplay and interchange). Tarik menarik di antara berbagai hal baik yang positif maupun yang negatif. Tarik menarik itu harus dihadapi dengan sebuah kekuatan penyeimbang yang mampu mengendalikan sehingga perilaku atau akhlak manusia yang sempurna (insan kamil) bisa tetap terjaga
Siapakah yang punya tugas menjaga pribadi dan jiwa manusia itu supaya tetap menjadi manusia yang paripurna dengan selalu berpegang pada iman yang kuat, akhlak yang baik dan jiwa yang bersih atau fitrah? Jawabannya ada pada hati manusia, atau populer dalam bahasa Indonesia disebut hati. Kalbu atau hati adalah kunci yang menentukan baik dan buruknya akhlak manusia.
Hati adalah sumber moral atau akhlak yang menjadi penentu baik dan buruknya perilaku manusia. Dalam sebuah hadis Nabi dikatakan, “Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging, manakala daging itu baik maka baik pulalah manusianya, tetapi manakala daging itu buruk maka buruk pula manusianya. Ketahuilah, itulah yang disebut hati.”
Kemudian, perlu diketahui dalam totalitas manusia yang menggerakkan perilakunya, Al-Qur’an menyebutnya sebagai nafs (jiwa). Ini disebutkan dalam Al- Qur’an surat Ar-Ra’du ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Selanjutnya dalam surat Asy-Syam ayat 8 bahwa dalam diri manusia ada potensi sifat yang baik dan buruk, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan.” Kemudian dalam kelanjutan ayat ini (ayat 9-10) Allah menyuruh manusia untuk selalu mensucikan dirinya, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. Pada intinya karena manusia adalah makhluk yang dimuliakan Allah potensi kebaikan manusia itu lebih besar dari pada keburukannya, hanya karena daya tarik kehidupan dunia pada hal-hal yang negatif sangat kuat sehingga potensi kebaikan mnusia menjadi tergeser dan tergerus.
Seperti disebutkan bahwa nafs atau jiwa adalah totalitas yang menampung secara luas baik kesadaran maupun alam tak sadar manusia. Setiap orang berbeda luas dan sempitnya kapasitas jiwanya. Menurut Achmad Mubarok (2000: 28), orang yang memiliki kapasitas jiwa ( nafs) yang besar dapat menampung masalah- masalah yang dihadapi secara proporsional. Tetapi, sebaliknya orang yang kapasitas nafs (jiwnya) kecil mudah terguncang bila menghadapi masalah- masalah yang rumit. Namun, bisa juga terjadi orang yang memiliki kapasitas jiwa yang besar, namun sering melakukan perbuatan dosa, maka ia juga akan menghadapi kesulitan mengatasi masalah, dan akan menimbulkan gangguan dan ketidaktenangan pada jiwanya.
Dalam kapasitas jiwa(nafs) yang besar itu terdapat dua komponen yang ikut mempengaruhi perilaku manusia. Yaitu hati atau kalbu manusia, dan kedua hati nurani atau suara batin manusia atau disebut juga bashirah. Hati atau kalbu merupakan sebuah kamar kecil dalam jiwa manusia, sedangkan hati nurani adalah kotak kecil dalam hati atau kalbu manusia.
Hati manusia bersifat tidak konsisten dan suka berubah ubah. Bisa cenderung pada kebaikan dan bisa cenderung pada keburukan. Kalbu dalam bahasa Arab artinya bolak balik atau sifat yang tidak tetap. karena sifat Hati yang demikian maka selalu perlu upaya untuk mensucikannya dari perbuatan dan kecendrungan dari perbuatan dosa yang mengotorinya.
Berbeda dengan hati nurani atau suara batin yang cenderung jujur dan selalu mengingatkan pada kebenaran. Hati manusia atau suara batin bersifat konstan atau tetap menyuarakan kebenaran atau kejujuran. Ia selalu mengingatkan qalbu atau hati supaya tidak berbuat yang tidak baik dan supaya mengingatkan pada kebaikan dan amal shaleh.
Jika hati itu bersih dan jauh dari perbuatan dosa, maka apa yang diingatkan hati nurani mudah diterima dan dipahami. Tetapi, bila qalbu atau hati itu penuh dosa dan gelap maka suara hati atau suara batin itu akan tidak terdengar. Hilang dan samar-samar tertutup oleh berbagai perilaku yang menutupi kesuciannya.
Ibadah bulan Ramadhan salah satu hikmahnya bisa dikatakan bagian dari upaya manusia untuk mensucikan diri. Sehingga ketika Ramadhan usai dan memasuki bulan Syawal kita sudah kembali ke fitrah seperti bayi yang baru lahir.
Namun demikian harus diingat bahwa puasa yang mampu melahirkan efek yang menyucikan atau berdampak besar pada kualitas kesucian diri seseorang adalah puasa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan serius. Dalam hadist Nabi ditegaskan, “Barang siapa yang berpuasa dengan Iman dan Penuh Perhitungan maka Allah akan mengampuni dosanya.” Di sini jelas disebutkan puasa yang dapat menyucikan diri manusia (dihapus dosanya) adalah puasa yang bukan hanya formalitas, tapi puasa yang tentu mampu memotivasi pelakunya menghindari diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak disukai Allah dan menjauhi dari dosa. Dan, tentu bukan hanya pada sast bulan Ramadan, tapi juga menjauhi perbuatan yang tidak disukai Allah di luar bulan Ramadan dan seterusnya.
Secara temporal sebenarnya bulan Ramadan harus dilihat sebagai latihan mensucikan diri atau semacam training saja dalam waktu terbatas. Upaya mensucikan diri atau tazikiyah an-nafs atau penghalusan kalbu atau tahdzib al-qulub harus dilakukan sepanjang waktu. Seperti dikemukakan, Hati yang menyadi sumber moral atau perilaku manusia yang bersifat labil, tidak konsisten dan berubah-ubah mendapat godaan setiap saat untuk melakukan hal- hal yang bersifat negatif yang mengandung dosa. Walaupun ada hati nurani, suara bathin atau bashirah yang mengingatkannya, tidaklah selalu mampu mencegahnya. Karena itu upaya yang tidak pernah henti untuk melakukan pembersihan jiwa atau penghalusan kalbu harus kontinyu dilakukan. Tidak terbatas hanya pada bulan Ramadhan, tapi juga diluar bilan Ramadhan. Upaya- upaya itu bisa dalam bentuk kesungguhan dalam melakukan ibadah wajib atau fardhu seperti shalat lima waktu, juga ibadah sunat seperti shalat sunat rawatib, puasa sunat, zikir yang rutin kepada Allah, dan amal – amal pelengkap lainnya seperti beramal shaleh, sadaqah, infaq, dan perbuatan – perbuatan baik lainnya.
Dengan amalan-amalan tersebut di atas maka puasa yang mampu melahirkan manusia kembali kepada kesucian sesuai ucapan yang kita ungkap pada saat Idul Fitri “Minal aidin wal faizin” yang artinya, semoga Anda termasuk orang- orang yang kembali kepada kesucian. Allahu a’lam.
0 153 4 minutes read

