Cakrawala

17 Agustus yang Sepi

Tujuh Belas Agustus sebentar lagi tiba. Ini saatnya para pedagang kecil mengais rezeki dari trotoar dan perempatan perempatan jalan. Dalam keramaian lalu lintas mereka mencoba peruntungan. Menjual sepasang bendera kecil dengan harapan ada empati dari para pengendara untuk membelinya. Bendera seharga sepuluh ribuan dijual sepanjang hari ditengah polusi asap knalpot kendaraan bermotor dan teriknya matahari bulan Agustus yang siap membakar kulit. Para pedagang musiman perempatan jalan ini harus bergerak lincah di antara kendaraan yang akan segera tancap gas begitu lampu isyarat lalu lintas  berganti hijau.

Di sudut lain. Di bawah pepohonan rindang. Ada juga pedagang kecil lain yang mencoba peruntungan.  Menjual bendera, spanduk dan umbul umbul seharga dua puluh ribuan yang dibentangkan di atas trotoar. Ditengah deru kendaraan bermotor yang melintas cepat di jalan raya, mereka mencoba peruntungan. Sambil mengingatkan para pengendara tentunya, bahwa hari lahir bangsa segera tiba. Bahwa hari terpenting dalam perjalanan sejarah bangsa ini perlu diperingati secara lebih layak. Bukan hanya dengan istirahat di rumah atau jalan jalan seharian karena libur tanggalan merah yang memang cuma sehari (bandingkan dengan jumlah tanggalan merah hari besar keagamaan). Proklamasi kemerdekaan ini perlu dirayakan, minimal dengan spanduk atau umbul umbul di pagar rumah. Bukan hanya dengan menaikkan bendera satu tiang penuh atas perintah Lurah.

Di tempat lain, ada pula pedagang kecil lain yang berjalan seharian menyusuri lorong lorong kota dengan seikat bambu dipundak. Dalam terpaan angin kencang dan sengatan matahari bulan Agustus, mereka mencari sesuap nasi yang cuma sekali setahun dengan berkeliling menjajakan bambu seharga dua puluh ribuan. Bambu ini diperlukan sebagai kelengkapan umbul umbul. Tanpa bambu, umbul umbul tidak bisa diikatkan di pagar rumah.

Tiga pemandangan khas yang mewarnai hari hari menjelang 17 Agustus ini bisa jadi refleksi penting bagi kita semua. Bahwa untuk merayakan hari baik yang merobah nasib bangsa yang dijajah selama tiga ratus lima puluh tahun menjadi bangsa yang merdeka, kita sampai sampai membutuhkan kehadiran orang orang kecil ini. Padahal ini hari lahir kita semua. Lahir baru sebagai sebuah bangsa yang merdeka.

Kalau hari ulang tahun pribadi dirayakan meriah bahkan seringkali dengan pesta pora, mestinya ulang tahun bersama yang membuat kita ada seperti sekarang ini juga diperingati secara meriah, tidak kalah dari pesta ulang tahun pribadi.
Sayangnya itu semua tidak terjadi.

Kemerdekaan yang diperoleh dari pengorbanan para pejuang kemerdekaan dulu, sekarang seperti bukan lagi sesuatu yang istimewa. 

Bandingkan semua ini dengan pemandangan khas ketika hari besar keagamaan tiba. Gemerlap lampu  terlihat di mal mal besar yang menjual berbagai pernak pernik dan kebutuhan khusus perayaan. Parsel berisi kue, minuman dan buah-buahan dalam berbagai kemasan cantik dengan harga ratusan ribu rupiah tersedia di sana. Pelayan menggunakan busana khas yang kadang terlihat aneh dan asing karena tidak mencerminkan kekayaan budaya sendiri.


Dan pengunjungpun dengan mudah merogoh kantong untuk membeli semua yang ditawarkan. Entah karena memang yang dibeli itu dibutuhkan atau karena diskon besar besaran yang ditawarkan  si pemilik tempat usaha yang sedang cuci gudang (sayangnya cuci gudang tidak terjadi menjelang 17 Agustus).

Atau bandingkan perayaan ini sekarang dengan apa yang terjadi dulu.
17 Agustus ketika itu jadi hari besar yang dinantikan seluruh anak bangsa.
Dua bulan sebelum hari baik itu tiba, Pak Lurah sudah menyurati seluruh warga untuk lakukan persiapan. Bersih bersih rumah. Dekor pagar dengan nuansa merah putih. Kumandangkan lagu lagu perjuangan. Cerdas cermat antar siswa dengan tema perjuangan. Pertandingan sepak bola antar kelurahan yang kadang berakhir ricuh karena warga terlalu bersemangat bela kelurahannya. Pameran dan pawai pembangunan keliling kota. Gapura Dirgahayu RI di seantero kota. Dan lain lain. Termasuk salam Merdeka disetiap perjumpaan yang sekarang jarang terdengar karena sudah digantikan salam keagamaan 6 agama resmi yang diakui pemerintah. Padahal masih banyak agama asli Nusantara. Padahal salam keagamaan itu justru yang mengingatkan adanya perbedaan di antara kita semua. Hidup dalam sekat sekat agama yang dindingnya semakin menebal.

Berangkat dari keprihatinan ini, Forum Pembauran Kebangsaan atau FPK Provinsi NTT sebagai forum berhimpunnya semua paguyuban etnis mencoba menghidupkan kembali apa yang semakin hilang selama ini.


Untuk ketiga kalinya secara berturut-turut FPK bersama seluruh paguyuban etnis di Kota Kupang akan merayakan hari ulang tahun RI dengan berbagai kegiatan.
Ada pagelaran budaya di mana semua paguyuban etnis akan menampilkan keunikan khas daerahnya . Ada malam renungan atau tirakaatan. Ada lomba lomba ketangkasan jenaka untuk meningkatkan keakraban. Ada tarian massal daerah NTT yang terkenal kaya budaya. Dan lain lain.


Seluruh rangkaian acara akan berpuncak pada tanggal 17 Agustus dengan upacara mengenang detik detik proklamasi dengan protap resmi upacara kenegaraan lengkap trumpet, grenderang dan paskibra.

Di samping ingin membangkitkan semangat nasionalisme, perhelatan akbar bersama ini diharapkan bisa lebih meningkatkan keakraban antar sesama saudara sebangsa. Kalau selama ini umumnya upacara 17 Agustus hanya dihadiri para pejabat, undangan dan sebagian ASN di alun alun rumah jabatan atau di halaman kantor instansi pemerintah, dengan perayaan bersama seluruh paguyuban etnis ini diharapkan semua orang akan bisa turut serta merayakan dan merasakan arti penting kemerdekaan. Sebab perhelatan ini melibatkan seluruh paguyuban etnis. Dan tidak ada seorangpun yang terlahir tanpa etnis.

Hari ulang tahun proklamasi  harus jadi sebuah perayaan akbar bersama agar semangat nasionalisme dan persaudaraan antar sesama saudara sebangsa tetap tumbuh dan terawat baik.
Merdeka!

Penulis: Theodorus Widodo, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) NTT

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button